← Beranda
Pengangguran Jepang Naik Jadi 2,5 Persen pada Agustus, Pertama Kali dalam Lima Bulan
Dhimas Ginanjar• Jumat, 2 Oktober 2026 | 19.45 WIB
Ilustrasi. Pekerja di Jepang. (hr.asia)

JawaPos.com - Tingkat pengangguran Jepang naik menjadi 2,5 persen pada Agustus, dari 2,4 persen pada bulan sebelumnya. Kenaikan ini menjadi yang pertama dalam lima bulan terakhir.

Dilansir dari Kyodo, Jumat (2/10), Kementerian Dalam Negeri dan Komunikasi Jepang mencatat jumlah orang yang bekerja naik 30.000 dari Juli menjadi 68,34 juta orang setelah disesuaikan secara musiman.

Di antara penduduk yang tidak bekerja, sebanyak 810.000 orang berhenti dari pekerjaan secara sukarela, kemungkinan untuk mencari kondisi kerja yang lebih baik. Jumlah tersebut naik 8 persen dibandingkan Juli.

Sementara itu, jumlah pekerja yang diberhentikan mencapai 400.000 orang, meningkat 5,3 persen dari bulan sebelumnya. Jumlah orang yang baru mencari pekerjaan juga naik 2,2 persen menjadi 460.000 orang.

Seorang pejabat kementerian mengatakan kondisi pasar kerja Jepang masih tergolong baik. Menurut dia, lebih banyak orang yang meninggalkan pekerjaan untuk mencari peluang yang lebih baik dibandingkan mereka yang berhenti karena alasan lainnya.

"Peningkatan pekerja yang meninggalkan pekerjaan secara sukarela tampaknya menjadi faktor utama kenaikan tingkat pengangguran terbaru," kata pejabat tersebut.

Dalam dua tahun terakhir, tingkat pengangguran Jepang selalu kembali naik pada bulan setelah turun menjadi 2,4 persen atau lebih rendah.

Data terpisah dari Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja dan Kesejahteraan Jepang menunjukkan rasio ketersediaan pekerjaan tidak berubah dari Juli, yakni 1,18. Artinya, tersedia 118 lowongan pekerjaan untuk setiap 100 pencari kerja.

Dari 11 sektor yang dipantau, delapan sektor mengalami penurunan jumlah lowongan. Penurunan terbesar terjadi pada sektor akomodasi dan restoran yang anjlok 11,1 persen, disusul sektor perdagangan grosir dan ritel yang turun 10,2 persen.

Sebaliknya, tiga sektor mencatat peningkatan lowongan. Sektor manufaktur naik 3,9 persen, sedangkan sektor informasi dan komunikasi meningkat 3,3 persen.

EDITOR: Dhimas Ginanjar