← Beranda
Garuda Indonesia Berganti Nakhoda, Ini Tantangan yang Menanti Thomas Oentoro
Djati Waluyo• Senin, 12 Oktober 2026 | 18.35 WIB
Direktur Utama Garuda Indonesia Thomas Sugiarto Oentoro (tengah) melepas keberangkatan calon jamaah haji di Terminal 2, Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Rabu (22/04/2026). (Hanung Hambara/Jawa Pos)

JawaPos.com - Pergantian kepemimpinan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk pada Kamis (8/10) berlangsung di tengah proses transformasi maskapai nasional. Garuda mulai menunjukkan perbaikan kinerja pasca melewati restrukturisasi dan berbagai tekanan bisnis.

Namun, pekerjaan untuk memperkuat kesehatan keuangan, memulihkan kapasitas armada, dan meningkatkan daya saing masih terus berlanjut. Dalam momentum tersebut, Fadjar Prasetyo mengakhiri masa tugasnya sebagai Komisaris Utama setelah lebih dari dua tahun menjabat. Sementara itu, Glenny H. Kairupan beralih dari posisi Direktur Utama menjadi Komisaris Utama. Posisi Direktur Utama kini ditempati oleh Thomas Sugiarto Oentoro.

Keduanya memiliki latar belakang panjang di dunia penerbangan militer, dengan membawa pendekatan kepemimpinan yang berbeda dalam menjalankan mandat korporasi.

Fadjar turut mengawal penguatan tata kelola dan kesinambungan penyehatan perusahaan pada periode krusial pascarestrukturisasi. Sementara Glenny memimpin fase stabilisasi bisnis dan operasional, termasuk percepatan pemulihan armada serta penguatan kinerja perusahaan.

Fadjar Prasetyo, Mengawal Penyehatan dan Fondasi Pemulihan

Fadjar bergabung sebagai Komisaris Utama Garuda Indonesia pada Mei 2024. Sebelum memasuki lingkungan korporasi, dia memiliki pengalaman panjang sebagai penerbang militer dan menjabat Kepala Staf TNI Angkatan Udara periode 2020–2024.

Fadjar dipercaya mengisi posisi tersebut ketika Garuda masih menghadapi fase krusial setelah restrukturisasi. Meski restrukturisasi utang telah ditempuh, perseroan masih membutuhkan pembenahan fundamental untuk menjaga kelangsungan usaha, memperkuat struktur keuangan, dan memulihkan kapasitas operasional.

Dalam kondisi tersebut, Dewan Komisaris berperan memastikan agenda penyehatan dan dukungan permodalan berjalan sesuai prinsip tata kelola, pengelolaan risiko, serta keberlanjutan bisnis.

Bagi Fadjar, pengabdian di lingkungan korporasi merupakan kelanjutan tanggung jawab terhadap kepentingan bangsa. Terlebih, Garuda memiliki dua mandat yang harus berjalan beriringan, yakni sebagai entitas bisnis yang dituntut sehat secara komersial dan sebagai flag carrier yang merepresentasikan Indonesia di dunia internasional.

 

"Bagi saya, komisaris adalah penjaga arah, integritas, dan keberlanjutan perusahaan," ujar Fadjar dalam keterangan yang diterima, Senin (12/10).

Selama masa pengawasannya, Garuda melanjutkan sejumlah agenda strategis untuk menyehatkan perusahaan. Salah satunya melalui penguatan struktur permodalan dengan dukungan BPI Danantara Indonesia dalam program penyehatan senilai total Rp 23,67 triliun.

Dukungan tersebut menjadi bagian penting untuk menopang pemulihan armada, memperkuat operasional, dan menjaga kesinambungan transformasi perusahaan. Fadjar berpandangan fungsi pengawasan tidak sebatas memastikan kepatuhan. Dewan Komisaris juga perlu menguji kualitas keputusan strategis agar perusahaan dapat bergerak secara terukur di tengah tekanan bisnis.

"Jabatan komisaris bukanlah puncak karier. Jabatan tersebut adalah puncak tanggung jawab," ujarnya.

Glenny Kairupan, Memimpin Stabilisasi dan Pemulihan Operasional

Setelah melalui fase penyehatan dan penguatan fondasi perusahaan, tantangan berikutnya adalah menerjemahkan agenda transformasi menjadi stabilitas operasional dan perbaikan kinerja yang terukur.

