JawaPos.com - Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mendorong pemanfaatan Internet of Things (IoT) dan kecerdasan artifisial (AI) untuk meningkatkan produktivitas sektor pangan. Penerapan teknologi tersebut mulai menunjukkan hasil di sejumlah daerah. Termasuk membantu petani mengurangi penggunaan pupuk hingga 53 persen dan mendukung produksi ikan nila mencapai 40 ton dalam satu siklus panen.
Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengatakan teknologi digital perlu digunakan untuk menjawab kebutuhan nyata masyarakat. Dan bukan hanya berkembang di sektor perkotaan.
“IoT dan kecerdasan artifisial adalah teknologi baru yang harus kita manfaatkan agar memberikan dampak langsung terhadap produktivitas masyarakat,” ujar Meutya dalam keterangannya pada Selasa (6/10).
Salah satu penerapan IoT dilakukan petani di Desa Pengkok, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Sensor tanah digunakan untuk mengetahui kondisi lahan sehingga petani dapat menentukan kebutuhan pupuk berdasarkan informasi yang diperoleh dari perangkat tersebut.
Petani bernama Sumarno mengatakan penggunaan sensor pertanian Jinawi membantunya mengurangi jumlah pupuk yang digunakan. Sebelumnya, kebutuhan pupuk mencapai sekitar 1.600 kilogram per hektare. Setelah kondisi tanah diukur menggunakan perangkat tersebut, jumlah pupuk yang digunakan turun menjadi sekitar 750 kilogram per hektare.
Pemanfaatan IoT juga diterapkan pada budi daya ikan nila di Kabupaten Sukabumi. Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Cipancur Cimahi Farm Feed menggunakan aerator berbasis IoT untuk membantu menjaga kadar oksigen di dalam kolam.
Menurut pembudidaya ikan nila Abdullah Agus Salim, penerapan teknologi yang dibarengi pembelajaran dan pendampingan turut membantu kelompoknya meningkatkan hasil produksi. Saat ini, 20 anggota Pokdakan mampu menghasilkan sekitar 40 ton ikan nila dalam satu siklus panen.
Produksi tersebut juga menjadi bagian dari pasokan pangan di daerah. Pokdakan memasok sekitar 400 kilogram ikan nila setiap pekan untuk kebutuhan operasional dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sukabumi.
Meutya mengatakan penerapan teknologi seperti ini perlu diperluas ke wilayah yang menjadi sentra produksi pangan. Menurutnya, digitalisasi harus memberikan manfaat langsung bagi masyarakat di desa dan tidak berhenti pada penggunaan teknologi di kawasan perkotaan.
“Ketahanan pangan menjadi salah satu fokus utama pemerintah. Kami ingin memastikan digitalisasi diterapkan langsung dalam use case di lapangan. Teknologi digital jangan hanya dinikmati di perkotaan, tetapi harus masuk ke desa-desa untuk mendukung program swasembada pangan Presiden,” kata Meutya.
Komdigi pun terus mengembangkan pemanfaatan IoT untuk berbagai kebutuhan produktif. Di sektor pangan, penerapannya mencakup pengukuran kondisi tanah untuk menentukan kebutuhan pupuk hingga pemantauan lingkungan kolam guna mendukung budi daya ikan.
Dua penerapan tersebut menunjukkan penggunaan teknologi digital dapat menghasilkan perubahan yang terukur di tingkat produksi pangan, baik melalui efisiensi penggunaan input pertanian maupun peningkatan kapasitas budi daya ikan.