JawaPos.com - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan Indonesia perlu mempercepat transformasi ekonomi untuk mengejar laju pertumbuhan Vietnam.
Menurutnya, pengembangan digitalisasi, semikonduktor, dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menjadi salah satu sektor yang perlu didorong.
Airlangga mengatakan, Vietnam telah lebih dahulu memperluas industrinya hingga sektor tier 3, selain mengembangkan hilirisasi. Sementara itu, struktur industri Indonesia dinilai masih banyak bertumpu pada sektor tier 1 dan tier 2.
"Dan yang double dari angka kita adalah negara tetangga, Vietnam, yang juga dengan selain hilirisasi mereka masuk juga ke industri yang di tier 3. Jadi kalau kita lihat tier 1 adalah agro-based industry, tier 2 adalah industrialisasi yang bread and butter, dan di tier 3 itu sudah masuk digitalisasi, semikonduktor, dan yang lain," ujar Airlangga di Jakarta, Selasa (6/10).
Airlangga mengatakan, rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini berada di kisaran 5 persen. Untuk mengejar Vietnam yang mampu mencapai sekitar 9 persen, Indonesia perlu mempercepat pengembangan sektor-sektor dengan nilai tambah lebih tinggi.
“Kalau kita mau mengejar Vietnam yang bisa mencapai 9 persen, maka kita harus lari juga ke digitalisasi, semikonduktor, AI. Jadi itu seluruhnya leverage yang Vietnam sudah lakukan lebih dulu dari Indonesia," ucapnya.
Selain pengembangan industri, Airlangga menyoroti perbedaan skala kawasan ekonomi khusus (KEK) antara Indonesia dan Vietnam.
Menurutnya, luas KEK di Indonesia saat ini sekitar 24.000 hektare. Sementara Vietnam memiliki kawasan serupa dengan luas mencapai sekitar 2 juta hektare.
"Bayangkan Indonesia punya special economic zone itu kira-kira 24.000 hektar. Vietnam punya special economic zone 2 juta hektar. Jadi dia lebih masif dari kita, lebih berani, dan sebetulnya dari segi kepastian usaha, mereka juga memberikan pelayanan yang baik kepada para investor," jelasnya.
Airlangga menyebut kondisi tersebut membuat Indonesia harus menghadapi persaingan investasi yang semakin kuat dengan Vietnam. Salah satu keunggulan Vietnam, adalah lebih dahulu memiliki kerja sama perdagangan dengan sejumlah mitra utama.
Menurut Airlangga, kondisi tersebut turut mendorong pertumbuhan ekspor Vietnam lebih cepat dibandingkan Indonesia. Namun, Vietnam memiliki karakteristik pasar domestik yang berbeda karena tidak sebesar Indonesia.
"Jadi inilah yang mendorong Vietnam ekspornya lebih cepat dari kita, namun mereka tidak punya domestic market. Jadi mereka yang menanam investasi di Vietnam itu harus mendorong untuk menuju ekspor," pungkasnya.