JawaPos.com - Bagi Alfa, bisa kembali melangkahkan kaki dengan stabil merupakan sebuah pencapaian yang dulu mungkin sulit dibayangkan. Penyintas stroke pendarahan di otak yang sempat mengalami kelumpuhan motorik itu kini mampu berjalan menyusuri trotoar hingga sudut-sudut jalan Kota Bandung.
Pada Sabtu (3/10), Alfa bahkan menuntaskan perjalanan sejauh 21 kilometer bersama Komunitas Mlampah Ziarah Chapter Bandung. Bukan sekadar jalan kaki, perjalanan tersebut dilakukan dengan menyusuri rute yang membentuk lambang burung Garuda sebagai bagian dari peringatan Hari Kesaktian Pancasila 2026.
Di balik setiap langkah yang terlihat kokoh, tersimpan perjalanan panjang Alfa untuk bangkit dari kondisi ketika sebagian tubuhnya mengalami kelumpuhan motorik akibat stroke pendarahan di otak.
"Kegiatan jalan kaki bersama komunitas Mlampah Ziarah ini tidak hanya sekadar mengandalkan kekuatan fisik saja, tetapi kekuatan iman dan mental bahwa aku bisa, semampu mungkin tidak memaksakan kemampuan diri,” ungkap Alfa penuh haru usai menyelesaikan perjalanannya.
Rute berbentuk burung Garuda tersebut rupanya tidak dibuat secara spontan. Menurut Petra Naray, salah satu anggota Mlampah Ziarah Chapter Bandung, rute itu telah dipersiapkan sejak Agustus 2026.
Rute tersebut bahkan beberapa kali diuji untuk memastikan jalur yang akan dilewati aman bagi para peserta. Sebab, perjalanan tidak hanya melewati jalan aspal perkotaan, tetapi juga memasuki jalan-jalan di kawasan perkampungan padat penduduk.
Sementara itu, bagi Ketua Chapter Bandung Komunitas Mlampah Ziarah Deny M. Tri Aryadi, perjalanan tersebut memiliki makna tersendiri. Langkah para peserta menyusuri rute berbentuk Garuda menjadi salah satu bentuk rasa cinta terhadap Tanah Air sekaligus momentum memperingati Hari Kesaktian Pancasila.
Bagi Alfa, perjalanan 21 kilometer itu juga memiliki arti yang jauh lebih personal. Setiap kilometer yang ditempuh menjadi pengingat atas perjalanan panjang yang telah dilaluinya. Dari kondisi tubuh yang sempat kaku dan tidak berdaya akibat stroke pendarahan di otak, Alfa kini mampu kembali berjalan jauh bersama orang-orang yang mendukungnya.
Alfa ingin menunjukkan bahwa vonis stroke yang menyebabkan kelumpuhan motorik bukan berarti akhir dari segalanya. Namun, perjuangannya kini tidak berhenti pada pemulihan diri.
Pria berusia 48 tahun itu juga aktif secara mandiri menjadi mentor bagi pasien stroke dan memberikan penguatan emosional kepada keluarga yang berperan sebagai caregiver.
Menurut Alfa, masih banyak keluarga yang kebingungan ketika pasien stroke diperbolehkan pulang dari rumah sakit dengan kondisi gerak motorik yang masih terbatas. Dalam kondisi tersebut, Alfa berusaha hadir untuk memberikan pendampingan dari sisi non-medis berdasarkan pengalaman yang telah dilaluinya.
Pengalaman sebagai penyintas membuat setiap langkah Alfa memiliki makna tersendiri. Jalan kaki bukan hanya soal seberapa jauh jarak yang mampu ditempuh, tetapi juga menjadi cara untuk menyampaikan pesan bahwa proses pemulihan membutuhkan keyakinan dan semangat.
Alfa sendiri telah menggemari olahraga lari sejak 2012. Ia bahkan pernah menyelesaikan menjalani debut Half Marathon dalam ajang Singapore Marathon 2014.
Kini, setelah pernah berada dalam kondisi tubuh yang sulit digerakkan, ia kembali menapaki perjalanan panjang dengan caranya sendiri. Perjalanan 21 kilometer bersama Mlampah Ziarah Chapter Bandung menjadi salah satu penanda bahwa langkah yang dulu terasa mustahil kini kembali bisa dilakukan.
Di akhir percakapan, Alfa menyampaikan terima kasih kepada anggota Komunitas Mlampah Ziarah Chapter Bandung yang telah mendampinginya sejak awal hingga perjalanan berakhir.
Bagi Alfa, rute Garuda yang terbentuk dari langkah kaki mereka hari itu bukan sekadar gambar di peta Kota Bandung. Rute tersebut menjadi simbol perjalanan, semangat, dan keyakinan untuk terus bergerak meski pernah berada dalam keterbatasan.