JawaPos.com — Eropa dinilai memiliki talenta untuk menandingi Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok dalam kecerdasan buatan (AI), tetapi masih kekurangan kendali atas model dan infrastruktur komputasi. Chairman sekaligus salah satu pendiri Alibaba, Joe Tsai, menilai model AI terbuka atau open source menjadi jalan paling realistis bagi Eropa untuk membangun kedaulatan teknologi.
Dilansir dari Bloomberg, Kamis (8/10/2026), Tsai menyampaikan pandangan itu dalam pertemuan dengan pendiri perusahaan rintisan dan investor di Wave by Vento, Turin, Italia, Rabu (7/10). Menurutnya, Eropa dapat memanfaatkan model terbuka, melatihnya menggunakan data industri lokal, lalu menjalankannya pada infrastruktur yang berada di wilayah sendiri.
“Open source adalah peluang bagi Eropa. Itulah pendekatan yang dapat membuat Eropa benar-benar mandiri. Kita berbicara tentang kemandirian teknologi dan kedaulatan AI di Eropa. Saya pikir pendekatan open source adalah satu-satunya jalan,” kata Tsai.
Pandangan tersebut muncul ketika persaingan AI global semakin bergeser dari sekadar kemampuan model menuju penguasaan komputasi, data, dan rantai pasok. Alibaba sendiri, yang berdiri pada 1999, mempersempit fokus bisnisnya sejak 2023 menjadi perdagangan elektronik dan AI full-stack, mulai infrastruktur komputasi, model, hingga aplikasi.
Untuk membiayai ekspansi tersebut, Tsai mengatakan Alibaba menggunakan sekitar USD 25 miliar atau Rp447,25 triliun per tahun dari arus kas bebas bisnis e-commerce. Belanja modal perusahaan untuk infrastruktur komputasi juga telah berlipat ganda setiap tahun selama tiga tahun terakhir. Meski demikian, skala investasi AS jauh lebih besar. Tsai memperkirakan perusahaan hyperscaler AS secara gabungan akan menggelontorkan sekitar USD 1 triliun atau Rp17.890 triliun tahun ini.
Di sisi lain, keterbatasan akses teknologi justru dinilai mendorong perusahaan Tiongkok berinovasi lebih efisien. Menanggapi pembatasan AS terhadap pasokan cip ke Tiongkok, Tsai berkata, “Jika sejak awal Anda selalu hidup serba kekurangan, kondisi itu justru akan mendorong Anda.” Menurutnya, perusahaan Tiongkok banyak membuka desain model dan teknik efisiensi inference, sedangkan laboratorium AI AS yang mengembangkan model tertutup semakin jarang mempublikasikan penelitian.
Menurut Tsai, posisi Tiongkok juga diperkuat basis industrinya. Negara itu menyumbang sekitar 30 persen produksi industri dunia dan memiliki data manufaktur dalam jumlah besar yang dapat digunakan untuk melatih model AI. Rantai pasok kendaraan listrik, baterai, dan robot yang relatif lengkap dinilai menjadi keunggulan tambahan.
Karena itu, Tsai menolak anggapan bahwa masalah utama Eropa adalah kekurangan talenta. Menurutnya, warga Eropa bahkan mencakup 20–30 persen staf di sejumlah laboratorium AI terdepan AS. “Ini bukan masalah talenta,” tegasnya. Persoalannya adalah bagaimana kemampuan tersebut diterjemahkan menjadi kapasitas teknologi dan bisnis yang dimiliki Eropa sendiri.
Tsai melihat peluang terbesar justru berada pada perusahaan industri Eropa, termasuk kawasan Turin, yang memiliki data pabrik bernilai tinggi tetapi tidak selalu bersedia menyerahkannya kepada penyedia model tertutup. Dengan model terbuka, perusahaan dapat melatih ulang sistem menggunakan data internal dan menjalankannya sendiri. Model berbobot terbuka, menurut Tsai, ibarat resep yang dapat diambil, dikembangkan, dan digunakan tanpa terus bergantung kepada pembuat awalnya.
Namun, kemandirian itu tidak akan tercapai tanpa kapasitas komputasi. Tsai memperingatkan tidak ada negara yang seharusnya sepenuhnya bergantung pada teknologi negara lain karena perubahan pemerintahan atau kondisi politik dapat memutus akses. Eropa, menurutnya, perlu “serius” membangun pusat data sendiri untuk melatih dan menjalankan model. Alibaba Cloud sendiri telah membuka pusat data di Prancis pada Juni, sementara perusahaan Prancis Mistral merilis model Large 4 dengan bobot terbuka pada Selasa (6/10).
Bagi Tsai, kebutuhan membangun kapasitas itu akan semakin mendesak karena AI akan menjadi bagian dari hampir seluruh aktivitas bisnis. Dia memperkirakan dalam lima tahun AI akan melekat pada setiap bisnis seperti internet saat ini. “Lima tahun lagi, kita mungkin tidak akan lagi menyebutnya AI,” ujarnya.