← Beranda
Pernah Alami Listrik Padam Total, Pulau Jeju Korea Kini Kejar Target Bebas Karbon pada 2035
Dhimas Ginanjar• Jumat, 9 Oktober 2026 | 17.44 WIB
Bus-bus di stasiun pengisian hidrogen di Pulau Jeju, Korea Selatan. (Kyodo)

JawaPos.com - Pulau Jeju di Korea Selatan mempercepat upaya mencapai netralitas karbon pada 2035 dengan mengandalkan energi terbarukan, kendaraan listrik, hidrogen, hingga pengolahan sampah menjadi listrik. Pulau wisata yang pernah mengalami pemadaman listrik total itu kini berupaya membangun kemandirian energi melalui pemanfaatan sumber daya lokal.

Dilansir dari Kyodo, Jumat (9/10), Jeju mulai mengejar kemandirian energi setelah mengalami pemadaman listrik total pada awal 2000-an akibat gangguan pada kabel bawah laut yang menghubungkan pulau tersebut dengan daratan utama Korea Selatan.

Kejadian itu mendorong pemerintah daerah mencari sumber energi alternatif. Angin dan sinar matahari kemudian menjadi andalan dalam program Carbon Free Island 2030 yang bertujuan mengurangi ketergantungan pada energi berbasis karbon.

"Apa sumber daya yang paling mudah diakses di Jeju? Jawabannya adalah angin dan matahari. Pemanfaatan energi terbarukan secara lebih luas menjadi inti dari program Carbon Free Island 2030," kata Oh Gyeong Seop, Direktur Divisi Industri Energi Provinsi Jeju.

Setelah menghadapi berbagai tantangan, termasuk ketidakstabilan jaringan listrik dan penyimpanan energi, pemerintah daerah memperluas target pada 2024. Jeju kini menargetkan netralitas karbon di seluruh sektor pada 2035.

Target tersebut mencakup produksi energi terbarukan sebesar 7 gigawatt dan hidrogen sebanyak 60.000 ton untuk mengimbangi emisi karbon sebesar 4,74 juta ton.

Data pemerintah daerah menunjukkan energi terbarukan menyumbang 24,3 persen pasokan listrik Jeju pada akhir 2025. Angka itu menjadi yang tertinggi di Korea Selatan, jauh di atas porsi energi terbarukan secara nasional sebesar 10,6 persen pada 2024.

Kendaraan listrik mendominasi lebih cepat

Jeju juga memimpin adopsi kendaraan listrik (EV) di Korea Selatan. Kendaraan listrik mencakup 11,9 persen dari total kendaraan di pulau tersebut, hampir tiga kali lipat rata-rata nasional yang sebesar 4,1 persen.

Salah satu faktor pendukungnya adalah jaringan pengisian daya yang mencapai sekitar 28.000 titik. Sekitar 8.500 di antaranya merupakan fasilitas publik, sedangkan sisanya dimiliki pihak swasta.

Kim Deok Ho, pengemudi taksi berusia 73 tahun yang rutin mengantar wisatawan berkeliling Jeju, mengaku telah menggunakan kendaraan listrik selama lebih dari enam tahun.

Dia menyebut mobil listriknya sebagai "peralatan rumah tangga yang bisa berjalan", bukan sekadar mobil. Menurut Kim, biaya perawatannya hampir nol karena dia tidak perlu rutin mengganti oli mesin atau kampas rem seperti pada mobil konvensional.

"Dengan mobil listrik, yang perlu saya lakukan hanya mencolokkannya untuk mengisi daya pada akhir hari," katanya.

Kim menilai fasilitas pengisian daya di Jeju sudah tersedia di berbagai lokasi, mulai dari sekolah, kantor desa, tempat wisata, hingga area parkir. Pengemudi taksi seperti dirinya juga memasang pengisi daya pribadi di rumah.

Pemerintahan Presiden Lee Jae Myung turut mendorong peralihan tersebut. Saat mendengar rencana agar seluruh mobil baru yang dijual di Jeju menggunakan tenaga listrik pada 2035, Lee mempertanyakan mengapa proses itu harus memakan waktu satu dekade dalam pertemuan dengan masyarakat pada 31 Maret.

Bus hidrogen dan sampah jadi sumber energi

Selain kendaraan berbaterai, Jeju mulai mengembangkan kendaraan berbahan bakar hidrogen. Teknologi ini dinilai menjanjikan, terutama untuk transportasi umum yang membutuhkan daya besar dan jarak tempuh panjang.

Heo Jeong, pengemudi bus hidrogen berusia 59 tahun, mengatakan kendaraan tersebut memiliki tenaga dan jangkauan lebih baik dibandingkan bus listrik berbaterai. Sekali mengisi bahan bakar, bus hidrogen dapat beroperasi selama dua hingga tiga hari. Sementara itu, bus listrik berbaterai perlu mengisi daya dua kali sehari.

