← Beranda
Seni dan Budaya Nusantara Semarak di Galeri Indonesia Kaya Selama September
Abdul Rahman• Rabu, 30 September 2026 | 21.16 WIB
Salah satu kegiatan seni dan budaya Nusantara yang digelar Galeri Indonesia Kaya di bulan September 2026. (istimewa)

 

 

JawaPos.com - Galeri Indonesia Kaya kembali menghadirkan rangkaian pertunjukan seni dan program Ruang Kreatif sepanjang September 2026. Tidak hanya menyajikan pertunjukan di atas panggung, program tersebut juga memberi kesempatan kepada masyarakat untuk belajar dan terlibat langsung dalam berbagai bentuk seni budaya Indonesia.

Rangkaian kegiatan yang berlangsung sepanjang September itu mencakup musik, tari, sastra, cerita rakyat, hingga karya lintas media. Sejumlah kesenian tradisional seperti angklung, sape, dan tari Jaipongan dipertemukan dengan format pertunjukan yang lebih kontemporer sehingga dapat dinikmati oleh penonton dari berbagai latar belakang.

Program dibuka pada 5 September melalui Harmoni Nusantara persembahan Ikreasindo. Pertunjukan tersebut membawa penonton menikmati keberagaman musik dan lagu daerah Indonesia, mulai dari lagu Janger dari Bali, Sing Sing So, hingga Rame-Rame.

Penonton juga diajak memainkan angklung bersama sebelum pertunjukan ditutup dengan Medley Nusantara. Format interaktif tersebut menjadi salah satu cara untuk membuat penonton tidak hanya menyaksikan pertunjukan, tetapi ikut merasakan pengalaman berkesenian.

Baca Juga: Alyssa Daguise Sedih Wajah Baby Soso Terekspos ke Publik

Sehari setelahnya, pada 6 September, Galeri Indonesia Kaya berkolaborasi dengan Jakarta Poetry Slam melalui program NgeZine Yuk! Dengan Ika Vantiani.

Dalam kegiatan tersebut, peserta diajak mengenal zine sebagai medium alternatif untuk menuangkan gagasan dan pengalaman personal. Bersama Ika Vantiani, seniman, kurator, sekaligus perajin asal Jakarta, peserta mengeksplorasi kolase dan berbagai bentuk visual untuk menghasilkan karya yang bersifat personal.

Program kemudian berlanjut dengan Ruang Kreatif: Kelas Alat Musik Sape bersama Uyau Moris pada 7–10 September. Musisi dan komposer asal Kalimantan Utara itu memperkenalkan sape, alat musik petik tradisional masyarakat Dayak Kenyah.

Peserta tidak sekadar mendapatkan pengetahuan mengenai sape, tetapi juga mempelajari teknik dasar memainkannya. Hasil pembelajaran kemudian dipentaskan dalam uji pentas pada 12 September di hadapan penonton Galeri Indonesia Kaya.

Pada tanggal yang sama, Uyau Moris juga menghadirkan Borneo Sounds of Heritage: Vibrasi Dawai Dayak. Pertunjukan lintas media tersebut menempatkan sape sebagai elemen utama untuk membawa penonton mengenal kehidupan dan perjalanan budaya masyarakat Dayak.

Menariknya, bunyi sape dipadukan dengan musik modern. Pertemuan tersebut menunjukkan bagaimana alat musik tradisional dapat dikembangkan melalui pendekatan kekinian tanpa menghilangkan karakter budayanya.

Format lain yang digunakan untuk memperkenalkan budaya Indonesia hadir melalui Live Podcast Cerita Rakyat bersama RAPOT. Reza, Anka, Radhini, dan Abigail membawakan kisah Nyi Roro Kidul melalui gaya bertutur khas mereka.

Pemilihan format podcast menjadi pendekatan berbeda dalam memperkenalkan cerita rakyat kepada masyarakat. Kisah yang selama ini berkembang melalui tradisi lisan dikemas dalam medium yang lebih dekat dengan kebiasaan konsumsi konten masyarakat saat ini.

Pada 14–17 September, Ruang Kreatif kembali menghadirkan Kelas Tari Gagak Koncar bersama Jugala Raya. Peserta mempelajari salah satu bentuk tari Jaipongan dari Tanah Sunda yang mengandung nilai keberanian, kesetiaan, dan kebijaksanaan.

Setelah menjalani empat sesi pembelajaran, peserta mendapat kesempatan menampilkan hasil latihan melalui uji pentas pada 19 September.

Uji pentas tersebut sekaligus menjadi pembuka pertunjukan NISKALA – Suara Kepulauan oleh Svbito String Quartet feat Dhea Seto.

Empat musisi perempuan dari Svbito String Quartet membawakan sejumlah lagu daerah yang telah diaransemen untuk format string quartet. Sementara itu, Dhea Seto hadir sebagai penari tunggal yang menerjemahkan karakter serta nilai budaya dari berbagai daerah melalui gerak dan ekspresi.

Rangkaian program September kemudian ditutup pada 26 September melalui Warih, persembahan Kelompok Kesenian Tambua Tansa Sabariyah.

Karya tersebut mengangkat perjalanan sebuah tradisi dalam kehidupan masyarakat, termasuk proses pewarisan nilai budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Tabuhan tambua khas masyarakat Danau Maninjau menjadi bagian penting dalam pertunjukan yang merefleksikan perjuangan, kemenangan, sekaligus tantangan dalam mempertahankan warisan budaya.

Kelompok Kesenian Tambua Tansa Sabariyah sendiri telah berdiri sejak 1994 dan terus melanjutkan tradisi hingga generasi ke-10. Keberadaan kelompok tersebut memperlihatkan bagaimana kesenian tradisional dapat bertahan melalui proses regenerasi di tengah perubahan zaman.

Program-program tersebut sekaligus memperlihatkan pendekatan Galeri Indonesia Kaya dalam memperkenalkan budaya Indonesia. Masyarakat tidak hanya ditempatkan sebagai penonton, tetapi juga diberi kesempatan untuk belajar, berkreasi, dan menampilkan hasil proses berkesenian.

“Indonesia tidak pernah kehabisan kekayaan seni dan budaya untuk terus diperkenalkan dan dihidupkan kembali di tengah masyarakat. Galeri Indonesia Kaya hadir sebagai ruang publik untuk memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia sekaligus melihat bagaimana tradisi dapat tetap relevan bagi generasi masa kini,” ujar Program Director Galeri Indonesia Kaya, Renitasari Adrian.

Menurut Renitasari, rangkaian program tersebut dirancang agar masyarakat mendapatkan pengalaman yang lebih dekat dengan seni dan budaya Indonesia.

Baca Juga: Azriel Hermansyah Larang Ashanty Bocorkan Rencana Pernikahan

“Melalui rangkaian program di bulan September ini, kami menghadirkan pengalaman yang tidak hanya menyuguhkan berbagai pertunjukan, tetapi juga memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk berinteraksi dan terlibat langsung dalam seni dan budaya, bahkan menampilkan hasil pembelajaran di hadapan publik,” katanya.

EDITOR: Abdul Rahman