← Beranda
Wagub Jatim Emil Beber Penyebab Sopir Truk Blokade Pelabuhan Ketapang Banyuwangi
Dadang Kurnia• Selasa, 29 September 2026 | 02.05 WIB
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak (Dok Dadang Kurnia/JawaPos.com).

 JawaPos.com - Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak buka suara mengungkap akar masalah kemacetan yang melumpuhkan lalu lintas Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi. Emil secara tegas membantah spekulasi bahwa antrean panjang tersebut disebabkan oleh kurangnya armada kapal atau kondisi air laut yang surut.

 

"Dua faktor yang paling ditakutkan tidak terjadi. Air tidak surut, kapal tersedia," kata Emil di Surabaya pada Senin (28/9).

 

Emil menegaskan, kelumpuhan arus lalu lintas kendaraan logistik Jawa-Bali itu dipicu aksi blokade lebih dari 6 jam yang dilakukan para sopir truk. Mereka memprotes keras kebijakan baru dari Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kementerian Perhubungan.

 

Emil menjelaskan, KSOP mengeluarkan aturan pembatasan jumlah truk yang bisa dimuat ke dalam satu kapal. Kebijakan ini, lanjut Emil, sejatinya memiliki dasar teknis yang sangat krusial, yakni demi menghindari risiko kecelakaan kapal laut di Selat Bali.

 

"Sopir truk merasa resah dengan kebijakan baru ini. Tapi KSOP sendiri juga harus kita pahami, mereka ingin mencegah adanya kecelakaan," terang mantan Bupati Trenggalek tersebut.

 

Titik temu antara pihak otoritas dan perwakilan asosiasi sopir truk sebenarnya telah disepakati pada Sabtu (26/9) sekitar pukul 20.00 WIB. Namun, penguraian antrean pasca-blokade tersebut tidak bisa dilakukan secara instan dan memakan waktu lama.

Lebih lanjut, Emil mengungkapkan, kemacetan parah semakin sulit diurai akibat ulah sejumlah pengemudi truk yang tidak sabar. Banyak sopir yang nekat mengambil jalur berlawanan arah atau yang kerap diistilahkan dengan sebutan ngeblong.

"Hari ini mengurai akibat dari itu tidak instan, karena truk-truk ini ada yang ngeblong. Jadi ruwet di sananya," ucap Emil.

Emil menambahkan, sebagai solusi taktis setelah lahirnya kesepakatan, operasional bongkar muat kapal kini dipisah secara spesifik berdasarkan ukuran dan jenis kendaraan.

Dermaga tipe Landing Craft Machine (LCM) kini difokuskan sepenuhnya untuk melayani truk besar atau tronton yang menjadi urat nadi perekonomian antar-pulau.

 

"Sementara mobil kecil fokus di MB (Movable Bridge) 1, 2, 3, dan 4. Ini kan sebuah upaya supaya truk tronton lancar," ucap Emil.

 

EDITOR: Diar Candra