[ Kamis, 09 September 2010 ]
Hajar Wartawan, Dandim Dicopot
SOLO-Hanya dalam tempo 1 x 24 sejak dilaporkan memukuli wartawan, Komandan Kodim (Dandim) 0727 Karanganyar Letkol (Inf) Lilik Sutikna langsung dicopot dari jabatannya, kemarin (8/9). Pencopotan ini atas instruksi Kodam IV Diponegoro yang ditujukan kepada Danrem 074/Warastratama Kolonel (Inf) Abdul Rahman Kadir.
"Sesuai Surat Perintah Pangdam IV Diponegoro Nomor 1375/A9/2010 per 8 September ini (kemarin) menyatakan bahwa Lilik sudah tak melaksanakan tugas sebagai Dandim Karanganyar sampai tanggal yang tidak bisa ditentukan," ujar Abdul Rahman Kadir kepada Radar Solo di ruang kerjanya kemarin (8/9).
Meski sudah dicopot dari jabatan Dandim, namun proses hukum terhadap Lilik tetap berjalan. Hasil pemeriksaan kata Abdul Kadir memang terbukti jika Lilik melakukan pemukulan ataupun tindakan tak terpuji kepada wartawan Harian Umum Solopos Triyono, pada 1 September lalu.
Untuk sementara jabatan Lilik akan diisi oleh pelaksana harian Dandim Mayor (Inf) Kuncoro. Dia sendiri sehari-hari menjabat kepala staf Kodim (Kasdim) Karanganyar. Sebelumnya, ratusan wartawan Solo dan sekitarnya mendatangi Korem 074/Warastrama untuk beraudiensi dengan Danrem. Para wartawan mendesak agar Lilik dicopot dari jabatannya sebagai Dandim Karanganyar. Sebab, tindakan Lilik sudah jelas-jelas telah melakukan tindak pidana berupa penganiayaan terhadap wartawan.
Rombongan wartawan diterima langsung oleh Danrem dan diajak berdialog di aula makorem. Koordinator Forum Wartawan Surakarta (FWS) Eddy J. Soetopo langsung menyerahkan pernyataan sikap kepada Danrem. Inti dari pernyataan sikap ini adalah segera memproses hukum atas Lilik Sutikna secara transparan terkait tindakan pemukulan terhadap Triyono, wartawan Harian Solopos yang bertugas di Karanganyar.
Tak hanya itu, wartawan juga menuntut pencopotan Lilik dari jabatannya. Begog D Winarso, ketua Dewan Kehormatan PWI Cabang Solo mendesak Danrem untuk mengusut tuntas kekerasan yang dilakukan oleh Lilik Sutikna sesuai hukum.
Sementara itu, aksi solidaritas terhadap Triyono juga muncul di Sragen. Jurnalis yang tergabung dalam Komunitas Pers Sragen (Kompres) menggelar unjuk rasa di kantor Kodim 0725 Sragen kemarin (8/9).
Dalam aksi yang belangsung singkat itu, sejumlah jurnalis menenteng sejumlah poster bertulis kecaman terhadap segala bentuk tindak kekerasan. Triyono dihajar Komandan Kodim setelah membuat tulisan aliran dana pembangunan Griya Lawu Asri (GLA) Karanganyar yang diduga mengalir ke Kodim 0727 Karanganyar.
Wakil Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Surakarta Bidang Hukum dan HAM Anindito sekaligus mewakili Kompres dalam pernyataan sikapnya mengatakan, kasus kekerasa yang menimpa Triyono hanyalah riyak paling anyar dari rentetan kasus kekerasan yang menimpa jurnalis.
Keprihatinan serupa juga diungkapkan politisi asal Partai Gokar Juliyatmono. Meski demikian, dirinya berharap kasus tersebut tidak mempengaruhi proses hukum atas kasus dugaan korupsi dana perumahan bersubsidi dari Kemenpera. "Apalagi peristiwa ini terjadi di bulan baik (Ramadan), tentu saya sangat menyayangkan. Tapi ini jangan sampai mempengaruhi proses hukum yang berjalan," kata Juliyatmono.
Bahkan dirinya memberi semangat kepada wartawan yang bertugas di Karanganyar untuk tetap berani memberitakan kebenaran dan fakta di lapangan. "Setelah ini wartawan jangan takut, harus tetap berani. Masyarakat butuh pemberitaan yang benar dan objektif," lanjutnya.
Senada juga diungkapkan politisi asal PKS Rohadi Widodo. Dirinya menyampaikan keprihatinan atas peristiwa tersebut. "Kami prihatin dengan peristiwa tersebut. Mudah-mudahan rekan-rekan wartawan di Karanganyar masih semangat bertugas," ujar Rohadi terpisah. (emh/in/rk/nan)