JawaPos.com - Harga minyak mentah dunia bergerak fluktuatif pada perdagangan Kamis (1/10) di tengah kebuntuan pembicaraan damai Amerika Serikat (AS)-Iran dan mengetatnya pasar bahan bakar minyak (BBM) AS.
Melansir Investing pada pukul 06:40 WIB, kontrak berjangka minyak mentah Brent naik 1,72 poin atau 1,79 persen ke level 97,88 dollar per barel atau lebih rendah jika dibandingkan dengan perdagangan Rabu (30/9) pagi sebesar 96,01 dollar per barel.
Sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat turun 0,33 poin atau 0,36 persen ke level 90,08 dollar per barel atau lebih tinggi jika dibandingkan dengan perdagangan Rabu (30/9) pagi sebesar 89,23 dollar per barel.
Melansir Reuters, Pergerakan harga minyak masih dipengaruhi perkembangan hubungan AS dan Iran. Qatar pada Selasa mengatakan berharap diplomasi antara Teheran dan Washington dapat menghasilkan terobosan.
Baca Juga: Resmi! Tidak Ada Kenaikan Harga BBM Subsidi dan Non Subsidi per 1 Oktober 2026
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump membantah laporan Axios dan CNN yang menyebut dirinya bersedia memberikan keringanan sanksi serta mencairkan dana Iran yang dibekukan sebagai imbalan atas langkah konkret Teheran terkait program nuklirnya.
Sementara itu, pada sisi pasokan, Arab Saudi telah kembali melakukan pemuatan tanker minyak dari pelabuhan Laut Merah Yanbu setelah mengaktifkan kembali jalur pipa East-West.
Goldman Sachs memperkirakan ekspor minyak negara-negara Teluk telah pulih menjadi 23,3 juta barel per hari (bph) dalam sepekan terakhir, sejalan dengan rata-rata 2025. Bank tersebut menyebut ekspor minyak kawasan Teluk meningkat dua kali lipat pada September.
Selain itu, JPMorgan juga memperkirakan, rata-rata ekspor minyak selama 10 hari terakhir mencapai 20,5 juta bph dalam lima hari terakhir atau setara dengan 89 persen dari level 2025.
Kemudian, pasar produk BBM AS menunjukkan kondisi yang semakin ketat. Persediaan bensin AS turun 1,7 juta barel menjadi 204,4 juta barel pada pekan lalu.
Persediaan tersebut mencakup diesel dan minyak pemanas, juga turun 2,3 juta barel menjadi 105,2 juta barel, berdasarkan data Energy Information Administration (EIA).
"Penurunan aktivitas penyulingan mendorong berkurangnya persediaan distilat dan bensin. Aktivitas penyulingan diperkirakan secara bertahap meningkat sehingga dapat membantu mencegah persediaan produk turun ke level yang semakin rendah," ujar Analis Kpler Matt Smith.
Sementara itu, Partner Again Capital di New York, John Kilduff, mengatakan tingginya permintaan distilat secara global membuat konsumen harus membayar harga yang lebih tinggi.
Baca Juga: BEM Sebut Aksi Pengibaran Bendera Bintang Kejora Bukan Mahasiswa USTJ tapi Anggota KNPB
Sedangkan, persediaan minyak mentah AS justru meningkat 922.000 barel menjadi 427,3 juta barel pada pekan yang berakhir 25 September. Angka tersebut berlawanan dengan ekspektasi analis dalam jajak pendapat Reuters yang memperkirakan penurunan 264.000 barel.
Perbedaan harga antara Brent dan WTI juga melebar ke level tertinggi dalam empat bulan. Investor mencermati kemungkinan AS membatasi ekspor diesel yang berpotensi menciptakan kelebihan pasokan di pasar domestik dan membuat kilang AS mengurangi pemrosesan minyak mentah.
Trump mempertimbangkan opsi mengizinkan penjualan diesel berwarna merah sebagai alternatif larangan ekspor. Kebijakan tersebut ditujukan untuk memberikan tekanan harga yang lebih rendah bagi konsumen menjelang pemilihan paruh waktu AS pada November.