[ Selasa, 09 Februari 2010 ]
Maret, Mitan Subsidi Nihil
Usaha Keripik Singkong Terancam
BANYUWANGI - Usaha kecil menengah (UKM) keripik singkong di Banyuwangi mengalami kesulitan untuk mendapatkan minyak tanah (mitan). Saat ini, UKM itu terpaksa beralih menggunakan gas elpiji.
Penggantian bahan bakar itu membuat para pelaku industri kecil terpaksa menurunkan volume produksi. Tak ayal, kini mereka kesulitan memenuhi permintaan pasar.
Untung, 36, pemilik UKM keripik di Kecamatan Giri mengatakan, gas elpiji tidak mampu memberikan efek panas di penggorengan. Proses menggoreng dan merebus singkong menjadi lebih lambat dibanding memakai mitan. Akibatnya, hal itu berimbas pada penurunan produksi. ''Saat memakai mitan, produksi bisa mencapai 20 kuintal per hari, maka setelah sebulan memakai gas elpiji, kami harus puas hanya memproduksi 10 kuintal keripik sehari,'' tuturnya kemarin.
Untuk proses produksi keripik singkong, beber Untung, biasanya butuh 300 liter mitan per hari. Namun, sejak pertengahan November 2009, kebutuhan itu tidak mampu terpenuhi. "Karena pangkalan membatasi pembelian mitan 1 hingga 2 liter per orang," keluhnya.
Akhirnya, Untung memilih menggunakan gas elpiji. Setiap hari, 12 tabung elpiji dipakai untuk mengolah keripik singkong.
Dengan penurunan volume produksi tersebut, Untung mengaku kesulitan memenuhi permintaan pasar. Selama ini, banyak yang mencari keripik singkong. ''Namun, karena tidak mampu memenuhi permintaan, beberapa pelanggan akhirnya berhenti membeli keripik milik saya,'' tuturnya.
Bahkan, permintaan pelanggan sempat berhenti, dan pelanggan dari luar Kecamatan Banyuwangi berkurang.
Hingga kemarin, Untung kerap kesulitan mendapatkan mitan. Satu dari dua kompor yang dipakai memproduksi terpaksa beralih menggunakan gas elpiji. Namun, agar tetap mendapatkan mitan,Uuntung terpaksa membelinya di pengecer seharga Rp 8.500 per liter. Padahal, sebelum terjadi penarikan mitan, dia cukup membeli di pangkalan seharga Rp 3.000 per liter.
Sementara itu, mulai Maret 2010 Pertamina tidak lagi memasarkan mitan bersubsidi. Praktis, warga tidak bisa lagi menikmati keberadaan mitan murah. Nantinya yang beredar di pasaran adalah mitan nonsubsidi yang dijual dengan harga keekonomian atau mengikuti perkembangan minyak dunia.
Sales Representatif Retail Pertamina Malang Ketut Permadi mengatakan, penarikan mitan bersubdisi hingga Februari mencapai 80 persen. Praktis,mitan bersubsidi yang masih beredar di pasaran tinggal 20 persen. Harga mitan bersubsidi di pengecer, sebut dia, masih sekitar Rp 6.500 per liter. Sejauh ini, mitan bersubsidi masih ada di pasaran. ''Bulan depan sudah tidak ada mitan bersubsidi,'' janjinya.
Ketut menambahkan, penjualan mitan nonsubsidi sudah ditangani agen mitan nonsubsidi. Harganya mengikuti harga pasar. "Mereka menjual melalui pangkalan khusus mitan nonsubsidi di setiap kelurahan,'' terangnya.
Dijelaskannya, harga mitan nonsubsidi berubah dua minggu sekali. Sesuai hukum pasar, apabila permintaan meningkat maka harga akan mahal. Pantauan koran ini menyebutkan, mitan nonsubsidi di pasaran dipatok Rp 8.500 per liter.
Salah satu pemilik pangkalan di Jalan Yos Sudarso, Hendrik mengatakan, saat ini tokonya masih menjual mitan subsidi yang dipasok langsung dari Pertamina. Harganya Rp 7.000 per liter. ''Sayangnya jumlahnya terbatas,'' sesalnya.
Sementara itu, mahalnya harga mitan di pasaran membuat beberapa warga mengeluh. Santi mengatakan, harga yang semakin mahal membuat pengeluarannya sebagai ibu rumah tangga semakin meningkat. ''Lha, bagaimana wong saya pakai tabung elpiji 3 kg takut meledak,'' tuturnya.
Santi mengakui, saat ini masih belum terasa berat karena masih ada stok mitan bersubsidi. ''Bagaimana dengan bulan depan, saya tidak tahu. Sebagai masyarakat kecil, bisanya cuma mengeluh,'' tukasnya. (lla/irw)