JawaPos.com - Arab Saudi akan mendapatkan dukungan pasukan dan kapabilitas militer dari Pakistan dan Turki menyusul meningkatnya ancaman serangan kelompok Houthi Yaman. Ketiga negara sepakat mempercepat pengerahan pasukan ke Arab Saudi sebagai bagian dari implementasi Aliansi Makkah untuk Pertahanan.
Kesepakatan itu diumumkan setelah pertemuan darurat Komite Politik dan Pertahanan Strategis Aliansi Makkah di Riyadh, Senin (5/10). Pertemuan tersebut digelar untuk membahas ancaman keamanan yang dihadapi Arab Saudi, termasuk serangkaian serangan yang menyasar wilayah dan fasilitas strategis negara tersebut.
Dalam pernyataan bersama yang diunggah melalui akun resmi Kementerian Pertahanan Arab Saudi di media sosial X, Pakistan dan Turki menyatakan kesiapan menyediakan pasukan serta kemampuan militer yang diperlukan. Kedua negara juga memastikan pengerahan dapat dilakukan dengan cepat sesuai komitmen dalam aliansi pertahanan tersebut.
Baca Juga: Didatangi Ombudsman, Kepala BGN Akui Terbuka Bila Harus Diinvestigasi
Makkah dan Madinah Jadi Perhatian Utama
Salah satu poin paling keras dalam pernyataan ketiga negara adalah kecaman terhadap upaya yang disebut menargetkan Makkah dan Madinah.
Arab Saudi, Pakistan, dan Turki juga mengecam serangan berkelanjutan yang menyasar sejumlah kota serta fasilitas sipil dan ekonomi di Arab Saudi.
Ketiga negara menegaskan bahwa ancaman terhadap salah satu pihak tidak dapat dipandang sebagai persoalan keamanan nasional yang berdiri sendiri. Mereka menyatakan keamanan masing-masing negara merupakan bagian dari keamanan kolektif ketiganya.
"Keamanan setiap pihak merupakan bagian integral dari keamanan kolektif ketiganya," demikian pernyataan bersama tersebut.
Baca Juga: Salah Satunya Emil Audero! Berikut Reaksi Bahagia 3 Kiper Timnas Indonesia Usai Juara FIFA ASEAN Cup
Kesepakatan itu menjadi penting karena menunjukkan bahwa perjanjian pertahanan yang sebelumnya bersifat strategis mulai diterjemahkan ke dalam bentuk kesiapan militer yang lebih konkret.
Ketiga negara menyebut penerapan Perjanjian Pertahanan Bersama Makkah ke dalam langkah-langkah praktis akan memperkuat daya tangkal, kesiapan militer, dan integrasi pertahanan.
Ancaman Houthi Meningkat
Langkah tersebut berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan antara Arab Saudi dan kelompok Houthi yang berbasis di Yaman.
Pada Juli lalu, Houthi mengumumkan larangan maritim terhadap pelayaran Arab Saudi. Setelah itu, kelompok tersebut melancarkan serangan terhadap kapal tanker serta fasilitas minyak Arab Saudi.
Ancaman terhadap sektor maritim dan infrastruktur energi menjadi perhatian serius bagi Riyadh karena Arab Saudi merupakan salah satu pemain utama dalam industri minyak global.
Baca Juga: Nobar Laga Indonesia vs Thailand Digelar Pemprov Jatim, Wujud Kebersamaan Masyarakat
Gangguan terhadap fasilitas energi maupun jalur pelayaran berpotensi memberikan dampak lebih luas, bukan hanya terhadap keamanan nasional Saudi, tetapi juga terhadap stabilitas pasokan energi dan perdagangan kawasan.
Karena itu, pengerahan pasukan dari Pakistan dan Turki dapat dipandang sebagai upaya meningkatkan kemampuan pencegahan sekaligus memperkuat respons apabila ancaman terhadap Arab Saudi kembali meningkat.
Apa Isi Aliansi Makkah?
Baca Juga: Pemkab Nunggak Bayar Sewa, Mahasiswa Yahukimo Menungsi, Wagub Papua Pegunungan Turun Tangan
Arab Saudi, Pakistan, dan Turkiye menandatangani Perjanjian Pertahanan Bersama Makkah pada 7 Agustus di Makkah, Arab Saudi.
Kesepakatan tersebut menetapkan prinsip bahwa serangan terhadap salah satu negara penanda tangan akan diperlakukan sebagai serangan terhadap ketiganya.
Dengan prinsip itu, ancaman terhadap Arab Saudi tidak lagi hanya menjadi persoalan Riyadh. Pakistan dan Turkiye memiliki komitmen untuk memberikan dukungan sesuai mekanisme pertahanan yang telah disepakati.
Pertemuan darurat di Riyadh pada 5 Oktober menjadi salah satu langkah konkret pertama yang menunjukkan bagaimana komitmen tersebut mulai diterapkan di tengah meningkatnya ancaman dari Houthi.
Bagi Arab Saudi, kehadiran dukungan militer dari dua negara mitra strategis dapat memperkuat kesiapan pertahanan. Sementara bagi Pakistan dan Turki, keterlibatan tersebut memperlihatkan bahwa Aliansi Makkah mulai bergerak dari kesepakatan politik menuju kerja sama pertahanan yang lebih operasional.