← Beranda
G7 Mau Lepas 100 Juta Barel Cadangan Minyak Darurat, Harga Minyak Dunia Turun
Djati Waluyo• Selasa, 6 Oktober 2026 | 16.35 WIB
Ilusttrasi harga minyak dunia. (Pexels/Ganesh Ramsumair)

JawaPos.com - Harga minyak mentah dunia kompak turun pada perdagangan Selasa (6/10), akibat meningkatnya ekspor minyak mentah dari Timur Tengah serta rencana negara-negara G7 melepas stok darurat ke pasar.

Melansir Investing pada pukul 07:20 WIB, kontrak berjangka minyak mentah Brent turun 0,07 poin atau 0,07 persen ke level USD 100,25 per barel.

Sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat turun 0,20 poin atau 0,22 persen ke level USD 89,25 per barel.

Melansir Reuters, pelemahan harga minyak masih terbatas karena kekhawatiran gangguan pasokan akibat perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran serta meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.

Baca Juga: 7 Negara OPEC+ Sepakat Pertahankan Batas Produksi Minyak November

Data pengiriman yang dirilis pada Senin (6/10) menunjukkan ekspor minyak mentah dari Timur Tengah berada di atas level sebelum perang dalam empat dari tujuh hari pada pekan terakhir September. 

Presiden Lipow Oil Associates Andrew Lipow mengatakan, kondisi tersebut terjadi meski kapal tanker masih menghadapi risiko serangan ketika melintasi Selat Hormuz. 

"Meski kapal tanker masih menghadapi risiko, harapannya pada akhirnya lebih banyak minyak dapat mencapai pasar," ujar Andrew.

Di sisi lain, negara-negara G7 pada Jumat sepakat melepas 100 juta barel diesel dan minyak mentah dari cadangan darurat.

Negara-negara tersebut juga berjanji tidak menerapkan pembatasan ekspor energi setelah mendapat tekanan dari Presiden AS Donald Trump.

Baca Juga: BPMA–PGE Bersama Koperasi Keuramat Jaya Tanda Tangani Kerja Sama Produksi Minyak Masyarakat di Aceh

Meski demikian, Analis Raymond James Pavel Molchanov menilai pasar masih skeptis terhadap rencana tersebut. 

Pasalnya, belum jelas berapa banyak minyak dalam kesepakatan baru itu, yang berasal dari sisa volume pelepasan cadangan darurat sebesar 400 juta barel hasil koordinasi International Energy Agency (IEA) yang diumumkan pada Maret lalu. 

Sementara itu, Analis PVM Oil Associates, Tamas Varga, mengatakan gencatan senjata di Timur Tengah masih sulit tercapai.

Konflik baru antara Arab Saudi dan kelompok Houthi yang didukung Iran juga berpotensi mempertahankan risiko geopolitik di sektor energi. 

"Gencatan senjata di Timur Tengah masih sulit tercapai. Permusuhan baru antara Arab Saudi dan Houthi yang didukung Iran akan memastikan serangan terhadap infrastruktur energi dan kapal terus terjadi," ujar Varga.

Baca Juga: Inovasi Pengeboran Pertamina Berhasil Tambah Potensi Produksi Minyak 5.605 BOPD

Menurut dia, kondisi tersebut akan menjaga premi risiko geopolitik tetap tinggi di pasar minyak. CEO Saudi Aramco Amin Nasser juga memperkirakan pasokan minyak mentah dan bahan bakar olahan masih akan ketat. 

Pengisian kembali stok minyak global setelah adanya penarikan cadangan darurat, menurut dia, dapat membutuhkan waktu hingga dua tahun.

Di AS, persediaan minyak mentah dalam Strategic Petroleum Reserve (SPR) turun menjadi 283 juta barel pada pekan lalu.

Berdasarkan data Departemen Energi AS yang dirilis Senin, level tersebut merupakan yang terendah sejak Oktober 1982.

Baca Juga: Harga Minyak Naik, Konflik AS-Iran Kembali Ancam Pasokan Energi

EDITOR: Bayu Putra