← Beranda
BPS: Impor Indonesia Agustus 2026 Tembus USD 186,39 Miliar, Didominasi Bahan Baku/Penolong
Djati Waluyo• Jumat, 2 Oktober 2026 | 02.36 WIB
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono. (YouTube BPS)

 

JawaPos.com - Badan Pusat Statistik (BPS), mencatat Nilai impor Indonesia Januari–Agustus 2026 mencapai USD 186,39 miliar atau naik sebesar 19,84 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya atau year on year (yoy).

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, nilai impor Indonesia Agustus 2026 mencapai USD 23,06 miliar atau naik 19,09 persen dibandingkan Agustus 2025 yoy.

“Sepanjang Januari sampai dengan Agustus tahun 2026 total nilai impor mencapai 186,39 miliar USD atau naik sebesar 19,84 persen dibandingkan dengan periode yang sama di tahun yang lalu,” ujar Ateng dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (1/10).

Ateng mengatakan, kenaikan nilai impor Indonesia sejalan dengan naiknya impor minyak dan gas (Migas) sebesar USD 29,30 miliar atau naik sebesar 39,03 persen. Sementara itu, impor non-migas tercatat sebesar USD 157,09 miliar naik sebesar 16,83 persen.

“Jika dilihat menurut penggunaannya, secara kumulatif peningkatan nilai impor terjadi pada seluruh golongan penggunaan. Sebagai penyumbang utama peningkatan impor untuk nilai impor bahan baku penolong mencapai USD 133,38 miliar atau naik sebesar 20,67 persen dibandingkan periode yang sama di tahun yang lalu,” ujarnya.

Menurut penggunaan, impor bahan baku/penolong menjadi komponen impor terbesar, dengan nilai USD 133,38 miliar atau naik 20,67 persen.

Selanjutnya, impor barang modal mencapai USD 36,75 miliar, naik 18,82 persen, sedangkan impor barang konsumsi tercatat sebesar USD 16,27 miliar, naik 15,48 persen.

Tiongkok masih menjadi negara asal utama impor nonmigas Indonesia sepanjang Januari–Agustus 2026, dengan nilai USD 66,64 miliar setara dengan 42,42 persen.

Posisi berikutnya ditempati oleh Jepang sebesar USD 8,88 miliar setara dengan 5,65 persen dan Australia sebesar USD 7,31 miliar setara dengan 4,65 persen.

EDITOR: Estu Suryowati