← Beranda
Benjamin Netanyahu Hadapi Ancaman dari Oposisi Menjelang Pemilu Israel
Risma Azzah Fatin• Sabtu, 3 Oktober 2026 | 05.05 WIB
Dukungan warga Israel untuk Netanyahu terpecah menjelang pemilu Israel (The Guardian)

 

 

JawaPos.com – Warga Israel terpecah menjelang pemilu Knesset pada 27 Oktober 2026 yang berpotensi mengakhiri kekuasaan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu setelah bertahun-tahun memimpin pemerintahan.

Dilansir dari laman The Guardian pada Jum'at (2/10), Jajak pendapat Channel 13 menunjukkan blok oposisi memperoleh proyeksi 52 kursi, sedangkan blok pemerintahan Netanyahu 51 kursi, sementara mayoritas pemerintahan membutuhkan sedikitnya 61 dari 120 kursi Knesset.

Gadi Eisenkot melalui Partai Yashar juga memimpin proyeksi perolehan partai dengan 22 kursi, sedangkan Likud yang dipimpin Netanyahu diproyeksikan memperoleh 18 kursi.

Perpecahan terlihat di tengah masyarakat Israel, dengan sebagian pemilih tetap mendukung Netanyahu dan kelompok sayap kanan, sementara lainnya menginginkan perubahan kepemimpinan setelah perang dan meningkatnya persoalan ekonomi serta sosial.

Dukungan terhadap Netanyahu masih kuat di sejumlah kalangan, tetapi pemilih lain menilai pemerintah perlu mengubah arah kebijakan, termasuk dalam menangani keamanan, ekonomi, wajib militer, dan hubungan dengan masyarakat Palestina.

Situasi tersebut membuat hasil pemilu sulit dipastikan karena tidak satu pun blok utama dalam jajak pendapat terbaru mencapai ambang 61 kursi untuk membentuk pemerintahan secara mandiri.

Peluang pembentukan pemerintahan berikutnya juga dipengaruhi posisi partai-partai yang mewakili warga Palestina di Israel, yang sebelumnya diproyeksikan dapat memperoleh sejumlah kursi penting.

Komite Pemilihan Pusat Israel pada September memutuskan mendiskualifikasi Ra’am dan Joint List dari pemilu, tetapi keputusan tersebut masih menjalani proses peninjauan Mahkamah Agung setelah kedua kelompok mengajukan banding.

Dengan persaingan yang ketat dan peta politik yang terfragmentasi, pemilu mendatang diperkirakan menjadi ujian penting bagi Netanyahu maupun kelompok oposisi dalam menentukan pemerintahan Israel berikutnya.

 

***

EDITOR: Novia Tri Astuti