← Beranda
Taiwan Bantah Ada Kerja Paksa Mahasiswa Indonesia di Negaranya
Dyah Ratna Meta Novia• Jumat, 4 Januari 2019 | 21.22 WIB
Kepala Taiwan Economic and Trade Office (TETO) atau Perwakilan Kantor Dagang dan Ekonomi Taiwan di Jakarta, John Chung Chen membantah kabar kerja paksa yang dialami 300 mahasiswa Indonesia dan mahasiswa asing dari negara lain

JawaPos.com - Kepala Taiwan Economic and Trade Office (TETO) atau Perwakilan Kantor Dagang dan Ekonomi Taiwan di Jakarta, John Chung Chen membantah kabar kerja paksa yang dialami 300 mahasiswa Indonesia dan mahasiswa asing dari negara lain, dalam program kuliah-magang di negaranya. Chen juga mengatakan, kalau pun ada universitas yang melakukan pelanggaran akan segera dilakukan investigasi.


"Laporan terkait penyiksaan dan eksploitasi terhadap mahasiswa Indonesia oleh universitas tidak benar. Ini hoax," kata Chen dalam jumpa pers di Jakarta pada Jumat (4/1).


Menanggapi pengakuan seorang mahasiswa di salah satu universitas yang mengatakan, mereka bekerja 160 jam per bulan, Chen mengatakan, TETO akan mencaritahu.


"Kementerian Luar Negeri RI sedang melakukan investigasi, TETO juga sedang mencari tahu. Kalau memang ada tindakan ilegal akan ditindak tegas," kata Chen.


Berdasarkan peraturan Pemerintah Taiwan, Chen menyatakan, setiap siswa program kuliah-magang di tahun pertama tidak akan diizinkan bekerja lebih dari 20 jam setiap pekan, kecuali saat liburan musim panas dan musim dingin.


Dia menjelaskan, program ini sebenarnya adalah 4 hari kerja/ magang, 2 hari kuliah, dan 1 hari libur. Maksimal bekerja adalah delapan jam per hari.


Dengan rincian, mahasiswa bekerja maksimal 20 jam per minggu yaitu empat hari, dan 20 jam lainnya adalah part time atau kerja paruh waktu. Akan tetapi, untuk kerja paruh waktu, mahasiswa boleh memilih tidak mengambilnya.


"Ada yang mengatakan ini program untuk bekerja bukan kuliah. Tapi, benar ini program buat teman-teman yang kurang mampu, dia bisa kuliah sambil bekerja," lanjut Chen.


Langkah selanjutnya adalah TETO dan beberapa pihak akan menginvestigasi semua universitas yang mengampu program tersebut. Dia menambahkan, investigasi reguler juga dilakukan.


"Seperti misalnya di Universitas Hsin Wu, sudah enam kali dikunjungi untuk dilihat kualitasnya, ini dilakukan mulai 2017," lanjut Chen.

EDITOR: Dyah Ratna Meta Novia