JawaPos.com – Seruan untuk tidak membeli produk yang dituding mendukung Israel muncul di berbagai platform media sosial beberapa hari terakhir.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga telah mengeluarkan fatwa yang melarang dukungan terhadap serangan Israel ke Palestina, baik secara langsung maupun tidak langsung, sebagaimana tercantum dalam Fatwa No. 83/2023 tentang Hukum Dukungan terhadap Perjuangan Palestina.
Umat Islam diminta untuk menghindari transaksi dan menggunakan produk Israel serta yang terkait dengan Israel atau mendukung penjajahan.
Baca Juga: Berhasil Jawab Tantangan Pasar, Unilever Catat Laba Rp 1,4 Triliun di Kuartal III-2023
Tujuan aksi boikot ini, yaitu menghentikan dukungan terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam atau mendukung tindakan Israel terhadap rakyat Palestina.
Seperti yang diketahui, sebelumnya McDonald's menjadi sasaran boikot karena dianggap memberikan dukungan kepada Israel.
Menanggapi hal ini, PT Rekso Nasional Food, pemegang waralaba McDonald's Indonesia mengeluarkan pernyataan resmi yang menyatakan keprihatinan mereka terhadap eskalasi konflik di Gaza, Palestina.
Dalam pernyataannya, segenap direksi dan karyawan berkeinginan mendukung upaya dari berbagai pihak, termasuk pemerintah Indonesia dengan memberikan bantuan kemanusiaan kepada korban.
Dikutip dari laman Unilever pada Sabtu (18/11), pernyataan senada juga dikeluarkan Unilever dalam menanggapi aksi boikot terhadap produk mereka.
Pernyataan Unilever Indonesia menyebutkan bahwa perusahaan tersebut merasa sedih dan prihatin melihat konflik di Timur Tengah yang telah menyebabkan banyak warga sipil yang tidak bersalah menjadi korban.
Baca Juga: Sahamnya Bergejolak, Unilever Jelaskan Isu PHK Karyawan
Unilever menjelaskan bahwa mereka akan memberikan bantuan kemanusiaan dengan mendukung Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional.
“Doa kami selalu menyertai mereka yang terdampak di masa-masa yang luar biasa sulit ini,” tulis di dalamnya.
Mereka juga menjelaskan tentang kontribusi Unilever Indonesia terhadap pembukaan lapangan kerja bagi hampir 5.000 karyawan melalui 8 pabrik di Indonesia.
“Kami akan terus berfokus pada upaya kami untuk terus memberikan kontribusi positif bagi Indonesia,” lanjutnya.