Selasa, 09 Februari 2010
 
   Radar Jember
[ Rabu, 29 April 2009 ]
Penyebaran Flu Burung Sulit Dibendung
Tercatat 17 Kecamatan Positif Terjangkit

JEMBER - Penyebaran virus flu burung di wilayah Jember kian hari semakin sulit dibendung. Buktinya, bila beberapa hari sebelumnya Dinas Peternakan (Disnak) Pemkab Jember hanya melansir ada 14 kecamatan yang terserang flu burung, kemarin wilayah yang dinyatakan positif flu burung semakin bertambah.

Berdasar data disnak, sudah ada 17 kecamatan dari 31 kecamatan di Jember yang positif terjangkit virus flu burung ini.

Hal ini diakui drh Sudarsono, kepala Bidang Kesehatan Hewan pada Disnak Jember. Menurut dia, 17 kecamatan yang terserang flu burung meliputi Kecamatan Kalisat, Panti, Jenggawah, Ajung, Pakusari, Sumbersari, Tempurejo, Mumbulsari, Sukorambi, Patrang, Ambulu, Tanggul, Kaliwates, Jelbuk, Arjasa, Sukowono, dan Puger.

Menyebarnya virus flu burung di 17 kecamatan itu, kata dia, kemungkinan besar masih akan menyebar terus ke kecamatan lain. Karena itu, dia mengimbau kepada masyarakat yang memiliki ternak ayam atau unggas untuk selalu menjaga kebersihan kandang. Selanjutnya, jika ada ayam atau unggas yang mati mendadak, harus segera dilaporkan dan dimusnahkan.

"Caranya disembelih dulu, baru dipotong. Jangan dibuang ke sungai," katanya. Sebab, selama ini banyak warga yang membuang ayam yang mati ke sungai, seperti kasus flu burung di Puger. Padahal, kata dia, aliran sungai itu banyak yang digunakan untuk aktivitas warga sehari-hari. "Seperti, memandikan sapi, dan aktivitas mandi, cuci, kakus (MCK) warga sekitar sungai," ujarnya.

Kendati penyebaran sudah meluas, pihaknya meminta warga agar tidak panik. Meski ada instruksi untuk membakar habis hewan ternak, sebenarnya masih bisa dibiarkan tetap hidup, asal ternak tersebut mendapat suntikan kekebalan atau vaksinasi. Langkah tersebut, menurut dia, merupakan salah satu dari lima langkah pencegahan penularan flu burung dari Dinas Peternakan Provinsi Jatim.

Empat langkah lainnya adalah dengan pemberian disinfektan untuk mencegah penyebaran virus H5N1, memberantas sumber penularan, wilayah sumber penularan dijauhkan dari penduduk atau hewan ternak unggas yang lain, serta memberi alat semprot disinfektan dan vaksin pada masyarakat, sehingga dapat digunakan sewaktu-waktu.

"Selain pencegahan dengan cara itu, masyarakat juga harus menjaga kebersihan diri," lanjutnya. Misalnya, mencuci tangan dengan sabun setiap bersentuhan dengan unggas. Selain itu, pakaian harus langsung dicuci, mengonsumsi produk makanan dari unggas dengan melalui proses pemanasan lebih dulu. Seperti perebusan selama 1 menit dengan suhu 80 derajat celsius, 30 menit dengan suhu 60 derajat celsius, khusus untuk telur, direbus 45 menit dengan suhu 60 derajat celsius.

"Nah, dalam kondisi ini, untuk sementara jangan minum jamu dengan telur mentah. Kalau mau menanggung risiko mati mendadak, ya nggak masalah," katanya.

Terkait adanya penyebaran virus sejenis, yang menyerang hewan ternak babi atau flu babi (H1N1), Sudarsono mengaku belum mendapat instruksi dari Dinas Peternakan Provinsi Jatim.

"Di Jember, peternakan babi memang hanya ternak rakyat. Namun, kami upayakan untuk mulai meningkatkan kewaspadaan dengan menjaga kebersihan kandang dan segera memberi tahu disnak jika ada ternak yang mati mendadak," katanya.

Untuk Jember, kata dia, peternakan rakyat babi ada di Desa Rejoagung, Kecamatan Semboro, Desa Sabrang, Kecamatan Ambulu, dan Desa Wonorejo, Kecamatan Kencong. Kebanyakan, peternakan ini hanya mengembangbiakkan 5-10 ekor babi saja.

Sementara itu, pantauan Erje di lapangan, jumlah ayam warga yang mati mendadak, semakin banyak. Kemarin, giliran ayam milik delapan warga di RT 03/ RW II di Dusun Krajan I Desa Grenden, Kecamatan Puger, yang terserang flu burung.

Menurut Agus Cahyono, 41, warga Desa Grenden, setelah ayamnya mati langsung dikubur di belakang rumah. Meski begitu, sebelum diperiksa petugas, dirinya belum bisa memastikan apakah penyebabnya flu burung atau sebab lain.

Kondisi serupa dialami Yanto, 37, yang masih tetangganya. "Ada 7 ayam yang mati tiga hari lalu," ujarnya. Dikatakan, tak banyak warga yang mengetahui jika ada penyebaran flu burung.

"Sebagian warga tahunya ayam miliknya mati karena diracun orang. Sehingga ayam yang mati itu tidak dikubur, melainkan dibuang ke sungai samping rumah," paparnya.

Kenyataannya, setelah dilakukan pengecekan oleh disnak, ternyata wilayah Desa Grenden, Kecamatan Puger, dinyatakan positif terserang flu burung. Langkah pencegahan pun dilakukan supaya virus flu burung tidak semakin menyebar. Salah satunya dengan melakukan penyemprotan kandang milik warga. Petugas juga melakukan sosialisasi kepada warga lewat pengajian di desa tersebut.

Penyebaran virus flu burung ternyata juga menyerang wilayah perkotaan. Salah satunya terjadi di kawasan RT 03/RW I Jalan Manggar Gang XII Lingkungan Gebang Poreng, Kelurahan Gebang, Kecamatan Patrang. Sedikitnya 75 ekor ayam milik Faisal, Jumai Ahmad, dan Saeful mati mendadak sejak seminggu lalu.

Menurut Faisal, setiap hari, ada 4-5 ayam yang mati. Ini ditandai dengan keluarnya lendir di mulut ayam. "Ayam yang mati oleh warga sebagian dikubur dan sebagian lagi dibuang ke sungai," katanya.

Sementara itu, drh Siti Nurul, Kasi Keswan pada Disnak Pemkab Jember mengatakan, terkait menyebarnya virus flu burung di Desa Puger Wetan, pihaknya sudah mendatangi lokasi kejadian.

"Namun dari dinas belum sempat melakukan tes terhadap ayam yang mati tersebut," ujarnya. Ini lantaran, warga telanjur membuang ayam ke sungai. "Sehingga, petugas kesulitan melakukan tes untuk menentukan positif dan tidaknya," paparnya.

Kendati begitu, disnak sudah memberikan obat agar warga bisa melakukan penyemprotan sendiri. Ini mengingat, jumlah petugas dari disnak terbatas. "Apalagi kasusnya terjadi di mana-mana," ungkapnya.

Khusus kasus flu burung di Desa Grenden, pihaknya langsung terjun ke lapangan, setelah menerima laporan dari warga. "Ayam yang positif terjangkit virus flu burung langsung dibakar dan dikubur," katanya. (lie/jum)