← Beranda
Rupiah Masih Tertekan, Dibayangi Sentimen Ekonomi Domestik
Djati Waluyo• Jumat, 9 Oktober 2026 | 14.35 WIB
Ilustrasi uang Rupiah tunai. (Dery Ridwansah/JawaPos.com)

 

JawaPos.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diperkirakan akan kembali melemah pada perdagangan Jumat (9/10), setelah sebelummya ditutup melemah sebesar 28 poin menjadi Rp 17.915 per dolar AS pada perdagangan Kamis (8/10).

Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pergerakan rupiah pada hari ini akan dipengaruhi oleh sentimen dalam negeri.

"Untuk perdagangan (9/10) mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp 17.910 - Rp 17.950,” ujar Ibrahim keterangan yang diterima, Jumat (9/10).

Ibrahim mengatakan, sentimen domestik yang memengaruhi pergerakan rupiah antara lain perkembangan indikator keyakinan konsumen serta kondisi fiskal pemerintah yang tercermin dalam realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Indonesia memang masih berada di zona optimistis. Namun, tingkat optimisme masyarakat pada September 2026 sedikit menurun dibandingkan bulan sebelumnya.

IKK September tercatat sebesar 118,1, turun tipis dibandingkan Agustus yang mencapai 118,5. Meski demikian, indeks yang berada di atas level 100 masih menunjukkan bahwa konsumen optimistis terhadap kondisi perekonomian saat ini hingga enam bulan mendatang.

Penurunan tersebut terutama dipengaruhi oleh melemahnya Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) menjadi 107,5 dari 109,4 pada Agustus. Kondisi ini menunjukkan bahwa penilaian konsumen terhadap situasi ekonomi saat ini cenderung memburuk.

Di sisi lain, Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) justru meningkat dari 127,6 pada Agustus menjadi 128,7 pada September. Kenaikan tersebut mengindikasikan bahwa masyarakat masih memiliki harapan positif terhadap prospek perekonomian dalam enam bulan ke depan.

Selain sentimen konsumen, kondisi fiskal juga menjadi perhatian pelaku pasar. Kementerian Keuangan mencatat realisasi APBN hingga Agustus 2026 mengalami defisit sebesar Rp 240,1 triliun atau setara 0,93 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Pendapatan negara tercatat mencapai 65,2 persen dari target APBN 2026 sebesar Rp 3.153 triliun. Sementara itu, realisasi belanja negara mencapai Rp 2.295,7 triliun atau 59,7 persen dari target sebesar Rp 3.842 triliun.

Di tengah kondisi tersebut, sejumlah ekonom mengingatkan bahwa kinerja APBN perlu dicermati lebih jauh dengan memperhatikan kualitas penerimaan negara, terutama terkait restitusi pajak yang belum dibayarkan.

Pasalnya, penerimaan yang tercatat dalam APBN belum sepenuhnya menggambarkan posisi penerimaan bersih apabila masih terdapat kewajiban pengembalian pajak kepada wajib pajak. Karena itu, persentase realisasi pendapatan negara perlu dibaca bersama dengan potensi pembayaran restitusi yang masih tertunda.

Apabila pembayaran restitusi meningkat pada kuartal IV 2026, terutama untuk pengembalian Pajak Pertambahan Nilai (PPN) eksportir dan penyelesaian kewajiban pajak badan, penerimaan bersih negara berpotensi berkurang. Kondisi tersebut dapat memperlebar defisit APBN meskipun tidak disertai peningkatan belanja baru.

Meski demikian, dampak pembayaran restitusi terhadap defisit akan bergantung pada besarnya kewajiban yang masih menunggu pencairan serta waktu pembayarannya.

Baca Juga: Rupiah Melemah Dipengaruhi Ancaman Serangan Militer AS Terhadap Iran

Dengan demikian, potensi tersebut belum dapat diartikan bahwa seluruh restitusi yang tertunda otomatis akan menambah defisit negara. (*)

EDITOR: Dinarsa Kurniawan