[ Rabu, 29 April 2009 ]
Melihat Upaya Pengondisian Warga di Lokasi Positif Flu Burung
Diwanti-wanti Tak Sentuh Unggas Mati
Di Indonesia dan dunia, wabah flu burung sudah menyebabkan banyak kematian karena penanggulangan yang terlambat dan menular ke manusia. Warga harus tahu risiko wabah itu supaya tak ceroboh dan berakibat fatal.
NUR RAHMAD AKHIRULLAH, Bangkalan
---
KABAR dari mulut ke mulut mengenai matinya hewan ternak unggas di wilayah Kecamatan Kamal sesungguhnya sudah beredar sejak Kamis (23/4) lalu. Bukan hanya di Desa Gili Timur, warga yang ayamnya mati secara tiba-tiba juga terjadi di daerah Desa Telang hingga Desa Kebun. Kecurigaan warga mulai memuncak karena ternak mereka terus mati dari hari ke hari.
Dari beberapa daerah yang berkembang isu flu burung, pihak terkait langsung menuju lokasi yang sudah dilaporkan oleh warga. Laporan itu sesungguhnya tidak berasal dari si empunya ternak ayam. Namun, dari warga setempat yang tahu banyak ayam mati mendadak dan khawatir tertular.
Pengalaman yang sama diceritakan oleh Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Dispertanak) Bangkalan mengenai mengapa bukan si empunya ayam yang melapor kejadian itu. "Dulu kita pernah dapat laporan di (kecamatan) Burneh. Katanya ada beberapa ayam mati mendadak di lokasi itu. Setelah kami datangi, yang punya ayam mengaku ayam-ayam sakitnya sudah disembelih dan dijual sebagian," kenangnya.
Mereka tahu, imbuhnya, kalau ada yang positif maka unggas harus dimusnahkan. Hal itu kemungkinan besar menjadi latar belakang mengapa warga pemilik unggas enggan melapor dan segera menyembelih atau menjual ayam yang mungkin terinfeksi virus flu burung.
Kondisi hampir sama juga terjadi saat tim Partisipatory Desease Respon and Surveylent (PDSS) datang ke lokasi yang dilaporkan di Kampung Kretek, Desa Gili Timur, Kecamatan Kamal. Ketika tim perpanjangan tangan World Health Organization (WHO) menanyakan pada pemilik unggas tentang laporan kematian unggasnya, lidah mereka kelu.
"Ada yang mati mulai kapan? Kenapa kok tidak melapor?" tanya petugas PDSS pada beberapa warga yang unggasnya mati sejak seminggu lalu. Tak ada yang menjawab pertanyaan itu. Bahkan, Tina, Sutri, Asmira dan Usman yang terperanjat begitu tahu ayam-ayam mereka mati karena flu burung.
"Kita menemukan unggas mati. Hasil tesnya positif terinfeksi flu burung," ujar Ali Makki, bagian dari tim PDSS itu sambil meminta tim lainnya untuk memanggil warga sekitar lokasi positif flu burung. Tim memberikan pengetahuan lebih lanjut mengenai flu burung. Alat peraga berupa gambar ditunjukkan pada mereka agar risiko menular pada manusia bisa dihindari.
"Pokoknya bapak ibu sekalian jangan sampai menyentuh ayam mati tanpa perantara. Kalau terlanjur, tangannya langsung dicuci dengan deterjen. Jangan sampai dimakan, kalau bisa dibakar lalu dikubur," ujar Ali pada warga saat memberikan pengarahan. Hal itu dilakukan sebagai penanganan pertama. Selanjutnya beberapa negoisasi akan dilaksanakan, termasuk untuk memusnahkan unggas di radius 200 meter dari lokasi. (*)