← Beranda
Pemkab Sumenep Konsisten Rawat Musik Tongtong, Menjaga Warisan Madura
ARM• Selasa, 29 September 2026 | 05.36 WIB
Grup tongtong Putra Siding Puri Desa Parsanga Kecamatan Kota saat mengikuti Festival Musik Tongtong Sumenep 2026. (Istimewa)

JawaPos.com - Musik tongtong tidak hanya menjadi bagian dari kemeriahan berbagai kegiatan di Sumenep, Madura.

Kesenian tradisional yang identik dengan bunyi-bunyian khas tersebut juga terus mendapat ruang untuk berkembang melalui festival yang digelar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep.

Di bawah kepemimpinan Bupati Achmad Fauzi Wongsojudo, kesenian khas Kota Keris tersebut hampir selalu dilibatkan dalam berbagai kegiatan yang digelar di Kota Keris.

Bukan hanya tampil sebagai pengisi acara, Pemkab Sumenep juga rutin memberikan ruang khusus melalui berbagai festival musik tongtong. Sebuah langkah strategi sekaligus menjadi bukti komitmen pemerintah daerah dalam menjaga keberadaan musik tradisional Madura.

Hal ini sekaligus membuka ruang bagi para pelakunya untuk terus berkreasi. Perhatian itu mendapat apresiasi dari para pelaku musik tongtong. 

Mereka menilai dukungan pemerintah sangat penting agar kesenian tradisional tersebut tetap hidup dan tidak kehilangan regenerasi di tengah perkembangan musik modern.

Seperti yang diungkapkan koordinator Grup Musik Tongtong Putra Siding Puri, Desa Parsanga, Kecamatan Kota Sumenep, Ahmad Eko Wahyudi bahwa dukungan Pemkab Sumenep terhadap musik tongtong terus dirasakan para pelaku seni. Salah satunya melalui festival yang digelar secara rutin setiap tahun.

”Pemerintah terus menjaga kelestarian musik tongtong sebagai warisan budaya. Salah satunya dengan rutin menggelar festival musik tongtong setiap tahun,” katanya.

Wahyudi menambahkan kalau festival bukan sekadar menjadi ajang pertunjukan, namun juga memberikan ruang bagi seniman untuk menunjukkan kreativitas sekaligus meningkatkan kualitas musik tongtong di Sumenep.

”Dukungan ini tidak hanya memberikan ruang ekspresi bagi para seniman untuk berkreasi, tetapi juga mendorong lahirnya aransemen musik yang berkualitas,” ujar Wahyudi.

Selain itu menurut Wahyudi, keberadaan festival juga memberikan dampak terhadap perekonomian masyarakat. Sebab, setiap kegiatan turut melibatkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

”Jadi, dampaknya tidak hanya dirasakan seniman, tetapi juga masyarakat yang ikut berjualan di sekitar lokasi kegiatan,” jelasnya.

Selain itu, dia berharap perhatian pemerintah terhadap musik tongtong terus berlanjut. Terutama dalam mendorong regenerasi agar kesenian tersebut tetap dikenal dan diminati generasi muda.

”Regenerasi juga penting. Jangan sampai musik tongtong hanya dikenal oleh generasi sekarang. Harus ada ruang bagi anak-anak muda untuk belajar dan ikut menjadi pelaku seni,” pungkas Wahyudi. 

Keterlibatan UMKM dalam setiap kegiatan menunjukkan bahwa pelestarian budaya juga dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar. 

Dengan dukungan yang berkelanjutan, musik tongtong diharapkan tidak hanya bertahan sebagai warisan budaya, tetapi terus berkembang dan menemukan generasi penerusnya.

EDITOR: Dony Lesmana Eko Putra