JawaPos.com - Martha Tilaar, pendiri Martha Tilaar Group sekaligus salah satu pelopor industri kosmetik lokal Indonesia, meninggal dunia pada Rabu, 14 Oktober 2026, dalam usia 89 tahun.
Kepergiannya menandai berakhirnya perjalanan panjang seorang pengusaha perempuan yang berhasil mengembangkan bisnis kecantikan dengan memadukan ilmu modern, bahan alami, dan tradisi perawatan tubuh Nusantara.
Kabar duka tersebut juga disampaikan melalui akun Instagram resmi Sariayu Martha Tilaar.
"In loving memory, Dr. (H.C) Martha Tilaar. Segenap Keluarga Besar Martha Tilaar Group menyampaikan duka cita yang mendalam atas berpulangnya pendiri dan panutan kami," tulisnya.
Baca Juga: Penipuan Emas Rp25 Miliar, Jennifer Coppen Hentikan Kerja Sama Usai Menerima Keluhan
"Dedikasi, karya, dan semangat beliau dalam memajukan kecantikan serta warisan Nusantara akan terus hidup dan menginspirasi kita selamanya. Terima kasih atas segenap pengabdian dan teladan bagi Indonesia," imbuh akun Instagram sariayu_mt.
Pengusaha Martha Tilaar bukan sekadar identik dengan produk kosmetik yang dikenal masyarakat Indonesia. Ia juga merupakan sosok penting di balik perkembangan usaha kecantikan yang berawal dari sebuah salon sederhana di Jakarta hingga kemudian tumbuh menjadi kelompok bisnis yang mencakup kosmetik, perawatan tubuh, pendidikan kecantikan, salon, dan spa.
Perjalanan tersebut menjadikan Martha sebagai salah satu figur penting dalam perkembangan industri kecantikan nasional. Ia membuktikan bahwa kekayaan alam dan pengetahuan tradisional Indonesia dapat dikembangkan menjadi produk modern yang memiliki nilai ekonomi.
Profil dan Latar Belakang Martha Tilaar
Martha Tilaar lahir dengan nama Martha Handana. Ia lahir di Gombong, Jawa Tengah, pada 4 September 1937. Ia kemudian dikenal luas sebagai pengusaha yang mendedikasikan sebagian besar perjalanan hidupnya untuk mengembangkan industri kecantikan di Indonesia.
Sebelum menekuni bisnis kosmetik, Martha menempuh pendidikan di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Jakarta, yang kini dikenal sebagai Universitas Negeri Jakarta. Ia bahkan sempat menjalani profesi sebagai guru sebelum akhirnya menemukan jalannya di bidang kecantikan.
Perubahan arah kariernya semakin kuat ketika ia mengikuti suaminya, Henry Alex Rudolf Tilaar, ke Amerika Serikat untuk melanjutkan pendidikan pada 1960-an.
Di negara tersebut, Martha mempelajari ilmu kecantikan di Academy of Beauty Culture di Bloomington, Indiana. Pengalaman itu memberinya bekal untuk memahami perawatan kecantikan secara profesional, mulai dari teknik perawatan hingga pengelolaan usaha salon.
Pengalaman belajar di luar negeri juga memperluas pandangannya mengenai peluang industri kecantikan. Namun, Martha tidak lantas meninggalkan akar budaya Indonesia. Sebaliknya, ia melihat potensi besar dari bahan alami dan tradisi perawatan tubuh yang telah lama dikenal masyarakat di Nusantara.
Memulai Bisnis dari Salon Sederhana di Menteng
Perjalanan bisnis Martha Tilaar dimulai pada 1970 ketika ia membuka Martha's Salon di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Usaha tersebut bermula dari ruang sederhana di garasi rumah dengan modal sekitar Rp1 juta, yang berasal dari tabungan dan bantuan keluarga.
Dari tempat yang terbatas itu, Martha membangun usaha dengan mengandalkan keterampilan, ketekunan, dan pelayanan kepada pelanggan. Salon tersebut perlahan berkembang hingga ia membuka tempat usaha berikutnya, Martha Griya Salon.
Pengalaman mengelola salon menjadi fondasi penting bagi Martha untuk memahami kebutuhan konsumen Indonesia. Ia tidak hanya menawarkan layanan kecantikan, tetapi juga mulai mengembangkan pendekatan perawatan yang memanfaatkan tanaman herbal serta pengetahuan tradisional.
Langkah tersebut menjadi titik awal lahirnya gagasan bisnis yang kemudian melekat pada nama Martha Tilaar: menggabungkan warisan kecantikan Indonesia dengan pendekatan profesional dan pengembangan produk modern.
Mendirikan Perusahaan Kosmetik dan Membesarkan Sariayu
Setelah membangun usaha salon, Martha Tilaar memperluas kiprahnya ke industri produksi kosmetik. Pada 1 Juni 1977, ia mendirikan PT Martina Berto bersama Bernard Pranata dan Theresia Harsini Setiady.
