[ Senin, 08 Februari 2010 ]
Dua Truk Terjebak Lahar Dingin
LUMAJANG - Hujan deras yang mengguyur puncak Gunung Semeru dua hari berturut-turut sejak Sabtu (6/2), menyebabkan banjir lahar dingin Semeru di Sungai Rejali, Pasirian. Akibatnya, dua truk sempat terjebak arus air dari puncak gunung tertinggi di Pulau Jawa tersebut.
Seorang saksi mata Abdurrahman, warga setempat, menuturkan, dua truk tersebut terjebak dalam wkatu yang berbeda. Kejadian pertama terjadi Sabtu sore. Truk pertama yang terjebak lahar dingin adalah truk yang mengangkut pasir dari Sungai Rejali.
Saat kejadian, lanjut dia, truk tersebut sebenarnya sudah terisi penuh pasir. Hanya, begitu hendak keluar dari sungai, tiba-tiba lahar dingin mengalir deras. Karena debit air tiba-tiba meninggi, sopir truk yang bernama Abdul Hadi langsung keluar dari kabin truk dan berupaya menepi ke pinggir sungai. Sedangkan truk dibiarkan di tengah sungai.
Pria asal Tanggul tersebut mengaku, truknya sempat terseret hingga 10 meter. Karena lahar dingin cukup besar, dia hanya pasrah dan memilih menunggu debit air menurun. Truk milik warga Tanggul, Jember ini baru bisa dievakuasi pada malam hari.
Lalu, kemarin (7/2) giliran truk yang memuat 24 orang buruh tani hampir terguling di Sungai Rejali. Truk dari Desa Bago, Pasirian, tersebut hendak menuju Dusun Krajan, Desa Bades, Pasirain. Dua desa tersebut hanya dipisahkan Sungai Rejali.
Sama dengan truk yang sehari sebelumnya terjebak, jelas Rahman, saat truk berada di tengah sungai, tiba-tiba debit air Sungai Rejali dari puncak Semeru datang dengan deras. Truk yang memuat buruh tani tersebut oleng. Beruntung, truk yang terjebak derasnya air sungai tersangkut batu besar sehingga tidak sampai terguling. "Kalau tidak ada batu, mereka bisa terseret arus," ungkapnya.
Para penumpang, kata Rahman, juga tidak sampai terjatuh ke Sungai Rejali karena berhasil berpegangan pada bak truk. Truk dan seluruh penumpang akhirnya bisa diselamatkan.
Jika tak ada banjir, warga setempat biasa melintasi Sungai Rejali. Mereka adalah warga dari Desa Bago yang hendak ke Desa Bades, atau sebaliknya. Bahkan, truk penambang pasir juga bisa turun ke sungai untuk mengambil pasir. Saat musim hujan, salah satu sungai yang menjadi jalur lahar Semeru itu rawan terjadi banjir lahar dingin.
Ketua Satlak Penanggulangan Bencana Wisu Wasono Adi dan Kepala SAR Nugroho Dwi Atmoko sama-sama tidak bisa dikonfirmasi. Meski ponselnya aktif, saat dihubungi tidak ada jawaban dari kedaunya. (wan)