← Beranda
Dukung Target 100 GWp Energi Surya Prabowo, SUN Energy Bidik 100 MW per Tahun
Djati Waluyo• Jumat, 16 Oktober 2026 | 04.39 WIB
Director of Power SUN, Jefferson Kuesar. (Djati Waluyo/JawaPos.com)

 

JawaPos.com - PT Surya Utama Nuansa (SUN energy), menargetkan setidaknya penambahan 100 megawatt (MW) portofolio pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang akan dibangun oleh perusahaan setiap tahunnya.

Langkah tersebut diharapkan memperbesar kontribusi sektor swasta dalam penambahan kapasitas energi terbarukan nasional sekaligus mendukung visi pengembangan 100 GWp energi surya yang ditargetkan oleh Presiden Prabowo Subianto.

Director of Power SUN, Jefferson Kuesar, mengatakan target tersebut diluar dari PLTS yang akan dibangun lahan bekas tambang oleh SUN Energy.

“Kita pengen paling tidak 80-100 MW setiap tahun minimum untuk kebutuhan yang kita pengen capai. Itu di luar apa yang mau kita lakukan di pertambangan,” ujar Jefferson dalam media gathering SUN Energy, Jakarta, Kamis (15/10).

Jefferson mengatakan, memasuki satu dekade perjalanan di industri energi bersih, SUN telah mengembangkan lebih dari 500 MW kapasitas energi surya melalui lebih dari 400 proyek.

Ia mengatakan, estimasi produksi energi bersih pada 2026, proyek-proyek SUN diperkirakan berkontribusi terhadap pengurangan emisi sekitar 244.549 ton CO₂ per tahun, setara dengan penanaman sekitar 4,06 juta pohon.

Sepuluh tahun pertama SUN menunjukkan bahwa transisi energi dapat berjalan seiring dengan kebutuhan industri terhadap efisiensi, keandalan, dan daya saing. Memasuki dekade berikutnya, kami ingin membawa pengalaman tersebut lebih jauh melalui sistem elektrifikasi yang semakin terintegrasi, dari energi bersih hingga pemanfaatannya dalam aktivitas operasional pelanggan,” ujarnya.

Selain PLTS, SUN memperluas solusi dari pengembangan energi surya menuju sistem elektrifikasi yang lebih terintegrasi. Adapun, hal tersebut mencakup PLTS, sistem penyimpanan dan manajemen energi, kendaraan listrik, infrastruktur pengisian daya, serta sistem digital untuk mendukung pengelolaan energi dan armada.

Pengembangan ini diarahkan terutama pada sektor dengan kebutuhan energi dan aktivitas operasional tinggi, seperti pertambangan, perkebunan, logistik, manufaktur, kawasan industri, dan FMCG.

Director of Mobility SUN, Karina Darmawan, mengatakan melalui produk Mobility, pendekatan tersebut mencakup penyediaan kendaraan listrik, pembangunan infrastruktur pengisian daya, skema pembiayaan atau penyewaan, pemeliharaan kendaraan, serta pemantauan melalui Fleet Management System.

“Salah satu studi kasus SUN pada distributor FMCG di Jabodetabek menunjukkan bahwa penggunaan truk listrik untuk rute sekitar 50 kilometer dengan jam operasional pukul 08.00-17.00 berpotensi menghemat biaya energi hingga 83,6 persen per perjalanan,” ujar Karina.

Ia mengatakan, selain itu dengan perhitungan tersebut juga mampu menurunkan total biaya kepemilikan dan operasional sekitar 15 persen. Karina menyebut, perhitungan tersebut didasarkan pada ketersediaan listrik jaringan dan pola operasional pelanggan.

“Elektrifikasi armada perlu dirancang sebagai bagian dari sistem operasional, bukan hanya melalui penggantian kendaraan. Infrastruktur pengisian daya, pembiayaan, pemeliharaan, dan sumber energi perlu dipersiapkan secara bersamaan agar transisi dapat berjalan efektif dan terukur,” pungkasnya.

EDITOR: Estu Suryowati