JawaPos.com - Kalangan ekonom merespons positif pencalonan Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia. Ada dua tantangan besar yang menanti destry bila ia mulus menjadi Gubernur BI.
Ekonom INDEF M. Rizal Taufikurahman menilai Destry memiliki modal pengalaman karena bukan figur baru di internal BI.
Destry telah menjabat Deputi Gubernur Senior BI sejak 2019 dan kembali ditetapkan untuk kedua kali pada periode 2024–2029.
Pencalonan Destry dinilai memberikan sinyal kontinuitas kebijakan sekaligus mengurangi ketidakpastian dalam proses transisi kepemimpinan bank sentral.
Baca Juga: Rupiah Menguat Tajam usai Destry Damayanti Jadi Calon Tunggal Gubernur BI
"Karena itu, dari perspektif pasar, kelebihannya adalah familiarity, pengalaman, dan relatif kecilnya risiko perubahan arah kebijakan secara mendadak. Respons awal pasar juga cenderung positif, termasuk penguatan rupiah setelah kepastian pencalonannya muncul," kata Rizal kepada JawaPos.com, Senin (10/8).
Meski demikian, lanjut Rizal, tantangan Destry justru jauh lebih besar setelah menjadi calon tunggal.
Menurut dia, persoalan utama BI ke depan bukan sekadar menjaga inflasi, tetapi bagaimana menjaga rupiah di tengah volatilitas global, mengelola likuiditas agar mendukung sektor riil, sekaligus menghadapi ekspektasi pemerintah agar kebijakan moneter lebih aktif menopang pertumbuhan.
"Di sinilah ujian independensinya. Koordinasi fiskal-moneter memang diperlukan, tetapi BI tidak boleh bergeser menjadi instrumen untuk mengakomodasi kebutuhan pembiayaan fiskal atau mengejar target pertumbuhan jangka pendek," ungkapnya.
Terlebih, DPR sendiri juga menekankan bahwa Gubernur BI berikutnya harus mampu menjaga independensi sekaligus mempertahankan kepercayaan pasar.
Baca Juga: Profil Lengkap Destry Damayanti, Calon Tunggal Gubernur BI
"Jadi, Destry memiliki modal pengalaman dan memahami mesin kebijakan BI, tetapi itu belum otomatis menjawab seluruh persoalan institusional BI," kata dia.
Dikatakan Rizal, yang akan menentukan adalah apakah Gubernur BI baru mampu menunjukkan keputusan moneter yang kredibel, berbasis data, juga konsisten menjaga stabilitas rupiah dan inflasi.
Ditambah lagi berani menjaga jarak yang sehat antara koordinasi dengan pemerintah dan independensi bank sentral.
"Menurut saya, pasar tidak hanya membutuhkan figur yang familiar, tetapi Gubernur BI yang mampu membuktikan bahwa policy credibility tetap lebih kuat daripada political pressure," pungkasnya .
Baca Juga: Destry Damayanti Resmi Jadi Calon Tunggal Gubernur BI