← Beranda
Kebutuhan Drilling Fluid di Indonesia Timur Melonjak, Pengiriman ke Tangguh LNG Naik 4 Kali Lipat
Rian Alfianto• Selasa, 29 September 2026 | 00.50 WIB
Ilustrasi kilang Pertamina. (Istimewa)

 

JawaPos.com - Kebutuhan bahan kimia khusus untuk kegiatan pengeboran minyak dan gas bumi di Indonesia Timur menunjukkan peningkatan. Salah satu indikasinya terlihat dari pengiriman drilling fluid untuk kegiatan hulu migas di Tangguh LNG, Sorong, Papua Barat, yang mencapai 12.000 barel atau sekitar empat kali lipat dibandingkan pengiriman sebelumnya.

Drilling fluid tersebut berupa Smooth Fluid 05 (SF-05), material yang digunakan sebagai base fluid dalam lumpur pengeboran berbasis minyak atau Oil Base Mud (OBM). Sebelumnya, volume pengiriman produk tersebut berada di kisaran 3.000-5.000 barel.

Peningkatan kebutuhan ini menggambarkan besarnya kebutuhan material pendukung dalam kegiatan pengeboran, terutama ketika aktivitas eksplorasi dan produksi migas berlangsung di wilayah dengan tantangan operasional yang tinggi seperti Indonesia Timur.

Drilling Fluid Punya Peran Penting dalam Pengeboran

Dalam proses pengeboran sumur migas, drilling fluid bukan sekadar cairan pembantu. Material ini memiliki sejumlah fungsi teknis yang berkaitan langsung dengan kelancaran dan pengendalian operasi pengeboran.

SF-05 digunakan sebagai base fluid untuk sistem OBM. Lumpur pengeboran yang dihasilkan membantu membawa serbuk hasil pengeboran atau cutting ke permukaan sehingga lubang sumur tetap dapat dibersihkan selama proses berlangsung.

Fluida pengeboran juga berfungsi mendinginkan dan melumasi mata bor serta rangkaian pipa atau kawat bor. Fungsi lainnya adalah membantu mengontrol tekanan formasi di dalam sumur dan membentuk lapisan tipis atau mud cake pada dinding lubang bor.

Kebutuhan terhadap material dengan fungsi tersebut menjadi bagian dari rantai pasok yang menopang kegiatan hulu migas. Ketika aktivitas pengeboran meningkat, kebutuhan terhadap bahan pendukung seperti drilling fluid ikut menjadi perhatian.

Pengiriman 12.000 Barel jadi Indikator Perubahan Kebutuhan

Pertamina Lubricants melihat peningkatan volume SF-05 yang dipasarkan ke Tangguh LNG sebagai salah satu indikator berkembangnya kebutuhan specialty chemical untuk sektor hulu migas di Indonesia Timur.

"Peningkatan volume SF-05 yang dipasarkan ke Tangguh LNG menjadi salah satu indikator berkembangnya kebutuhan specialty chemical yang berkualitas untuk kegiatan hulu migas di Indonesia Timur. Kami melihat ini sebagai peluang untuk memperluas pemanfaatan produk dalam negeri sekaligus mempertemukan kapabilitas Pertamina dengan kebutuhan industri di kawasan tersebut," ujar Rika Gresia Wahyudi, Corporate Secretary Pertamina Lubricants.

Dari sisi rantai pasok, pengiriman tersebut juga memperlihatkan keterkaitan antara kebutuhan operasi migas di Indonesia Timur dengan kapasitas produksi di dalam negeri.

Produk SF-05 yang digunakan untuk kebutuhan Tangguh LNG diproduksi PT Pertamina Patra Niaga RU V Balikpapan. Sementara Pertamina Lubricants berperan sebagai commercial arm Pertamina untuk bisnis specialty chemical, termasuk mengidentifikasi kebutuhan pasar, membangun hubungan dengan pelanggan, serta memasarkan produk yang dikembangkan dan diproduksi di lingkungan Pertamina Group.

Meski demikian, kebutuhan specialty chemical dalam industri hulu migas memiliki karakter berbeda dengan produk kimia umum. Material yang digunakan harus menyesuaikan kondisi operasi pengeboran, karakteristik sumur, hingga kebutuhan pengendalian tekanan dan stabilitas lubang bor.

Karena itu, peningkatan volume penggunaan drilling fluid juga berkaitan dengan kebutuhan industri terhadap material yang mampu memenuhi spesifikasi teknis operasi.

Dalam konteks Indonesia Timur, kebutuhan tersebut menjadi semakin relevan karena wilayah ini merupakan salah satu kawasan penting dalam pengembangan industri gas nasional.

Tangguh LNG di Papua Barat menjadi bagian dari ekosistem tersebut, dengan aktivitas hulu yang membutuhkan berbagai material dan layanan penunjang.

Bagi industri dalam negeri, kondisi itu membuka ruang untuk memperkuat rantai pasok specialty chemical dari produksi domestik hingga penggunaannya di lapangan migas.

Pertamina Lubricants menyebut pengembangan produk specialty chemical untuk sektor hulu migas diarahkan agar dapat menyesuaikan kebutuhan industri sekaligus meningkatkan pemanfaatan produk domestik.

Langkah tersebut juga ditempatkan dalam konteks upaya memperkuat kemandirian energi nasional, terutama melalui peningkatan kemampuan industri dalam negeri menyediakan material pendukung untuk kegiatan migas.

EDITOR: Estu Suryowati