← Beranda
Krisis Air Bersih di Jatim, Guru Sabdo Roso Ajak Warga Kembali Merawat Sendang
Dinarsa Kurniawan• Jumat, 2 Oktober 2026 | 07.57 WIB
Pengajar kawruh asal Kabupaten Kediri, Abdul Latif. (Istimewa)

 

 

JawaPos.com - Kemarau panjang membuat sejumlah wilayah di Jawa Timur menghadapi persoalan air bersih. Di Kabupaten Pasuruan, hampir 20 ribu warga terdampak kekeringan. Kondisi serupa juga dilaporkan terjadi di Tulungagung, Madiun, dan Sumenep.

Pengajar kawruh asal Kabupaten Kediri, Abdul Latif atau yang dikenal sebagai Guru Sabdo Roso, mengajak masyarakat kembali memperhatikan keberadaan sendang dan sumber mata air di lingkungan masing-masing. Menurut dia, banyak sumber air desa yang mulai ditinggalkan.

"Setiap kemarau kita baru ingat air," kata Latif.

Padahal, lanjut dia, sendang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat desa selama ratusan tahun. Karena itu, keberadaannya perlu dijaga agar tetap mampu memenuhi kebutuhan warga.

"Sendang itu sudah ratusan tahun menghidupi warga. Kalau tidak dirawat, lama-lama mati," ujarnya.

Latif menyebut tradisi masyarakat Jawa pada masa lalu memiliki cara tersendiri dalam menjaga sumber air. Salah satunya melalui kegiatan bersih desa yang dilakukan bersama-sama di sekitar sumber mata air.

"Bersih desa itu bukan sekadar upacara," tuturnya.

Menurut Latif, kegiatan tersebut juga menjadi ruang bagi warga untuk membersihkan sumber air, menanam pohon, sekaligus menjaga hubungan masyarakat dengan lingkungan.

"Warga turun bersama membersihkan sumber air, menanam pohon, dan bersyukur," katanya.

Salah satu sumber air yang memiliki kaitan dengan sejarah Kediri adalah Sendang Tirto Kamandanu di kompleks petilasan Sri Aji Joyoboyo, Desa Menang, Kecamatan Pagu. Bagi Latif, keberadaan sendang bersejarah menjadi pengingat tentang posisi air dalam kehidupan masyarakat Jawa.

Latif mengaitkan kepedulian terhadap sumber air dengan ajaran Jawa memayu hayuning bawana. Konsep tersebut, menurut dia, dapat diterapkan melalui kebiasaan sederhana dalam kehidupan sehari-hari.

"Jangan buang sampah ke sungai atau sumber air," ujarnya.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan menebang pohon di sekitar sumber air. Penggunaan air di rumah pun perlu diperhatikan, termasuk ketika pasokan air sedang dalam kondisi lancar.

"Hemat air walaupun di rumah sedang lancar," katanya.

Menurut Latif, persoalan sumber air tidak berhenti pada kondisi masyarakat saat ini. Kerusakan lingkungan di sekitar mata air dapat memberikan dampak bagi generasi berikutnya.

"Kalau sumber airnya rusak, yang menanggung anak cucu kita sendiri," tuturnya.

Ia juga mengajak masyarakat melihat penghormatan terhadap sendang dari sisi kepedulian terhadap alam, bukan melalui hal-hal yang berbau takhayul.

"Semua dipinjami Gusti. Tugas kita menjaga dan bersyukur," ujarnya.

Latif selama ini mengajarkan kawruh, pengetahuan batin Jawa tentang pengenalan diri, melalui komunitas belajar Nafas Batin yang didirikannya. Materinya antara lain semedi atau duduk hening, laku luhuring budi, olah rasa, dan latihan napas.

Menurut Latif, kawruh dapat dipelajari oleh siapa pun tanpa harus berpindah keyakinan. Nilai yang diajarkan juga berkaitan dengan cara seseorang membangun hubungan dengan diri sendiri, sesama, dan lingkungan.

"Kalau orang sudah bisa menghormati air dan alam, ia juga akan lebih mudah menghormati sesama," pungkasnya.

Gagasan mengenai air, alam, dan welas asih tersebut turut dituangkan Latif dalam buku Kawruh Pitulung yang diterbitkan melalui Gurusabdo Pustaka. (*)

EDITOR: Dinarsa Kurniawan