JawaPos.com - Digitalisasi mengubah cara masyarakat berkomunikasi dan berbisnis, tetapi kebutuhan terhadap produk cetak belum sepenuhnya hilang. Industri percetakan justru terus beradaptasi dengan teknologi baru, mulai dari digital printing hingga mesin produksi yang memungkinkan pelaku usaha membuat produk lebih cepat dan beragam.
Perubahan tersebut terlihat dalam gelaran All Print Indonesia Expo 2026 yang berlangsung pada 7–10 Oktober di Hall C3 Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran, Jakarta. Pameran ini mempertemukan pelaku industri percetakan dengan perkembangan teknologi mesin dan kebutuhan produksi yang semakin beragam.
Di tengah perubahan pola konsumsi menuju layanan digital, pembaruan mesin menjadi salah satu faktor yang menentukan kemampuan pelaku usaha percetakan untuk meningkatkan kapasitas produksi.
Kebutuhan investasi tersebut sekaligus menunjukkan bahwa industri printing tidak hanya bertumpu pada teknik cetak konvensional.
"Sektor percetakan nasional terus bertransformasi seiring pesatnya inovasi dan daya saing pasar. Oleh karena itu, BFI Finance mengambil peran aktif memfasilitasi kebutuhan pembaruan mesin produksi melalui serangkaian program promo bernilai tambah yang dapat dimanfaatkan para pengusaha," ungkap Stanly Darisang, Head of Corporate Business BFI Finance.
Printing Beradaptasi dengan Perubahan Kebutuhan
Perkembangan teknologi membuat bisnis percetakan semakin dekat dengan kebutuhan industri kreatif. Mesin digital printing, offset, A3+, Direct to Garment (DTG), Direct to Film (DTF), hingga laser cutting kini digunakan untuk menghasilkan berbagai produk dengan kebutuhan produksi yang semakin spesifik.
Perubahan itu juga memperluas pasar percetakan. Pelaku usaha tidak hanya mengandalkan kebutuhan mencetak dokumen atau materi promosi, tetapi dapat masuk ke produk fesyen, kemasan, merchandise, signage, hingga berbagai kebutuhan personalisasi.
Karena itu, investasi mesin menjadi bagian penting dalam strategi pengembangan usaha. Kapasitas, kecepatan produksi, kualitas hasil cetak, serta kemampuan mengerjakan jenis produk baru menjadi pertimbangan ketika pelaku usaha menentukan teknologi yang akan digunakan.
Data pembiayaan BFI Finance untuk wilayah Jabodetabek menunjukkan lini mesin industri printing menjadi salah satu penyerap porsi pembiayaan terbesar. Kondisi tersebut menjadi indikasi bahwa sebagian pelaku usaha masih melihat ekspansi kapasitas produksi sebagai bagian dari peluang pertumbuhan bisnis.
Kebutuhan Modal jadi Tantangan Ekspansi
Meski peluang pasar berkembang, investasi mesin produksi membutuhkan modal yang tidak sedikit. Bagi usaha kecil dan menengah, kebutuhan tersebut dapat menjadi salah satu hambatan ketika ingin meningkatkan kapasitas atau mengikuti perubahan teknologi.
Skema pembiayaan kemudian menjadi salah satu alternatif yang digunakan pelaku usaha untuk memperoleh mesin tanpa harus menanggung seluruh kebutuhan investasi sekaligus.
Dalam pameran tersebut, BFI Finance menawarkan pembiayaan untuk pembelian mesin baru sekaligus fasilitas modal kerja dengan jaminan invoice mesin. Program yang berlangsung hingga akhir tahun itu mencakup sejumlah skema pembiayaan yang bekerja sama dengan supplier rekanan.
Selain pembiayaan konvensional, perusahaan juga menyediakan skema pembiayaan mesin berbasis syariah dengan akad murabahah. Pilihan tersebut menunjukkan semakin beragamnya kebutuhan pendanaan pelaku usaha, termasuk dari sisi prinsip pembiayaan yang digunakan.
"Dinamika bisnis saat ini menuntut opsi pendanaan yang lebih fleksibel dan bervariasi. Sebagai solusinya, kami melengkapi portofolio pembiayaan konvensional dengan jalur pembiayaan syariah agar para pelaku usaha dapat memilih skema yang paling sesuai dengan prinsip dan kebutuhan mereka," jelas Stanly.
Selain itu, transformasi industri printing juga tidak berlangsung secara terpisah dari sektor manufaktur lainnya. Teknologi mesin produksi yang ditawarkan dalam ekosistem pembiayaan tersebut mencakup kebutuhan lintas industri, mulai dari manufaktur, pengolahan kayu atau woodworking, peralatan medis, hingga perangkat teknologi informasi.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa mesin produksi semakin dipandang sebagai bagian dari investasi produktif. Bagi pelaku usaha, keputusan membeli mesin bukan hanya soal mengganti perangkat lama, tetapi juga berkaitan dengan kemampuan memperluas jenis produk dan merespons permintaan pasar.
Di sisi lain, perkembangan teknologi digital tidak serta-merta menghapus kebutuhan terhadap produk fisik. Justru, integrasi antara teknologi digital dan proses produksi fisik membuka ruang baru bagi bisnis percetakan, terutama untuk produk yang membutuhkan personalisasi, produksi dalam jumlah terbatas, dan waktu pengerjaan yang cepat.
Dengan perubahan tersebut, masa depan industri printing kemungkinan bukan sekadar mempertahankan proses cetak konvensional, melainkan bagaimana pelaku usaha menggabungkan teknologi, efisiensi produksi, dan kemampuan membaca kebutuhan pasar.
Pameran industri seperti All Print Indonesia Expo 2026 pun menjadi salah satu gambaran bahwa sektor printing masih memiliki ruang untuk berkembang di tengah ekonomi yang semakin terdigitalisasi.
Tantangannya kini bukan hanya mempertahankan bisnis percetakan, tetapi memastikan teknologi produksi mampu mengikuti perubahan kebutuhan konsumen dan industri.