← Beranda
Fundamental Jadi Pegangan Investor di Tengah Spekulasi Pasar, Ini Kata Analis
Dimas Choirul• Rabu, 30 September 2026 | 23.05 WIB
Bursa Efek Indonesia (BEI).

JawaPos.com - Beragam informasi mengenai aksi korporasi yang beredar di pasar modal membuat investor perlu lebih selektif dalam menyikapi setiap sentimen. Informasi resmi perusahaan dan kondisi fundamental dinilai menjadi dua hal penting yang perlu diperhatikan sebelum mengambil keputusan investasi.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas  Nafan Aji Gusta mengatakan investor sebaiknya mengacu pada informasi material yang disampaikan melalui sumber resmi perusahaan, khususnya ketika muncul rumor yang berpotensi memengaruhi persepsi pasar.

Konfirmasi dari perusahaan menjadi penting untuk memastikan informasi yang beredar telah terverifikasi. "Investor perlu membedakan informasi material yang telah dikonfirmasi dengan spekulasi pasar," kata Nafan, Rabu (30/9).

Menurut dia, investor juga perlu berhati-hati dalam membaca aktivitas perdagangan di bursa. Besarnya transaksi saham tidak serta-merta dapat dikaitkan dengan aksi korporasi tertentu tanpa adanya informasi dan analisis pendukung.

Baca Juga: BEI: Harga Saham Rp 1 Tak Berkontribusi Signifikan ke Koreksi IHSG

"Lebih tepat melihat transaksi sebagai aktivitas perdagangan yang perlu ditelusuri berdasarkan pihak yang bertransaksi, harga, volume, dan keterbukaan informasi terkait, bukan semata-mata dari nilai transaksi agregatnya," kata Nafan.

Karena itu, Nafan menyarankan investor mengombinasikan berbagai sumber informasi sebelum menyimpulkan kondisi sebuah perusahaan. Informasi resmi perusahaan perlu dilihat bersama dengan perkembangan kinerja fundamental emiten agar sentimen yang berkembang di pasar dapat ditempatkan secara lebih utuh.

Untuk sektor perbankan, sejumlah indikator fundamental dapat menjadi perhatian investor. Nafan menyebut pertumbuhan kredit, profitabilitas, kualitas aset, serta komposisi dana murah sebagai sejumlah indikator penting untuk melihat kondisi perusahaan.

"Di tengah tantangan ekonomi dan fluktuasi pasar, indikator utama seperti pertumbuhan kredit, profitabilitas, kualitas aset, dan dana murah masih memberikan gambaran bahwa fundamental perusahaan tetap terjaga," kata Nafan.

Salah satu emiten perbankan yang belakangan menjadi perhatian pasar adalah PT Bank Central Asia Tbk (BCA). Perusahaan tersebut turut menjadi sorotan setelah muncul rumor mengenai rencana akuisisi oleh pengusaha asal Kalimantan, Haji Isam.

Terlepas dari spekulasi tersebut, Nafan menilai kinerja fundamental BCA masih menunjukkan ketahanan. Pada semester I 2026, BCA membukukan laba bersih Rp29,5 triliun. Penyaluran kredit pada periode yang sama tumbuh 8 persen secara tahunan menjadi Rp1.036 triliun.

Struktur pendanaan BCA juga menjadi salah satu aspek yang diperhatikan. Dana murah atau CASA mencapai 84,3 persen dari total dana pihak ketiga perseroan. Hingga semester I 2026, CASA BCA tumbuh 10,2 persen menjadi Rp1.082 triliun.

Sementara dari sisi kualitas aset, rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) BCA berada di level 1,9 persen. Adapun rasio Loan at Risk (LAR) tercatat sebesar 4,9 persen.

Kinerja laba BCA juga menunjukkan pertumbuhan dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2024, laba bersih perseroan mencapai Rp54,8 triliun atau tumbuh 12,7 persen secara tahunan. Pada 2025, laba bersih kembali meningkat 4,9 persen menjadi Rp57,5 triliun.

Pertumbuhan laba tersebut berjalan seiring dengan ekspansi kredit. Penyaluran kredit BCA meningkat dari Rp922 triliun pada akhir 2024 menjadi Rp993 triliun pada akhir 2025.

Selain kinerja operasional, BCA juga menjalankan program pembelian kembali saham atau buyback. Perseroan menyatakan melakukan buyback dengan nilai maksimal Rp5 triliun untuk periode 12 Maret 2026 hingga 11 Maret 2027.

Nafan menilai aksi buyback dapat menjadi salah satu instrumen yang digunakan manajemen dalam menjaga stabilitas harga saham sekaligus mencerminkan pengelolaan modal perusahaan.

"Ini sebagai salah satu mekanisme stabilisasi dan bentuk pengelolaan modal yang dapat membantu menjaga kepercayaan investor ketika volatilitas meningkat," ujarnya.

 

EDITOR: Mohamad Nur Asikin