Baca Juga: Sosok Biarawati Sr. Klara Duha Menghidupkan Asa Anak Berkebutuhan Khusus dari Nias
"Nilai-nilai yang mereka pelajari tidak berhenti di lingkungan gereja, tetapi juga dibawa ke dunia kerja, kehidupan profesional, dan masyarakat," ujar Bonaventura Feduoti Wisanggeni yang kerap disapa Aven.
Melalui berbagai program pembinaan, termasuk seminar rohani, pendampingan komunitas, serta kesempatan menjadi pewarta dan pengajar, anak muda mendapatkan ruang untuk belajar sekaligus mengambil tanggung jawab.
Dalam peringatan 50 tahun Gerakan Pembaruan Karismatik Katolik (PKK) di Indonesia, kata dia, pihaknya ingin memperlihatkan bahwa keterlibatan anak muda dalam kehidupan beragama tidak hanya berdampak pada pertumbuhan iman.
Baca Juga: Ikuti Jejak Alice Munro dan Saul Belllow, Pujangga Kanada Anne Carson Raih Nobel Sastra 2026
Tapi juga menjadi proses pembentukan karakter yang bermanfaat dalam kehidupan profesional dan masyarakat.
Pengalaman tersebut tercermin dalam perjalanan Angeline Vania, seorang anak muda Katolik yang telah aktif dalam komunitas dan pelayanan selama sekitar 10 tahun.
Keterlibatan Vania bermula ketika merantau untuk melanjutkan pendidikan tinggi.
Saat itu, dia membutuhkan lingkungan pertemanan yang dapat mendukungnya beradaptasi sekaligus bertumbuh secara pribadi.
Melalui komunitas mahasiswa Katolik, Vania kemudian memperoleh pendampingan dan mulai dipercaya memimpin berbagai kegiatan, termasuk retret mahasiswa.
"Dalam pelayanan, saya belajar bahwa tidak semua hal bisa dicapai secara instan. Ada proses yang harus dijalani, ada perbedaan pendapat, bahkan kegagalan," ujar Angeline Vania.
"Justru melalui pengalaman itu saya belajar untuk tidak mudah menyerah dan mengandalkan kekuatan dari Tuhan. Pelajaran ini juga saya bawa ke dunia kerja," imbuh dia.
Sementara itu, Romo Moderator BPN PKK Indonesia RD Yustinus Hilman Pujiatmoko, memandang perjalanan 50 tahun ini sebagai kesempatan untuk memperkuat kesinambungan pembinaan dan pelayanan antargenerasi.
Baca Juga: Peringati Hari Kesaktian Pancasila, Alfa Penyintas Stroke Jalan Kaki 21 KM Dengan Rute Garuda
Melalui pendampingan yang berkelanjutan, kata dia, orang muda diharapkan tidak hanya menjadi peserta kegiatan keagamaan, tetapi juga semakin berani mengambil tanggung jawab, menjadi pemimpin, dan menghidupi nilai-nilai iman dalam kehidupan sehari-hari.
Uskup Delegatus Penasihat Episkopal BPN PKK Mgr. Fransiskus Tuaman Sasfo Sinaga menekankan bahwa hasil perjalanan panjang gerakan ini tidak pertama-tama diukur dari pencapaian fisik atau perkembangan organisasinya, melainkan dari perubahan kehidupan orang-orang yang terlibat di dalamnya.
Dia juga mengingatkan pentingnya menerjemahkan pengalaman iman menjadi panggilan untuk melayani sesama, khususnya mereka yang miskin dan membutuhkan perhatian.
Baca Juga: Bacaan Misa Gereja Katolik Minggu, 4 Oktober 2026: Hari Minggu Biasa XXVII