Senin, 06 September 2010
 
   Radar Jember
[ Selasa, 09 Februari 2010 ]
Belajar, Siswa Lesehan Beralas Terpal
JEMBER - Kendati sudah berdiri sejak tiga tahun lalu, kondisi SMPN 14 Jember yang terletak di Kelurahan Antirogo, Sumbersari, masih memprihatinkan. Lantaran kekurangan ruangan kelas, beberapa siswa terpaksa menjalani kegiatan belajar mengajar di musala dan perpustakaan sekolah.

Dengan jumlah siswa minimal 40 per kelas, siswa kelas VII harus duduk lesehan dengan alas terpal saat menerima pelajaran setiap harinya.

Menurut Wakil Kepala SMPN 14 Jember, Misni SPd, pihak sekolah masih membutuhkan 3 kelas tambahan untuk siswa yang kini memanfaatkan musala dan perpustakaan sekolah untuk proses KBM. "Kami masih membutuhkan 3 kelas tambahan untuk kelas VII dan kelas VIII," ujarnya.

"Sekolah kami kan terbilang baru. Jadi tahun ini hanya 1 kelas IX yang keluar. Sedangkan untuk siswa baru, kemungkinan kami akan membuka tiga sampai empat kelas baru," tambahnya.

Dikatakan, saat ini, baru ada tiga kelas resmi yang ditempati siswa kelas VIII dan kelas IX. Masing-masing, ada dua kelas VIII dan satu kelas IX. Sisanya, yang dua kelas VII harus menempati kelas darurat di musala dan perpustakaan.

"Kami menginginkan bantuan dari pemerintah daerah untuk menambah kelas kami. Sebab, hal ini sangat berpengaruh pada situasi belajar mengajar," ungkap Misni.

Masih menurut Misni, dengan ruangan belajar yang sempit dan harus ditempati 42 murid, ruangan perpustakaan terasa sangat sempit dan panas. Apalagi dengan keterbatasan bangku yang membuat murid-murid harus duduk lesehan di terpal, menjadikan konsentrasi belajar siswa terpecah.

Hal ini diakui Akhmad, salah seorang murid kelas VII. Dirinya mengaku tidak begitu nyaman menempati perpustakaan sebagai tempat belajar mengajar. Selain sempit, kata dia, tempat itu diakuinya panas dan terlalu berjubel.

Akhmad ingin belajar seperti murid di kelas VIII dan kelas IX yang bisa duduk di bangku seperti layaknya siswa pada umumnya.

"Kami juga ingin seperti itu. Tapi karena kata Pak guru kelasnya kurang, kami harus belajar di perpustakaan. Sebagian teman yang lain, belajar di musala," katanya. (mg-1)