JawaPos.com – Ekspor produk sawit Indonesia meningkat 12,56 persen menjadi 3,588 juta ton pada Agustus lalu. Angka itu naik dibandingkan bulan sebelumnya yang menccapai sebesar 3,188 juta ton. Kenaikan ekspor yang diikuti peningkatan konsumsi dalam negeri membuat stok sawit pada akhir Agustus tercatat 2,214 juta ton.
Berdasarkan data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), total konsumsi dalam negeri pada Agustus tahun ini mencapai 2,304 juta ton. Atau naik 1,28 persen dibandingkan Juli yang sebesar 2,275 juta ton.
"Peningkatan konsumsi terutama didorong sektor biodiesel. Konsumsi minyak sawit untuk biodiesel mencapai 1,350 juta ton, naik 5,03 persen dari 1,285 juta ton pada bulan sebelumnya," kata Sekretaris Jenderal GAPKI, M Hadi Sugeng Wahyudiono dalam konferensi pers, di Jakarta pada Jumat (9/10).
Sebaliknya, konsumsi untuk pangan mengalami penurunan 3,79 persen menjadi 775 ribu ton dari 805 ribu ton. Konsumsi sektor oleokimia juga turun 2,70 persen menjadi 180 ribu ton dari 185 ribu ton pada Juli 2026.
Produksi CPO Turun Tipis
Dari sisi produksi, industri sawit mencatatkan penurunan tipis. Produksi minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) pada Agustus mencapai 4,880 juta ton, turun 0,50 persen dari 4,904 juta ton pada Juli.
Produksi minyak inti sawit atau palm kernel oil (PKO) juga turun menjadi 464 ribu ton dari 466 ribu ton. Dengan demikian, total produksi CPO dan PKO pada Agustus mencapai 5,343 juta ton, turun 0,50 persen dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 5,370 juta ton.
Meski mengalami penurunan secara bulanan, kinerja produksi masih tumbuh secara tahunan. Sepanjang Januari-Agustus 2026, total produksi CPO dan PKO mencapai 40,997 juta ton, meningkat 5,02 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 39,037 juta ton.
Sugeng menyampaikan, kinerja industri sawit pada Agustus turut ditopang kenaikan ekspor dan nilai perdagangan.
Nilai ekspor produk sawit pada Agustus 2026 mencapai USD 4,29 miliar, naik 12,62 persen dibandingkan Juli sebesar USD 3,81 miliar. Namun, kenaikan nilai ekspor tersebut tidak diikuti peningkatan harga rata-rata CPO.
Harga rata-rata ekspor CPO pada Agustus tercatat USD 1.164 per ton, sedikit lebih rendah dibandingkan Juli sebesar USD 1.168 per ton atau turun 0,34 persen.
"Secara kumulatif, nilai ekspor produk sawit sepanjang Januari-Agustus 2026 mencapai USD 27,55 miliar, meningkat 11,14 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar USD 24,78 miliar," jelas dia.
Kenaikan nilai ekspor tersebut antara lain ditopang harga yang relatif lebih baik. Rata-rata harga ekspor CPO selama Januari-Agustus 2026 mencapai USD 1,140 per ton, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar USD 1,075 per ton.
Dari sisi volume, ekspor produk sawit selama delapan bulan pertama 2026 mencapai 23,370 juta ton, naik 2,97 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 22,696 juta ton.
Pada Agustus, kenaikan ekspor terjadi pada sejumlah produk. Ekspor olahan minyak sawit meningkat 15,12 persen menjadi 2,643 juta ton dari 2,296 juta ton. Ekspor CPO melonjak 31,83 persen menjadi 329 ribu ton dari 249 ribu ton.
Ekspor olahan minyak inti sawit juga naik 14,58 persen menjadi 113 ribu ton dari 99 ribu ton. Sebaliknya, ekspor oleokimia turun 6,74 persen menjadi 501 ribu ton dari 537 ribu ton, sedangkan ekspor CPKO merosot 62,54 persen menjadi 3 ribu ton dari 7 ribu ton.
Berdasarkan negara tujuan, Pakistan mencatatkan kenaikan volume ekspor terbesar secara persentase di antara pasar yang disebutkan GAPKI, yakni 113 persen menjadi 265 ribu ton. Ekspor ke Rusia melonjak 250 persen menjadi 77 ribu ton, sedangkan pengiriman ke Bangladesh naik 48 persen menjadi 66 ribu ton.
Ekspor ke India meningkat 27 persen menjadi 89 ribu ton dan ke Malaysia naik 26 persen menjadi 38 ribu ton.
Namun, ekspor ke sejumlah pasar utama justru melemah. Pengiriman ke Uni Eropa (EU-27) turun 44 persen menjadi 160 ribu ton, ke Amerika Serikat merosot 14 persen menjadi 36 ribu ton, sedangkan ekspor ke Tiongkok turun 3 persen menjadi 19 ribu ton. Ekspor ke Afrika juga turun 3 persen menjadi 13 ribu ton.
Jika dilihat secara kumulatif Januari-Agustus 2026, pola ekspor berdasarkan negara tujuan menunjukkan kondisi yang berbeda. Ekspor ke Tiongkok tumbuh 24,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, diikuti Rusia sebesar 11,5 persen, Malaysia 7,8 persen, Bangladesh 6,2 persen, dan Afrika 3,8 persen.
Sebaliknya, ekspor ke India mengalami penurunan 20,2 persen. Pengiriman ke Amerika Serikat turun 3,9 persen, Pakistan 1,7 persen, dan Uni Eropa 0,4 persen.
Dengan stok awal tahun sebesar 2,068 juta ton, produksi kumulatif Januari-Agustus mencapai 40,997 juta ton, konsumsi domestik 17,523 juta ton, ekspor 23,370 juta ton, serta impor 43 ribu ton, stok akhir produk sawit pada Agustus 2026 tercatat sebesar 2,214 juta ton.