JawaPos.com - Kiprah Prof. Dr. Deby Vinski di forum internasional di Venice, Italia, tidak hanya mempertemukannya dengan sejumlah pakar di bidang stem cell, regenerative medicine, dan longevity. Pertemuan tersebut juga membuka peluang kolaborasi di industri perfilman internasional.
Prof. Deby hadir dalam forum yang mempertemukan sejumlah tokoh dan pakar dari berbagai negara. Di antaranya Prof. Dr. Elena Baranova, President World Council of Preventive Medicine (WOCPM) Monaco; Prof. Jaime Rodriguez dari Barcelona; Dr. Daniel Pompa dari Amerika Serikat; serta Dr. Sara Caponigro dari Roma, Italia.
Forum tersebut dimoderatori aktor Hollywood Clayton Norcross, yang dikenal melalui serial televisi The Bold and the Beautiful.
Dalam kesempatan itu, Prof. Deby membawa perspektif Indonesia mengenai preventive medicine, regenerative medicine, stem cell, dan longevity. Ia juga memperkenalkan unsur budaya Nusantara melalui busana yang dikenakan dalam forum tersebut.
Prof. Deby tampil mengenakan kebaya Kutubaru berwarna pink handmade dengan detail payet dari Indonesian Heritage. Busana itu dipadukan dengan kain karya Guruh Soekarno Putra serta clutch Ulos kombinasi crocodile dari Dekranasda Medan, Sumatera Utara.
Baca Juga: Manfaat Terapi Stem Cell, Dari Peremajaan Wajah hingga Regenerasi Sendi
“Saya bangga berdiri di Venice membawa Merah Putih. Saya ingin dunia melihat bahwa Indonesia memiliki ilmu pengetahuan, inovasi, sekaligus budaya yang luar biasa untuk dibanggakan,” ujar Prof. Dr. Deby Vinski.
Prof. Deby juga hadir bersama sahabatnya, Lisa JK, yang turut mengenakan karya busana Indonesia. Kehadiran keduanya menambah unsur budaya Indonesia dalam forum yang dihadiri para profesional dari berbagai negara.
Siapkan Film Hollywood tentang Longevity
Pertemuan di Venice kemudian berkembang ke ranah industri kreatif. Prof. Deby yang juga berperan sebagai produser di Vinski Production disebut tengah menyiapkan proyek film internasional bersama sejumlah aktor Hollywood.
Proyek tersebut direncanakan melibatkan Clayton Norcross dan Andy Garcia. Cerita yang dikembangkan memadukan unsur romance science dengan thriller action, dengan longevity therapy sebagai salah satu tema utama.
Konsep film akan mengangkat perkembangan terapi medis modern dan gagasan mengenai kehidupan yang lebih berkualitas. Proyek tersebut dirancang menjadi karya hiburan yang sekaligus memperkenalkan isu kesehatan dan longevity kepada penonton yang lebih luas.
Proses produksi direncanakan mengambil sejumlah lokasi di Indonesia. Beberapa lokasi yang disebut antara lain Jimbaran di Bali, Vinski Tower di Jakarta, serta kawasan Pangkalan Bun, Kalimantan.
Selain menjadi bagian dari produksi film, pemilihan lokasi tersebut berpotensi memperkenalkan lanskap dan destinasi Indonesia kepada penonton internasional.
Fokus pada Stem Cell dan Longevity
Prof. Deby selama ini aktif membawa isu preventive medicine, regenerative medicine, stem cell, dan longevity dalam berbagai forum internasional.
Di Indonesia, Vinski Tower dan CELLTECH Stem Cell Centre disebut menjadi bagian dari layanan yang dikembangkan Prof. Deby di bidang tersebut. Layanan itu mengedepankan pendekatan personal dan privasi pasien.
Dalam materi yang disampaikan, Prof. Marhaen Hardjo dari Komite Sel Punca juga menyinggung teknologi Quantum yang diterapkan dalam ekosistem layanan tersebut. Teknologi itu disebut tersedia secara terbatas di sejumlah fasilitas, termasuk Vinski Tower Indonesia dan salah satu fasilitas medis di Jepang.
Selain itu, layanan stem cell Prof. Vinski disebut memperoleh pengakuan sebagai Centre of Excellence dari BD, perusahaan teknologi medis asal Amerika Serikat.
Klaim mengenai teknologi dan pengakuan tersebut menjadi bagian dari positioning CELLTECH Stem Cell Centre dalam pengembangan layanan berbasis teknologi untuk terapi sel punca.
Di tengah perkembangan regenerative medicine, aspek ilmiah, inovasi, serta penerapan standar pelayanan menjadi bagian yang terus ditekankan Prof. Deby. Pembahasan tersebut juga menjadi salah satu cara memperkenalkan perkembangan bidang kedokteran regeneratif Indonesia dalam jejaring internasional.
Dari Venice Berlanjut ke London
Kehadiran Prof. Deby di Venice tidak hanya membawa isu ilmu pengetahuan, tetapi juga budaya Indonesia. Kebaya, kain Nusantara, dan Ulos yang dikenakan menjadi bagian dari identitas Indonesia yang ditampilkan di tengah forum internasional.
Menurut materi yang disampaikan, langkah tersebut menjadi bentuk soft diplomacy melalui jalur profesi, ilmu pengetahuan, seni, dan budaya.
Setelah agenda di Venice, Prof. Deby dijadwalkan melanjutkan agenda internasional ke World Consensus di London. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan 15 tahun WOCPM.
Forum di London akan kembali mempertemukan sejumlah pihak yang bergerak di bidang preventive medicine, regenerative medicine, dan longevity.
Dari forum ilmiah hingga rencana produksi film internasional, rangkaian agenda tersebut memperluas ruang bagi isu longevity sekaligus membuka peluang bagi Indonesia untuk tampil melalui ilmu pengetahuan, industri kreatif, dan budaya.