"Bus hidrogen jauh lebih bertenaga daripada bus listrik. Setiap pengemudi di sini akan mengatakan hal yang sama," ujar Heo.

Keterbatasan infrastruktur masih menjadi kendala. Jeju baru memiliki satu stasiun pengisian hidrogen. Namun, Heo menilai penambahan beberapa stasiun saja dapat mendorong permintaan.

"Jika ada tiga stasiun saja di seluruh pulau, saya akan menyarankan semua orang di sekitar saya untuk membelinya tanpa ragu karena subsidi pemerintah menanggung 50 persen biaya," katanya.

Penawaran kendaraan hidrogen pertama kepada masyarakat tahun ini menarik 174 pendaftar untuk 79 kuota. Pemerintah daerah menargetkan sekitar 5.300 kendaraan hidrogen beroperasi di Jeju pada 2035.

Jeju juga mengubah sampah menjadi energi melalui Jeju Environmental Resource Circulation Center. Fasilitas tersebut membakar sekitar 400 ton sampah setiap hari dan menghasilkan listrik sebesar 82.000 megawatt-jam per tahun.

Menurut Lee Jae Young, pejabat di pusat tersebut, produksi listrik itu cukup untuk memasok sekitar 20.000 dari total 300.000 rumah tangga di Jeju.

Seluruh listrik yang dihasilkan dijual kepada Korea Power Exchange dengan pendapatan tahunan rata-rata sekitar 12 miliar won. Emisi dari fasilitas tersebut dijaga jauh di bawah batas regulasi dan dipantau setiap jam oleh otoritas lingkungan.

Pertanian juga beralih ke energi terbarukan

Transformasi energi Jeju turut menyentuh sektor pertanian. Pulau tersebut mengembangkan jeruk mandarin RE100, yakni buah yang ditanam menggunakan energi terbarukan sepenuhnya, melalui rumah kaca percontohan milik Jeju Agricultural Research and Extension Services.

Panel surya berbentuk lembaran fleksibel dipasang pada atap rumah kaca yang melengkung. Desain ini dipilih karena rumah kaca jeruk di Jeju umumnya berdiri berdekatan sehingga sulit menyediakan ruang untuk panel surya yang dipasang terpisah di tanah.

Yang Cheol Jun, pemimpin tim di pusat penelitian tersebut, mengatakan fasilitas itu menghasilkan jeruk pertama yang sepenuhnya ditenagai energi terbarukan pada tahun lalu. Pencapaian itu menjadi yang pertama untuk buah yang ditanam di rumah kaca di Korea Selatan.

Namun, penggunaan panel impor dan biaya sistem penyimpanan energi yang tinggi membuat metode tersebut belum praktis untuk diterapkan secara luas.

Oh mengatakan jeruk hanya salah satu contoh penerapan energi bersih di sektor pertanian. Jeju juga telah menghasilkan telur bersertifikasi RE100 dengan merek Jiguran dan susu RE100.

Pemerintah daerah ingin menjadikan Jeju sebagai pusat pertanian yang didukung energi berkelanjutan.

Jaringan listrik masih menjadi tantangan

Meski mengalami kemajuan, Jeju masih menghadapi hambatan menuju netralitas karbon. Jaringan listrik pulau itu kesulitan menampung peningkatan produksi energi terbarukan sehingga pembatasan produksi listrik terjadi sekitar 180 kali pada 2023.

Sebagian warga juga menentang pembangunan stasiun hidrogen karena kekhawatiran akan risiko ledakan.

"Memperluas energi terbarukan saja tidak cukup. Infrastruktur penyimpanan energi dan jaringan listrik juga harus berkembang seiring dengan peningkatan produksi," kata Oh.

Meski begitu, Jeju telah menunjukkan kemajuan penting. Pada 14 April 2025, ketika produksi tenaga angin dan surya mencapai puncaknya secara bersamaan, energi terbarukan mampu memenuhi seluruh kebutuhan listrik pulau selama empat jam berturut-turut.

Jeju bahkan menyalurkan kelebihan listrik ke daratan utama melalui kabel bawah laut dengan daya hingga 180 megawatt.

"Ketika melihat hal itu, saya benar-benar yakin bahwa kita bisa memenuhi seluruh kebutuhan dengan energi terbarukan," kata Oh.

Bagi Jeju yang pernah mengalami pemadaman listrik total akibat gangguan kabel bawah laut, pencapaian tersebut menunjukkan sejauh mana transformasi energi pulau itu telah berkembang.

EDITOR: Dhimas Ginanjar