JawaPos.com - Serangan milisi Houthi terhadap terminal penumpang Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi, menewaskan 12 orang dan melukai 309 lainnya, termasuk sejumlah korban dalam kondisi kritis pada Sabtu (10/10).
Serangan itu memicu kecaman internasional sekaligus meningkatkan tekanan bagi Riyadh untuk memperkuat pertahanan udara dan melumpuhkan kemampuan militer Houthi di Yaman.
Dalam video CCTV bandara yang beredar, sebagaimana dikutip dari Aljazeera, sejumlah pengguna bandara berpakaian ihram, diduga jamaah umrah, sedang mengantre untuk pemeriksaan saat sebuah misil menghantam terminal penumpang.
Empat korban tewas merupakan warga negara Arab Saudi, sedangkan korban lainnya berasal dari berbagai negara, termasuk Amerika Serikat.
Baca Juga: Houthi Serang Bandara Riyadh, Keselamatan Jemaah Umrah ke Makkah dan Madinah Terancam
Serangan terhadap fasilitas penerbangan sipil tersebut menuai kecaman karena menyasar infrastruktur yang digunakan masyarakat, bukan instalasi militer.
Juru Bicara Koalisi untuk Memulihkan Legitimasi di Yaman, Mayor Jenderal Turki Al-Maliki, menyebut serangan tersebut sebagai 'kejahatan perang skala penuh'.
Dia juga menegaskan bahwa koalisi akan memberikan respons tegas sesuai dengan hukum humaniter internasional.
Pada hari yang sama, pasukan koalisi melaporkan sebuah proyektil jatuh di sekitar Bandara Internasional King Fahd di Dammam.
Insiden itu menambah daftar serangan terhadap bandara-bandara Arab Saudi dalam beberapa hari terakhir.
Baca Juga: Merantau Cari Nafkah ke Arab Saudi, Ayah Dua Anak asal Yordania Tewas Diserang Houthi
Rangkaian serangan tersebut menunjukkan meningkatnya ancaman terhadap fasilitas sipil dan keamanan wilayah Arab Saudi.
Serangan juga dinilai sebagai upaya Houthi untuk meningkatkan tekanan politik, ekonomi, dan keamanan terhadap Riyadh.
Melansir Arab News, serangan terhadap bandara dan fasilitas sipil dipandang sebagai upaya Houthi untuk menggoyahkan kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan pemerintah Arab Saudi, dalam melindungi wilayahnya dari rudal dan pesawat nirawak yang diluncurkan dari Yaman.
Tekanan tersebut juga berpotensi digunakan Houthi untuk memperkuat posisi tawar dalam perundingan politik di masa mendatang.
Dengan meningkatkan biaya keamanan dan pertahanan yang harus ditanggung Riyadh, kelompok tersebut berharap memperoleh keuntungan politik maupun finansial.
Baca Juga: Setelah Bandara Riyadh Diserang Berulang, Arab Saudi Cegat Rudal Houthi di Khamis Mushayt
Namun, strategi itu belum tentu menghasilkan keuntungan yang diharapkan. Arab Saudi memiliki kepentingan untuk mempertahankan keamanan wilayahnya dan tidak membiarkan ancaman terorisme menjadi alat pemaksaan politik.
Respons Riyadh Penuh Pertimbangan
Respons Riyadh pun tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah serangan balasan. Strategi militer Arab Saudi disebut mempertimbangkan informasi intelijen, situasi politik, serta kondisi medan pertempuran di Yaman.
Sasaran operasi udara diarahkan untuk mengurangi frekuensi peluncuran rudal Houthi, menurunkan tingkat akurasinya, memperpanjang waktu persiapan serangan, serta menguras persediaan persenjataan kelompok tersebut lebih cepat daripada kemampuan mereka untuk mengisinya kembali.
Pendekatan ini memperlihatkan bahwa upaya melemahkan Houthi tidak cukup dilakukan melalui serangan terhadap peluncur rudal semata.
Infrastruktur pendukung, jalur pasokan, pusat komando, dan fasilitas penyimpanan senjata juga menjadi bagian penting dari operasi militer.
Baca Juga: Jepang Kecam Serangan Houthi di Arab Saudi, Khawatir Konflik Ganggu Pasokan dan Harga Energi
Salah satu tantangan terbesar koalisi adalah keberadaan fasilitas militer Houthi yang diperkuat dan dibangun di bawah tanah.
Analisis citra satelit yang dilakukan International Institute for Strategic Studies (IISS) menunjukkan bahwa sejak gencatan senjata pada 2022, Houthi memperluas fasilitas militer bawah tanah di sekitar Sanaa dan Saada.
Fasilitas tersebut memungkinkan kelompok itu melindungi peralatan berat dan komponen persenjataan dari serangan udara.
Operasi Militer Makin Rumit
Kondisi ini membuat operasi militer menjadi lebih rumit karena menghancurkan sasaran tidak hanya bergantung pada jumlah serangan, tetapi juga ketepatan informasi intelijen dan koordinat target.
Karena itu, koalisi membutuhkan rangkaian serangan udara yang terukur untuk menghantam gudang senjata, peluncur rudal, pusat komando, serta infrastruktur komunikasi militer Houthi.
Baca Juga: Serangan Houthi ke Riyadh Menyulut Eskalasi, Komite Eropa Soroti Dampak ke Transportasi dan Energi
Jalur penyelundupan senjata melalui darat dan laut juga menjadi sasaran strategis. Selama kelompok tersebut masih dapat menerima pasokan komponen dan persenjataan, kemampuan militernya berpotensi pulih meskipun sejumlah fasilitas telah dihancurkan.
Dengan demikian, efektivitas operasi udara tidak hanya ditentukan oleh banyaknya target yang berhasil dihantam.
