← Beranda
Ditolak SEA Games, Malah Diterima Jadi Volunteer Piala Dunia Mini
Dhimas Ginanjar• Kamis, 27 Juli 2017 | 12.45 WIB
Mita Yulian Sasmita dan Armania Bawon Kresnamurti saat menjadi volunteer di Piala Konfederasi

Indonesia ikut ambil bagian dalam Piala Konfederasi 2017 yang dilangsungkan di Rusia 17 Juni-2 Juli lalu. Melalui para dutanya yang bertugas sebagai volunteer, Indonesia mendapat respek di level internasional.



DIAR CANDRA


--


’’Dari Indonesia ya?,’’ kata perempuan berjilbab juga berkacamata itu penuh keyakinan, Senin (26/6). Satu kawan lainnya yang juga berkerudung serta berkacamata pun langsung mengumbar senyum. Saya dan fotografer Dipta Pratomo yang baru beberapa hari menginjakkan kaki di Rusia tak bisa mengelak.



Padahal, dari beberapa kesempatan bertemu wisatawan di Rusia, kami yang berkulit coklat serta berwajah Melanisia sering disangka orang Thailand atau Filipina. Pertemuan kami dengan dua volunteer Piala Konfederasi 2017 itu terjadi di muka area Istana Kremlin Kazan. Atau, menjelang semifinal Piala Konfederasi 28 Juni lalu antara Chile versus Portugal.



Keduanya langsung menyapa hangat Jawa Pos yang jadi satu-satunya media Indonesia peliput Piala Konfederasi 2017. Mereka memperkenalkan diri dengan nama Mita Yulian Sasmita. Selain Mita, ada juga Armania Bawon Kresnamurti. Mita berasal dari Jakarta. Sedang Arma, dari Malang.



Mita kemudian menceritakan proses seleksi menjadi volunteer yang tidak mudah. Seleksi administrasi oleh FIFA dilakukan sejak Juli 2016 lalu. Kemudian, selain tes kemampuan bahasa Inggris, ada training oleh FIFA lewat Skype untuk mereka yang dinyatakan lolos administrasi.



"Jarak waktu setelah kita mendaftar dan diinterview itu sekitar enam bulan. Jadi, deg-degan nunggunya," ucap Mita.



Mita yang merupakan pengajar di salah satu tempat kursus Bahasa Inggris ini menggemari sepak bola sejak Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat. Sejak itu, Mita tak pernah absen mengupdate info juga menonton dari layar kaca helatan akbar sepak bola seperti Piala Dunia maupun Euro.



"Dari situ kemudian saya punya mimpi, gimana caranya bisa ada di event besar sepak bola. Nah, impian itu akhirnya kesampaian saat ini," ucap Mita. Selain menggemari sepak bola di layar kaca, Mita juga tak pernah absen hadir di Stadion Utama Gelora Bung Karno.



Entah untuk mendukung timnas Indonesia atau laga eksebisi klub-klub Eropa. "Nonton sepak bola itu bikin ketagihan," ujar Mita.



Ada satu cerita Mita sebelum diterima menjadi volunteer Piala Konfederasi 2017. Ceritanya, sebelum mendaftar volunteer, Mita mengajukan diri berpartisipasi dalam pesta olahraga Asia Tenggara di Malaysia 19-30 Agustus mendatang. Sayangnya sejak seleksi awal relawan SEA Games 2017, Mita sudah terpental.



"Eh, pas kita udah daftar dapat email balasan rupanya hanya orang Malaysia yang bisa jadi volunteer SEA Games. Ditolak di sana, alhamdulillah malah diterima di Piala Konfederasi ini," tutur Mita.



Selama bertugas kurang lebih tiga pekan di Kazan, Mita berkisah ada banyak hal yang dipelajari. Misal soal karakter orang Rusia. Meski kesan pertama mereka dingin, namun setelah kenal orang Rusia adalah pribadi yang ramah.



Juga ada kekagetan lain. Yakni karena periode malam di Kazan lebih lama. Maka, saat istirahat malam seringkali matahari masih muncul. "Padahal udah jam 21.00 waktu setempat. Tapi akhirnya biasa dan bisa tidur," jelas Mita.



Sedangkan Arma, sapaan Armania Bawon mengaku tahap demi tahap seleksi menuju Piala Konfederasi diikutinya dengan sabar. Mahasiswi Sastra Jepang Universitas Brawijaya tersebut sebenarnya deg-degan selama setahun belakangan. 



Arma, yang namanya terinspirasi dari kelompok suporter Arema yakni Aremania, mengaku sejak kecil sudah akrab dengan sepak bola. Di usia yang belum sepuluh tahun, Arma sering jadi bagian dari ribuan Aremania mendukung timnya di stadion. Entah di Stadion Gajayana atau Stadion Kanjuruhan.



Arma pada Piala Konfederasi 2017 ditempatkan pada bidang spectator service. Di bagian ini, Arma punya tanggung jawab membantu serta memenuhi semua kebutuhan para suporter.



"Kita mendata pelaporan barang yang hilang oleh suporter atau mungkin ada keluhan lain. Juga pekerjaan-pekerjaan yang ringan seperti menyimpankan baby stroller atau menunggu telepon yang sedang di-charge," ucap Arma.



Bertemu banyak orang sangat menyenangkan buat Arma. Apalagi sejak belia, Arma sudah mengenal pemain-pemain seperti Alessandro Del Piero atau Philipp Lahm. Nama terakhir adalah idolanya di lapangan hijau. 



Nah, ketika proses menjadi volunteer ini, dalam pengurusan awal mereka hanya membayar visa juga tiket penerbangan dari tanah air. Sedang untuk fasilitas penginapan dan makanan, semuanya ditanggung FIFA. 



Kalau Arma dan Mita datang dari tanah air, maka tidak dengan Ahmad Nabawi. Pria asal Jakarta yang bersekolah Kazan Aviation ini berpartisipasi sebagai volunteer karena memang suka berkegiatan sosial. Dan kebetulan banyak kegiatan di Kazan ini yang melibatkan volunteer. "Jadi sudah biasa jadi volunteer acara A, seminggu kemudian acara B," ujar Nabawi.



Salah satu momen paling menyenangkan buat Nabawi di Piala Konfederasi ini adalah berfoto dengan pemain idolanya. Nabawi yang mengagumi timnas Jerman, berkesempatan foto dengan bek Jerman yang membela Arsenal Shkodran Mustafi.

EDITOR: Dhimas Ginanjar