← Beranda
The Changcuters Jadi 'Terdakwa' di DCDC Pengadilan Musik, Kiprah 20 Tahun hingga Tur Inggris Disorot
Abdul Rahman• Jumat, 31 Juli 2026 | 06.41 WIB
The Changcuters jadi 'terdakwa' di DCDC Pengadilan Musik. (istimewa)

 

JawaPos.com - Perjalanan lebih dari dua dekade The Changcuters di industri musik Indonesia menjadi sorotan dalam DCDC Pengadilan Musik Edisi ke-65. Mengusung konsep persidangan parodi yang sarat apresiasi, band rock and roll asal Bandung tersebut "diadili" atas konsistensi mereka dalam berkarya, termasuk pencapaian terbaru menggelar tur konser di Inggris.

Acara yang digelar di Yess Café, Bandung, pada Rabu (29/7), menghadirkan suasana sidang yang menghibur. The Changcuters duduk sebagai terdakwa, sementara Pidi Baiq dan Budi Dalton bertindak sebagai jaksa penuntut umum. 

Di sisi lain, Yash Budaya, vokalis Alone At Last, bersama komika Kamaludin Arisatu atau Kamal Ocon menjadi tim pembela. Persidangan dipimpin komedian senior Denny Chandra sebagai hakim ketua, dengan Yoga PHB sebagai panitera, dan disaksikan langsung ratusan penggemar yang tergabung dalam Coklat Friends.

Perwakilan DCDC, Agus Danny Hartono, menjelaskan bahwa The Changcuters dipilih sebagai "terdakwa" karena berhasil menjaga identitas musik mereka selama lebih dari 20 tahun. Mulai dari karakter garage rock, kostum panggung yang khas, hingga aksi panggung penuh energi, semuanya tetap dipertahankan meski band terus berkembang mengikuti zaman.

Baca Juga: Menang Penghargaan JawaPos.com Digital Excellence Awards 2026, Venteny: Servis Kami untuk Kemajuan Indonesia

Menurut Danny, tahun 2026 menjadi momen penting bagi perjalanan The Changcuters. Selain merayakan dua dekade berkarya, grup musik yang dibentuk pada 19 September 2004 juga sukses menggelar tur di tiga kota di Inggris yaitu di Newcastle, Edinburgh, dan London.

"Mereka tampil di tiga kota di Inggris, sekaligus merilis album WOW MA. Dua momentum tersebut menunjukkan bahwa perjalanan The Changcuters masih terus berjalan dan selalu punya cerita baru untuk dibagikan kepada penikmat musik," ujar Danny.

Salah satu topik yang paling menarik dalam persidangan adalah lagu Hijrah ke London yang dirilis pada album Mencoba Sukses tahun 2006. Lirik yang selama bertahun-tahun dianggap sekadar candaan akhirnya benar-benar terwujud ketika The Changcuters tampil di London pada April 2026 dalam rangka tur perayaan 20 tahun perjalanan mereka.

Persidangan juga mengulas awal terbentuknya The Changcuters. Band ini berawal dari lingkungan kampus di Bandung pada 2004 yang digagas oleh Tria, Qibil, dan Dipa. Setahun kemudian Alda dan Erick bergabung, membentuk formasi yang tetap bertahan hingga kini dan menghasilkan sederet lagu yang melekat di generasi 2000-an.

Di hadapan para "hakim", Tria turut mengungkap cerita di balik nama The Changcuters yang selama ini kerap membuat penasaran para penggemar. Ia menegaskan nama tersebut bukan berasal dari arti harfiahnya, melainkan lahir dari sebuah momen berkesan yang dialami kelima personel.

"Nama The Changcuters bukan terinspirasi dari arti katanya. Tapi karena ada sebuah momen yang sangat monumental buat kami. Momen itu membekas sampai sekarang dan menjadi pengingat bagi kami berlima," kata Tria.

Pembahasan kemudian berlanjut pada identitas musikal mereka yang sejak awal memilih jalur garage rock. Tria mengungkapkan bahwa The Strokes, The White Stripes, hingga The Libertines menjadi inspirasi di era kebangkitan garage rock awal 2000-an. Namun yang paling memengaruhi mereka bukan sekadar gaya bermusik, melainkan etos kerja para musisi tersebut.

"Saya meyakini bahwa siapapun band besar yang beraliran rock, di belakangnya mereka sangat serius. Rock and roll yang manggung dengan image ugal-ugalan itu ya cuma penampilannya saja. Di belakangnya, sebenarnya ada banyak kerja keras dan kreativitas. Itu juga yang jadi salah satu benteng atau pondasi kami selama ini," tegas Tria.

Album terbaru WOW MA yang dirilis pada 17 Juni 2026 juga menjadi salah satu bahasan utama. Erick dan Tria menjelaskan, nama album berasal dari seruan "Oma" atau "Omak" yang dahulu sering digunakan teman-teman kos Dipa sebagai ungkapan kekaguman. Seiring waktu, seruan tersebut berubah menjadi penyemangat internal band sebelum maupun sesudah tampil di atas panggung.

Menurut mereka, WOW MA kini bukan hanya menjadi judul album, tetapi juga identitas semangat berkarya The Changcuters, bahkan dipakai sebagai nama label independen mereka.

"Jadi setiap kali manggung seruan WOW MA ini juga kami tularkan kepada para fans, Changcut Rangers dan juga menjadi diksi internal yang kerap kami pakai. Kami menyadari WOW MA ini merepresentasikan karakter serta semangat berkarya The Changcuters sehingga dipilih menjadi nama album baru kami," ujar Erick dan Tria.

Setelah melalui rangkaian "persidangan", Yoga PHB menyampaikan konklusi bahwa The Changcuters berhasil memberikan warna tersendiri bagi industri musik Indonesia melalui identitas yang konsisten, baik dari karya, penampilan, maupun aksi panggung mereka.

Hakim Denny Chandra kemudian mengetuk palu sidang dan menyatakan The Changcuters bebas dari seluruh dakwaan. Putusan tersebut menjadi simbol apresiasi atas perjalanan panjang band asal Bandung itu yang dinilai mampu menjaga eksistensi dan terus melahirkan karya baru setelah lebih dari 20 tahun berkarier di industri musik Indonesia.

Baca Juga: Suami Endah Fitrianingsih Sakit Hati ke Malik Bawazier Atas Kasus Perzinaan

 "Demikian hasil Pengadilan Musik DCDC yang mengadili dan memeriksa perkara nomor 1.65/DCDC/2026 dengan terdakwa The Changcuters dinyatakan bebas dari seluruh dakwaan," ungkap Denny Chandra.

DCDC Pengadilan Musik adalah program yang digelar dalam rangka mengkaji karya-karya para pelaku musik yang berkembang di industri musik Indonesia. Ia juga menjadi wadah apresiasi karya-karya dari para musisi tanah air, yang dikemas dengan konsep persidangan.

EDITOR: Abdul Rahman