← Beranda
Laba Bersih Tumbuh 15,48 Persen capai USD 79,6 Juta, PGE Percepat Ekspansi Panas Bumi
Djati Waluyo• Selasa, 6 Oktober 2026 | 22.00 WIB
PT Pertamina Geothermal Energy (PGE), membukukan laba bersih sebesar USD 79,605 juta pada semester I 2026. (dok. PGE)

 

JawaPos.com - PT Pertamina Geothermal Energy (PGE), membukukan laba bersih sebesar USD 79,605 juta pada semester I 2026 atau tumbuh 15,48 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan laba tersebut sejalan dengan peningkatan pendapatan perseroan yang mencapai USD 235,027 juta atau tumbuh 14,7 persen secara tahunan atau year on year (yoy) dari USD 204,850 juta pada semester I 2025.

Direktur Keuangan PGE Fransetya Hasudungan Hutabarat mengatakan, peningkatan pendapatan ditopang pertumbuhan produksi dan keandalan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP), serta keuntungan selisih kurs yang positif.

"Naiknya pendapatan ditopang pertumbuhan produksi dan keandalan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP), serta keuntungan selisih kurs yang positif," ujar Fransetya dalam keterangan tertulis yang diterima, Selasa (6/10).

Kinerja laba PGE juga menunjukkan akselerasi sepanjang semester I 2026. Pada kuartal I 2026, laba bersih perseroan tercatat USD 43,899 juta dan meningkat menjadi USD 79,605 juta hingga akhir Juni 2026.

Dari sisi struktur permodalan, ekuitas PGE tercatat sebesar USD 2,006 miliar. Sementara itu, liabilitas turun 2,80 persen dibandingkan akhir 2025 menjadi USD 961,184 juta.

Hingga 31 Juli 2026, total produksi PGE mencapai sekitar 3.222 GWh, meningkat 12,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 2.859 GWh.

Capaian tersebut sekaligus menjadi rekor produksi tertinggi perseroan. Untuk keseluruhan 2026, PGE menargetkan produksi mencapai 5.255 GWh, meningkat dari 5.095 GWh pada 2025.

Sementara itu, Lumut Balai mencatat kenaikan produksi paling tinggi, yakni 85,5 persen menjadi 567 GWh setelah Unit 2 beroperasi penuh sejak Juni 2025.

Capacity factor Lumut Balai mencapai 101,14 persen, sedangkan availability factor meningkat menjadi 99,22 persen dari sebelumnya 95,42 persen.

Sementara itu, produksi Kamojang tumbuh 6,3 persen menjadi 1.113 GWh. Capacity factor meningkat menjadi 93,41 persen dari 88 persen seiring dengan meningkatnya permintaan PLN.

Produksi Karaha naik 22,7 persen menjadi 75 GWh berkat tambahan pasokan uap dari Cluster TLG.3. Kemudian, produksi Ulubelu meningkat 1,8 persen menjadi 953 GWh yang didukung tambahan uap dari Cluster M.

Adapun produksi Lahendong naik 1 persen menjadi 514 GWh tanpa gangguan paksa atau equivalent forced outage rate (EFOR) sebesar 0 persen sepanjang periode tersebut.

Secara konsolidasi, capacity factor PGE meningkat menjadi 90,62 persen dari 87,78 persen. Availability factor juga naik menjadi 99,51 persen dari 99,13 persen, sedangkan tingkat gangguan turun menjadi 0,15 persen dari 0,22 persen.

Percepat Ekspansi

PGE juga mempercepat pengembangan sejumlah proyek panas bumi. Salah satunya PLTP Lumut Balai Unit 3 dan 4 di Muara Enim, Sumatra Selatan, yang masing-masing memiliki kapasitas 55 MW.

Pengembangan Unit 3 telah mendapatkan persetujuan Final Investment Decision (FID) pada kuartal I 2026. Pengeboran perdana dilakukan pada 8 Juli 2026 di sumur LMB 19-3 di Desa Babatan, Kecamatan Semende Darat Ulu.

Pengeboran sumur kedua, LMB-19.4, dimulai pada 17 September 2026. Pengembangan PLTP Lumut Balai Unit 3 dan 4 juga masuk dalam Green Book 2026 Kementerian PPN/Bappenas pada Juni 2026.

Status tersebut membuka akses pendanaan melalui potensi pinjaman luar negeri senilai USD 158,86 juta untuk Unit 3 dan USD 148,97 juta untuk Unit 4.

Sejumlah proyek lainnya juga terus dikembangkan. Tarif proyek Lahendong Low Pressure berkapasitas 15 MW telah disepakati pada April 2026.

Sementara itu, proyek Co-Generation dengan kapasitas total 230 MW menargetkan penandatanganan Power Purchase Agreement (PPA) pada kuartal IV 2026.

Di Ulubelu, proyek Gunung Tiga dengan kapasitas 2x27,5 MW dijadwalkan melakukan uji produksi sumur GTG-B1 pada Oktober 2026 dengan target commercial operation date (COD) pada 2029.

Direktur Utama PGE Ahmad Yani mengatakan, pengembangan panas bumi menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan energi nasional karena mampu menyediakan listrik yang bersih sekaligus stabil dan andal.

"Sebagai world leading geothermal producer, PGE memahami bahwa ketahanan energi nasional memerlukan pasokan listrik yang tidak hanya bersih, tetapi juga stabil dan andal. Kinerja yang solid dan proyek yang terus bergerak menjadi fondasi kami untuk tumbuh secara berkelanjutan," ujar Ahmad.

EDITOR: Estu Suryowati