JawaPos.com - Harga minyak mentah dunia kompak naik pada perdagangan Rabu (7/10) seiring kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan akibat badai yang mengancam wilayah produksi minyak Amerika Serikat (AS) serta serangan kelompok Houthi yang didukung Iran terhadap Arab Saudi.
Melansir Investing pada pukul 09:30 WIB, kontrak berjangka minyak mentah Brent naik 0,86 poin atau 0,86 persen ke level 101,43 dolar per barel atau lebih tinggi jika dibandingkan dengan harga yang diperdagangkan Selasa (6/10) pagi sebesar 100,25 dolar per barel.
Sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat naik 0,80 poin atau 0,89 persen ke level 90,26 dolar per barel atau lebih tinggi jika dibandingkan dengan harga yang diperdagangkan Selasa (6/10) pagi sebesar atau lebih tinggi jika dibandingkan dengan harga yang diperdagangkan Selasa (6/10) pagi sebesar 100,25 dolar per barel.
Melansir Reuters, Badan prakiraan cuaca AS pada Selasa (6/10/2026) menyatakan, badai yang terbentuk di Teluk Meksiko diperkirakan menjadi badai Atlantik pertama pada 2026 dalam dua hari ke depan.
Badai tersebut berpotensi menghantam fasilitas produksi minyak dan gas di kawasan itu. Wilayah lepas pantai Teluk Meksiko yang berada di jalur badai menyumbang sekitar 15 persen produksi minyak mentah AS dan 5 persen produksi gas alam negara tersebut.
Selain mengancam kegiatan produksi, badai juga berpotensi mengganggu operasional enam kilang minyak. Kilang-kilang di negara bagian pesisir Teluk Meksiko mencakup sekitar 50 persen dari total kapasitas pengolahan minyak AS yang mencapai 18,2 juta barel per hari.
Kepala analis KCM Trade Tim Waterer mengatakan, badai tersebut menambah tekanan terhadap pasar minyak yang sudah menghadapi sejumlah persoalan pasokan.
"Badai ini menjadi komplikasi yang tidak diinginkan bagi pasar minyak mentah, karena meningkatkan risiko gangguan produksi dan pengolahan pada saat pasar sudah menghadapi cukup banyak persoalan dari sisi pasokan," ujar Wateter.
Meski demikian, peningkatan aliran minyak dari Timur Tengah berpotensi membatasi kenaikan harga. Menteri Energi Arab Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman pada Selasa mengatakan, aliran minyak melalui pipa East-West telah mencapai 5,8 juta barel per hari.
Serangan tersebut terjadi di tengah meningkatnya permusuhan antara Arab Saudi dan kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman. Eskalasi berlangsung ketika pasukan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi melancarkan operasi besar untuk merebut kembali wilayah dari kelompok Houthi setelah kelompok tersebut mencatat kemajuan dalam beberapa pekan sebelumnya.
Riyadh juga meningkatkan serangan udara untuk mendukung operasi tersebut. Kepala analis minyak X Analysts di Sydney Mukesh Sahdev menilai, serangan dan gangguan operasional kilang berpotensi mempertahankan tingginya margin pengolahan minyak serta merambatkan kelangkaan pasokan ke harga minyak mentah.
Kepala analis minyak X Analysts di Sydney Mukesh Sahdev menilai, serangan dan gangguan operasional kilang berpotensi mempertahankan tingginya margin pengolahan minyak serta merambatkan kelangkaan pasokan ke harga minyak mentah.
"Serangan dan gangguan kilang kemungkinan akan menjaga margin pengolahan tetap tinggi, sementara kelangkaan pasokan akan merambat ke minyak mentah. Harga akan bertahan di level tinggi, mendekati US$ 100 per barel, selama tidak ada deeskalasi konflik yang berarti," ujar Sahdev.