JawaPos.com - Harga minyak mentah dunia kompak memerah atau turun pada perdagangan Selasa (13/10) pagi di tengah meluasnya konflik di Timur Tengah yang mengancam menghambat pemulihan pasokan dari kawasan tersebut.
Melansir Investing pada pukul 07:05 WIB, kontrak berjangka minyak mentah Brent turun 0,73 poin atau 0,68 persen ke level 105,89 dolar per barel atau lebih tinggi jika dibandingkan dengan harga yang diperdagangkan Senin (12/10) pagi sebesar 103,46 dolar per barel.
Sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat turun 0,58 poin atau 0,61 persen ke level 93,15 dolar per barel atau lebih rendah jika dibandingkan dengan harga yang diperdagangkan Senin (12/10) pagi sebesar 90,62 dolar per barel.
Melansir Bloomberg, Pasar juga meragukan klaim Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengenai adanya “gencatan senjata energi” antara Rusia dan Ukraina.
Rentetan serangan drone dan rudal oleh kelompok Houthi yang didukung Iran terhadap bandara utama Arab Saudi semakin meningkatkan tekanan terhadap Washington untuk mengintensifkan upayanya dalam konflik di Yaman.
Sementara itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan negaranya akan terus menyerang Rusia selama Moskow masih menargetkan infrastruktur energi Ukraina. Trump mengatakan telah terjadi pelanggaran terhadap “gencatan senjata energi” yang diusulkannya. Namun, ia mendesak Zelenskyy dan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk bertemu dan mengakhiri perang.
Serangan terhadap Arab Saudi terjadi tidak lama setelah pasukan koalisi pimpinan Riyadh di Yaman melancarkan operasi untuk merebut kembali wilayah yang dikuasai Houthi. Sementara itu, serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz, jalur strategis yang sangat penting, semakin meningkat.
Situasi ini membuat semakin banyak kapal mengurungkan rencana berlabuh di sebuah pelabuhan di Uni Emirat Arab yang selama ini berperan penting dalam membantu pemulihan ekspor minyak dari Teluk Persia hingga mendekati level sebelum perang.
Spesialis energi di TP ICAP Group, Scott Shelton, mengatakan beberapa hari terakhir dipenuhi rentetan berita yang membingungkan. Kondisi tersebut merujuk pada sejumlah perkembangan, termasuk klaim Trump mengenai “gencatan senjata energi” dan serangan Houthi terhadap Arab Saudi.
“Pekan ini dimulai dengan situasi yang kacau,” ujar Scott.