← Beranda
Perubahan Iklim Bisa Ganggu Kredit dan Pembiayaan, Ini Alasannya
Nanda Prayoga• Sabtu, 10 Oktober 2026 | 03.57 WIB
Direktur Niaga dan Operasi PT Surveyor Indonesia (Persero), Euis Emalia Noor. (Istimewa) 

JawaPos.com - Perubahan iklim tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga berpotensi mengganggu penyaluran kredit dan pembiayaan.

Banjir, kebakaran, hingga cuaca ekstrem dapat merusak aset dan menghambat aktivitas bisnis. 

Kondisi tersebut pada akhirnya bisa memengaruhi kemampuan debitur membayar kewajibannya serta nilai agunan yang menjadi jaminan pembiayaan.

Selain bencana dan perubahan kondisi cuaca, peralihan menuju ekonomi rendah karbon juga membawa tantangan bagi industri keuangan. 

Direktur Niaga dan Operasi PT Surveyor Indonesia (Persero), Euis Emalia Noor, mengatakan perubahan iklim perlu menjadi perhatian perusahaan karena dampaknya dapat menjangkau ketahanan bisnis dan kinerja finansial.

“Perubahan iklim saat ini tidak lagi dapat dipandang hanya sebagai isu lingkungan, tetapi juga sebagai faktor yang dapat memengaruhi ketahanan dan kinerja finansial perusahaan. Karena itu, industri keuangan membutuhkan pendekatan yang mampu menerjemahkan risiko iklim menjadi potensi dampak yang terukur terhadap bisnis dan keuangan,” kata Euis dalam keterangannya, Jumat (9/10).

Perubahan kebijakan, perkembangan teknologi, serta pergeseran preferensi konsumen dan investor dapat memengaruhi kondisi pasar maupun nilai aset.

Karena itu, perusahaan keuangan perlu memperhitungkan risiko iklim dalam menyusun strategi bisnis dan menjaga kesehatan keuangannya.

Risiko perubahan iklim tidak selalu langsung terlihat dalam laporan keuangan. Dampaknya bisa lebih dahulu dirasakan oleh kegiatan usaha, aset, dan kondisi ekonomi, sebelum berkembang menjadi risiko finansial.

Hal ini membuat perusahaan perlu memperkirakan kemungkinan dampak yang dapat muncul pada masa mendatang, bukan hanya menilai kondisi yang sedang terjadi.

Salah satu metode yang dapat digunakan adalah Climate Risk Stress Testing (CRST). Pengujian ini membantu perusahaan menganalisis bagaimana sejumlah skenario perubahan iklim berpotensi memengaruhi bisnis dan profil risiko keuangan.

Hasilnya dapat menjadi bahan pertimbangan untuk menyusun langkah mitigasi sekaligus memperkuat kesiapan perusahaan menghadapi berbagai kemungkinan.

Penerapan CRST perlu disesuaikan dengan karakteristik bisnis masing-masing perusahaan.

Tahapannya meliputi pemeriksaan kesiapan data, pemetaan risiko fisik dan transisi, analisis jalur dampak terhadap risiko perusahaan, serta pengukuran potensi perubahan pada indikator keuangan.

Dengan proses tersebut, risiko iklim dapat dianalisis secara lebih terarah sebagai bagian dari manajemen risiko.

 

“Climate Risk Stress Testing menjadi salah satu instrumen penting untuk memahami tingkat ketahanan perusahaan terhadap berbagai kemungkinan kondisi di masa depan, sekaligus menjadi dasar untuk memperkuat manajemen risiko dan strategi bisnis,” ujar Euis.

 

Untuk mendukung pengelolaan risiko tersebut, PT Surveyor Indonesia (Persero) atau PTSI bekerja sama dengan PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau SMF dalam pelaksanaan CRST. 

 

Kolaborasi ini mencakup penilaian kesiapan SMF dalam mengelola risiko iklim, identifikasi risiko yang sesuai dengan karakteristik bisnis perusahaan, serta pengembangan metode untuk mengukur potensi pengaruhnya terhadap profil risiko dan kondisi keuangan.

 

Kerja sama itu juga diarahkan untuk menyiapkan kerangka dan perangkat pengujian serta meningkatkan pemahaman internal SMF. Dengan demikian, hasil analisis diharapkan dapat digunakan secara berkelanjutan dalam proses pengelolaan risiko, bukan sekadar menjadi evaluasi satu kali.

 

Sebelumnya, PTSI juga telah menjalankan analisis risiko iklim di sejumlah perusahaan lintas sektor, yakni PT Permodalan Nasional Madani (PNM), PT Aviasi Pariwisata Indonesia (InJourney), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI), dan PT Kereta Api Indonesia (Persero) (KAI).

 

Dalam berbagai kegiatan tersebut, PTSI melakukan identifikasi risiko fisik perubahan iklim, menggabungkan data spasial untuk menilai paparan dan indeks risiko bencana, serta menyusun langkah mitigasi yang disesuaikan dengan karakteristik usaha masing-masing perusahaan.

 

EDITOR: Dony Lesmana Eko Putra