Melainkan juga sejauh mana serangan mampu memutus rantai logistik dan menghambat kemampuan Houthi untuk melancarkan serangan berikutnya.
Selain menyerang sasaran militer di Yaman, Arab Saudi perlu mempertahankan bandara, fasilitas energi, dan objek sipil strategis dari serangan lintas batas.
Kementerian Pertahanan Arab Saudi mengandalkan sistem pertahanan berlapis yang mencakup peringatan dini, sistem pencegat rudal jarak pendek dan menengah, serta teknologi elektronik untuk mendeteksi dan mengganggu operasi pesawat nirawak.
Baca Juga: Serangan Houthi Bukan Sekadar Ganggu Bandara, Jalur Dagang Dunia Ikut Terancam
Sistem tersebut didukung sensor, radar, pesawat pengintai, dan persediaan amunisi pencegat yang memadai untuk menghadapi ancaman dalam jangka panjang.
Tujuannya adalah mendeteksi dan menggagalkan serangan sedini mungkin, baik ketika rudal atau drone sedang diluncurkan maupun sebelum serangan dapat mencapai sasaran.
Meski demikian, serangan berulang terhadap fasilitas sipil menunjukkan bahwa perlindungan terhadap objek strategis tidak hanya membutuhkan teknologi pertahanan.
Koordinasi intelijen, kesiapan personel, dan kemampuan mengidentifikasi pola serangan juga menjadi faktor penting.
Ancaman yang terus berkembang dapat meningkatkan kebutuhan biaya pertahanan, terutama jika Houthi mengandalkan serangan berulang untuk menguras persediaan rudal pencegat Arab Saudi.
Baca Juga: Arab Saudi Murka 2 Bandara Diserang Houthi, Balas Serang 82 Target
Pertahanan wilayah Arab Saudi juga berkaitan erat dengan perkembangan konflik di Yaman. Riyadh dan koalisi mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional, yang pasukannya berperang melawan Houthi di sejumlah wilayah.
Dalam kerangka operasi yang disebut Operation Dawn of Yemen, prioritas di medan pertempuran diarahkan pada front-front yang dapat melemahkan kemampuan militer Houthi sekaligus melindungi jalur pelayaran strategis.
Wilayah Bab al-Mandab, pesisir barat Yaman, Taiz, dan Marib menjadi kawasan penting karena memiliki kaitan langsung dengan keamanan regional dan jalur perdagangan.
Bab al-Mandab merupakan jalur pelayaran yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan Samudra Hindia.
Gangguan keamanan di kawasan ini dapat berdampak terhadap pergerakan kapal komersial dan distribusi barang internasional.
Baca Juga: Arab Saudi Murka 2 Bandara Diserang Houthi, Balas Serang 82 Target
Karena itu, perluasan operasi militer tanpa terlebih dahulu memperkuat posisi di front-front utama berisiko membebani pasukan.
Juga membuka peluang bagi Houthi untuk memecah konsentrasi lawan melalui berbagai medan pertempuran.
Strategi tersebut memperlihatkan bahwa upaya menghadapi Houthi tidak hanya berkaitan dengan serangan rudal ke Arab Saudi.
Tetapi juga dengan penguasaan wilayah, kelancaran pasokan senjata, dan keamanan jalur pelayaran.
Pernyataan Al-Maliki yang menyebut serangan terhadap Bandara Internasional King Khalid sebagai kejahatan perang juga membuka kemungkinan langkah hukum internasional.
Baca Juga: Ancaman Houthi Meningkat, AS Ingatkan Warga soal Penerbangan di Saudi
Dokumentasi mengenai serangan, jenis amunisi yang digunakan, serta kerusakan terhadap fasilitas sipil dapat menjadi bahan bagi proses penyelidikan dan penilaian hukum oleh lembaga internasional yang berwenang.
Namun, penetapan suatu serangan sebagai kejahatan perang memerlukan pemeriksaan fakta dan penerapan ketentuan hukum humaniter internasional.
Pernyataan pihak yang berkonflik tidak dengan sendirinya menjadi putusan hukum.
Langkah dokumentasi tetap penting untuk memperjelas tanggung jawab atas serangan, mengidentifikasi kemungkinan pelanggaran hukum perang, dan memperkuat dasar bagi upaya diplomatik maupun hukum.
Kecaman internasional juga dapat menjadi instrumen diplomasi bagi Arab Saudi untuk mendorong negara-negara lain mengambil sikap terhadap serangan yang mengancam warga sipil dan infrastruktur penting.
Baca Juga: Houthi Serang 2 Bandara Arab Saudi, 3 Warga Tewas, 36 Terluka
Ke depan, Arab Saudi diperkirakan akan menghadapi tekanan untuk meningkatkan serangan terhadap sasaran militer Houthi.
Juga memperkuat dukungan persenjataan dan intelijen kepada pasukan pemerintah Yaman, serta mendorong keterlibatan internasional dalam menghadapi ancaman tersebut.
Persoalannya tidak terbatas pada keamanan Riyadh. Aktivitas Houthi juga menjadi perhatian karena dampaknya terhadap stabilitas Timur Tengah dan jalur pelayaran di Laut Merah serta Bab al-Mandab.
Kelompok tersebut kerap dikaitkan dengan Iran dan jaringan kelompok bersenjata di kawasan Teluk.
Hubungan serta tingkat koordinasi di antara kelompok-kelompok itu perlu dinilai berdasarkan bukti yang tersedia, tetapi keberadaan jaringan lintas negara menjadi salah satu faktor yang diperhitungkan dalam analisis keamanan regional.
Baca Juga: Yaman: Serangan Houthi ke Bandara Aden Eskalasi bBerbahaya