Fase tersebut menjadi salah satu fokus kepemimpinan Glenny Kairupan. Dia dipercaya menjabat Direktur Utama Garuda Indonesia sejak Oktober 2025, setelah sebelumnya menjadi bagian dari Dewan Komisaris. Di tengah keterbatasan kapasitas armada, tekanan biaya operasional, dan kebutuhan menjaga kualitas layanan, Glenny memprioritaskan stabilisasi bisnis.

Langkah tersebut ditempuh melalui percepatan pemulihan pesawat, penguatan disiplin operasional, dan peningkatan produktivitas perusahaan. Dalam aspek bisnis, stabilisasi armada menjadi prasyarat untuk meningkatkan produktivitas, menjaga keandalan penerbangan, dan mengoptimalkan potensi pendapatan perusahaan.

Sejumlah indikator perbaikan mulai terlihat sepanjang semester I 2026. Garuda Indonesia Group mencatatkan pendapatan USD 1,80 miliar atau tumbuh 16 persen secara tahunan.

 

Laba sebelum bunga dan pajak (earnings before interest and taxes/EBIT) meningkat 12,7 persen menjadi USD 74 juta. Sementara itu, rugi bersih menyusut 23,2 persen menjadi USD 113 juta.

Perbaikan tersebut berlangsung di tengah tekanan biaya avtur yang meningkat 43,6 persen secara tahunan. Kondisi itu menunjukkan adanya kemajuan dalam proses stabilisasi bisnis, meski Garuda masih perlu memperkuat kinerja untuk mencapai profitabilitas secara berkelanjutan.

Capaian tersebut juga mencerminkan kesinambungan agenda transformasi yang dijalankan melalui dukungan pemegang saham, pengawasan Dewan Komisaris, serta kerja kolektif jajaran manajemen dan karyawan.

Thomas Oentoro Melanjutkan Agenda Transformasi

Bagi Thomas Sugiarto Oentoro, menerima estafet kepemimpinan dari Glenny memiliki makna tersendiri. Keduanya telah bekerja bersama sejak Oktober 2025, ketika Thomas dipercaya menjabat Wakil Direktur Utama Garuda Indonesia.

Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya pada Jumat (9/10), Thomas menyampaikan penghormatan kepada Glenny. Dia menilai, Glenny memandang Garuda Indonesia tidak semata-mata sebagai entitas bisnis.

Menurut Thomas, pengalaman mendampingi Glenny memberinya kesempatan untuk memahami keteguhan seorang pemimpin sekaligus belajar dari pandangan seorang negarawan yang melihat Garuda sebagai representasi martabat bangsa dan kepercayaan masyarakat.

Thomas juga menyadari bahwa melanjutkan kepemimpinan di tengah proses transformasi bukanlah tugas ringan. Perseroan masih menghadapi berbagai pembenahan fundamental, keputusan strategis yang kompleks, serta kebutuhan menjaga kesinambungan pemulihan.

Dalam pernyataannya, Thomas menekankan bahwa estafet kepemimpinan bukan berarti memulai kembali dari awal. Sebaliknya, manajemen perlu meneruskan fondasi yang telah dibangun untuk membawa Garuda Indonesia melangkah lebih jauh.

 

Pergantian kepemimpinan tersebut menandai kelanjutan perjalanan transformasi Garuda Indonesia. Pada periode Fadjar, penguatan tata kelola dan pengawasan penyehatan menjadi bagian penting dari agenda perusahaan. Selanjutnya, di bawah kepemimpinan Glenny, perseroan berfokus pada stabilisasi bisnis dan percepatan pemulihan operasional.

Kini, Thomas mendapat mandat untuk melanjutkan pembenahan sekaligus memperkuat profitabilitas dan daya saing perusahaan.

Dengan Glenny melanjutkan pengabdian di Dewan Komisaris dan Thomas memimpin jajaran direksi, tantangan berikutnya adalah memastikan fondasi yang telah dibangun mampu menopang pertumbuhan yang lebih sehat, meningkatkan produktivitas armada, serta menjaga konsistensi kualitas layanan.

Transformasi Garuda Indonesia merupakan proses berkelanjutan yang melintasi periode kepemimpinan. Perbaikan kinerja yang mulai terlihat menjadi pijakan bagi manajemen baru untuk memastikan berbagai pembenahan yang telah dirintis berkembang menjadi kekuatan institusional yang berkelanjutan.

Pada akhirnya, keberhasilan transformasi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan perusahaan untuk bangkit dari tekanan, tetapi juga oleh kemampuan menjaga dan meneruskan kemajuan tersebut di bawah kepemimpinan berikutnya.

 

 

EDITOR: Diar Candra