← Beranda
Profil Israel Houghton, Penyanyi yang Ditolak Imigrasi Gelar Konser di Indonesia
Abdul Rahman• Selasa, 6 Oktober 2026 | 18.27 WIB
Penyanyi gospel asal Amerika Serikat, Israel Houghton dilarang masuk ke Indonesia karena terindikasi mendukung Israel. imigrasi memastikan tidak akan menerbitkan visanya. (Instagram @ditjen_imigrasi)

 

JawaPos.com - Israel Houghton menjadi sorotan setelah pemerintah Indonesia memastikan tidak memberikan izin untuk rencana konsernya di Tanah Air. Direktorat Jenderal Imigrasi menegaskan menolak permohonan visa Houghton apabila dia mengajukannya untuk kembali tampil di Indonesia.

Keputusan tersebut membuat sosok Israel Houghton ikut menjadi perhatian publik. Selama lebih dari tiga dekade, pria asal Amerika Serikat itu dikenal sebagai penyanyi gospel, penulis lagu, produser, arranger, sekaligus worship leader yang memiliki pengaruh besar dalam musik Kristen kontemporer.

Lantas, siapa sebenarnya Israel Houghton dan bagaimana perjalanan kariernya hingga dikenal sebagai salah satu nama besar di dunia musik gospel?

Profil Israel Houghton

Baca Juga: Prediksi Jirayut Jitu, Timnas Indonesia Menang Lawan Thailand

Israel Houghton lahir di Oceanside, California, Amerika Serikat, pada 19 Mei 1971. Ia tumbuh dalam lingkungan yang multikultural dan kemudian menjadikan pengalaman tersebut sebagai salah satu warna utama dalam karya musiknya.

Houghton dikenal lewat kemampuannya memadukan gospel dengan sejumlah genre seperti musik Kristen kontemporer, jazz, rock, soul, hingga unsur musik dari berbagai budaya. Perpaduan tersebut membuat musik yang dibawakannya memiliki karakter berbeda dibandingkan musik gospel konvensional.

Kariernya di bidang pelayanan musik dimulai sejak 1989. Beberapa tahun kemudian, Houghton mendirikan New Breed Ministries pada 1995 bersama sejumlah musisi dan penyanyi. Dari sinilah kemudian berkembang nama Israel & New Breed yang menjadi identitas utama dalam perjalanan musiknya. 

Perjalanan Karier Israel & New Breed

Israel Houghton mulai membangun karier rekamannya pada akhir 1990-an. Album seperti Whisper It Loud dan Way of the World menjadi bagian awal perjalanan musiknya sebelum Israel & New Breed semakin dikenal lewat album New Season pada 2001.

Popularitasnya terus berkembang melalui sejumlah karya, termasuk album Real pada 2002 dan Live from Another Level pada 2004. Album-album tersebut memperlihatkan ciri khas Houghton dalam menggabungkan musik worship dengan elemen gospel dan musik populer.

Salah satu titik penting kariernya datang melalui Alive in South Africa, proyek yang direkam di Cape Town pada 2005. Karya tersebut kemudian membawa Israel & New Breed meraih Grammy untuk kategori Best Traditional Gospel Album pada 2007. 

Selain sebagai penyanyi, Houghton juga aktif sebagai penulis lagu dan produser. Sejumlah lagu yang lekat dengan namanya antara lain "Friend of God", "Again I Say Rejoice", "Jesus at the Center" dan "Your Presence Is Heaven".

Israel Houghton Dapat Banyak Penghargaan Grammy

Prestasi Israel Houghton tidak berhenti pada satu penghargaan. Dalam catatan Grammy Awards, hingga 2026 ia tercatat memiliki delapan kemenangan Grammy dan 19 nominasi.

Beberapa penghargaan tersebut diraih melalui karya Israel & New Breed maupun kolaborasinya dengan musisi gospel lainnya. Di antaranya kemenangan untuk album The Power of One, Love God. Love People., serta Covered: Alive in Asia.

Pada Grammy 2026, Israel & New Breed juga tercatat sebagai pemenang kategori Best Contemporary Christian Music Album melalui Coritos Vol. 1. Pencapaian tersebut menunjukkan bahwa karier Houghton tetap berjalan dan mendapatkan pengakuan di industri musik Kristen internasional.

Israel Houghton dan Musik Lintas Budaya

Salah satu kekuatan utama Israel Houghton terletak pada pendekatan musiknya yang berusaha melewati batas budaya dan denominasi.

Israel & New Breed sejak awal membawa konsep musik worship yang memadukan berbagai latar belakang. Situs resmi grup tersebut menggambarkan misi mereka sebagai upaya menjembatani budaya, bahasa dan generasi melalui musik.

Pendekatan itu pula yang membuat Houghton tidak hanya dikenal di Amerika Serikat. Bersama Israel & New Breed, ia telah melakukan perjalanan dan pertunjukan di berbagai negara serta membangun basis penggemar internasional.

Mengapa Konser Israel Houghton Ditolak di Indonesia?

Sorotan terhadap Israel Houghton di Indonesia kali ini bukan semata karena karier musiknya. Pemerintah memutuskan melarang rencana konser Israel & New Breed yang dijadwalkan berlangsung di Jakarta pada 24 Oktober 2026.

Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra mengatakan keputusan tersebut berkaitan dengan pertimbangan keamanan dan kekhawatiran konser dimanfaatkan untuk kegiatan politik yang mendukung Israel.

Menurut pemerintah, kegiatan serupa di sejumlah negara disebut pernah dikaitkan dengan pernyataan politik mengenai dukungan terhadap Israel. Pemerintah menilai hal tersebut sensitif karena tidak sejalan dengan posisi politik luar negeri Indonesia yang memberikan dukungan terhadap perjuangan rakyat Palestina. 

Direktur Jenderal Imigrasi Hendarsam Marantoko kemudian menegaskan bahwa hingga 5 Oktober 2026 belum ada permohonan visa atas nama Israel Houghton. Namun, apabila Houghton mengajukan visa untuk kedatangannya kali ini, Imigrasi menyatakan akan menolaknya.

Hendarsam menyebut nama Houghton telah dimasukkan ke dalam subject of interest untuk pemantauan keimigrasian. Pemerintah mempertimbangkan kepentingan masyarakat, harmoni sosial dan keamanan nasional dalam menerapkan kebijakan tersebut.

Menariknya, Houghton sebelumnya pernah memperoleh visa performa (performer visa) untuk Indonesia pada Januari 2026. Artinya, keputusan terbaru tersebut berkaitan dengan rencana kedatangannya kali ini dan pertimbangan pemerintah terhadap situasi yang berkembang, bukan karena statusnya sebagai musisi gospel.

Baca Juga: Dede Sunandar Buka Suara Setelah Pingsan Kena Pukulan Vicky Prasetyo di Atas Ring Tinju

Bagi publik Indonesia, polemik ini akhirnya membuat nama Israel Houghton kembali menjadi perbincangan. Di luar kontroversi terkait rencana konsernya, ia tetap tercatat sebagai salah satu figur penting dalam perkembangan musik gospel dan contemporary Christian music dunia dengan perjalanan karier lebih dari tiga dekade serta koleksi penghargaan Grammy yang cukup panjang.

EDITOR: Abdul Rahman