← Beranda
Rupiah Diprediksi Melemah ke Rp 17.940, Imbas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi RI
Djati Waluyo• Rabu, 7 Oktober 2026 | 14.32 WIB
Karyawan menghitung uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Dolar Asia, Jakarta. (Salman Toyibi/Jawa Pos)

JawaPos.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diperkirakan akan melemah pada perdagangan Rabu (7/10), setelah ditutup menguat sebesar 18 poin menjadi Rp 17.899 per dollar AS pada perdagangan Selasa (6/10).

Salah satu hal yang mempengaruhi pergerakan rupiah hari ini adalah proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh Bank Dunia.

Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pergerakan rupiah pada hari ini akan dipengaruhi oleh sentimen dalam negeri.

"Untuk perdagangan (7/10) mata uang rupiah fluktuatif, namun ditutup melemah di rentang Rp 17.890 - Rp 17.940,” ujar Ibrahim dalam keterangan yang diterima, Rabu (7/10).

Baca Juga: Rupiah Diproyeksi Melemah ke Rp 17.960 per USD, Imbas Fluktuasi Stok BBM

Ibrahim mengatakan, sentimen domestik yang menjadi perhatian pasar salah satunya berasal dari proyeksi Bank Dunia terhadap perekonomian Indonesia.

Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 mencapai 5,2 persen. Proyeksi tersebut direvisi naik sebesar 0,5 poin persentase.

Aktivitas ekonomi Indonesia juga ditopang oleh peningkatan program prioritas pemerintah, investasi yang terhubung dengan negara, serta besarnya subsidi energi.

Menurutnya, lonjakan pertumbuhan tersebut mencerminkan penguatan konsumsi swasta dan peningkatan pengeluaran publik pada pergantian tahun.

Momen Ramadan dan Idul Fitri yang datang lebih awal, pencairan THR dan gaji ke-13, serta percepatan peluncuran program Makan Bergizi Gratis (MBG) disebut berhasil menggeser pengeluaran pemerintah menjadi lebih awal dalam siklus fiskal.

Baca Juga: Rupiah Awal Pekan Diproyeksikan Bergerak Fluktuatif, Konflik AS-Timur Tengah Masih jadi Sorotan

Meski demikian, Bank Dunia turut menyoroti aktivitas ekonomi domestik yang tampak melemah setelah momen tersebut. 

Kondisi tersebut tercermin dari penurunan indeks manajer pembelian (PMI) manufaktur menjadi 49,3 pada Agustus dan melemahnya tingkat kepercayaan konsumen menjadi 116,8 pada Juli.

Di sisi lain, pelebaran defisit turut memicu kekhawatiran pasar terhadap tren fiskal dan peringkat utang negara (sovereign ratings).

Sentimen pasar terhadap Indonesia juga sempat memburuk pada Januari 2026, yang kemudian diperparah oleh lonjakan harga minyak mentah global dan gangguan pengiriman.

Arus modal keluar (portfolio outflows) juga tercatat mencapai 0,2 persen dari PDB pada kuartal I 2026.

Baca Juga: Rupiah Menguat Seiring Penurunan Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga Fed

Namun, langkah pemerintah mempertahankan subsidi bahan bakar dinilai mampu menekan kenaikan harga dan menahan tekanan inflasi. Tingkat inflasi tercatat turun dari 4,8 persen pada Februari menjadi 3,4 persen pada Juli 2026.

Selain itu, Bank Dunia memproyeksikan defisit transaksi berjalan Indonesia akan melebar menjadi 1,5 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) pada 2026.

Sementara itu, tingkat inflasi diperkirakan tetap berada di sekitar batas atas rentang target Bank Indonesia (BI) dan pemerintah sebesar 2,5±1 persen.

EDITOR: Bayu Putra