Perusahaan tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam perkembangan bisnisnya. Melalui PT Martina Berto, Martha mengembangkan Sariayu Martha Tilaar, merek kosmetik yang membawa identitas kecantikan Indonesia melalui pemanfaatan bahan alami dan inspirasi budaya Nusantara.
Sariayu kemudian dikenal melalui produk riasan wajah, perawatan kulit, dan berbagai produk kecantikan lainnya. Identitas lokal menjadi salah satu pembeda merek tersebut di tengah persaingan industri kosmetik yang terus berkembang.
Martha Tilaar juga memperluas portofolio bisnisnya melalui merek lain, antara lain Biokos, Caring Colours, Belia, dan PAC. Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa strateginya tidak berhenti pada satu merek, tetapi berupaya menjangkau kebutuhan konsumen dari segmen yang berbeda.
Dari usaha yang awalnya berfokus pada pelayanan salon, bisnis Martha berkembang menjadi ekosistem industri yang melibatkan produksi, pemasaran, distribusi, serta pengembangan sumber daya manusia di bidang kecantikan.
Mengangkat Kekayaan Alam dan Tradisi Kecantikan Indonesia
Salah satu hal yang membedakan Martha Tilaar dari banyak pengusaha kosmetik lainnya adalah konsistensinya mengangkat kekayaan alam Indonesia sebagai inspirasi pengembangan produk.
Ia melihat tanaman herbal dan ramuan tradisional bukan sekadar bagian dari kebiasaan turun-temurun, melainkan juga sumber pengetahuan yang dapat dikembangkan melalui riset dan pengolahan modern.
Pendekatan tersebut tercermin dalam pengembangan berbagai produk kecantikan dan perawatan tubuh yang mengusung bahan alami. Martha berupaya mempertemukan tradisi dengan kebutuhan konsumen modern, tanpa sepenuhnya melepaskan identitas budaya yang menjadi dasar bisnisnya.
Di tengah pertumbuhan industri kosmetik lokal, pendekatan ini ikut memperkuat gagasan bahwa produk Indonesia dapat membangun identitas tersendiri dan bersaing melalui karakter, inovasi, serta pemahaman terhadap kebutuhan pasar domestik.
Membangun Pendidikan dan Tenaga Profesional Kecantikan
Kontribusi Martha Tilaar tidak hanya terlihat melalui produk yang beredar di pasaran. Ia juga mengembangkan pendidikan kecantikan melalui Puspita Martha, yang menjadi bagian dari upayanya menyiapkan tenaga profesional di bidang tata rias, perawatan rambut, dan layanan kecantikan.
Langkah tersebut memperlihatkan bahwa Martha Tilaar memahami industri kecantikan sebagai bidang yang membutuhkan keterampilan dan keahlian, bukan sekadar penjualan produk.
Pendidikan dan pelatihan menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem bisnisnya. Melalui pengembangan tenaga profesional, industri kecantikan memiliki peluang untuk menciptakan lapangan kerja sekaligus meningkatkan standar pelayanan kepada konsumen.
Dengan demikian, warisan bisnis Martha tidak hanya berbentuk merek kosmetik, tetapi juga pengetahuan dan keterampilan yang dapat diteruskan kepada generasi berikutnya.
Warisan Martha Tilaar bagi Industri Kecantikan Nasional
Selama lebih dari lima dekade, Martha Tilaar mengembangkan bisnis yang berangkat dari usaha sederhana menjadi salah satu nama yang dikenal dalam industri kecantikan Indonesia. Perjalanannya memperlihatkan bagaimana pengalaman pendidikan, ketekunan berwirausaha, dan pemanfaatan kekayaan budaya dapat menjadi fondasi untuk membangun usaha jangka panjang.
Kehadirannya juga menjadi bagian dari sejarah berkembangnya produk kecantikan lokal ketika pasar kosmetik semakin kompetitif. Ia membawa gagasan bahwa identitas Indonesia dapat menjadi nilai tambah, bukan hambatan, dalam mengembangkan merek.
Kepergian Martha pada usia 89 tahun meninggalkan pekerjaan besar bagi generasi penerus untuk menjaga relevansi bisnis kecantikan lokal di tengah perubahan tren, teknologi, dan preferensi konsumen.
Baca Juga: Martha Tilaar, Pendiri Kosmetik Martha Tilaar Meninggal, Tinggalkan Warisan Besar
Namun, jejak yang ia tinggalkan tetap menjadi bagian penting dari perjalanan industri kosmetik Indonesia. Dari salon sederhana di Menteng hingga pengembangan berbagai merek kecantikan, Martha Tilaar telah menunjukkan bahwa bisnis dapat tumbuh dengan menjadikan pengetahuan modern dan kekayaan tradisi sebagai dua unsur yang saling melengkapi.