JawaPos.com - Korea Selatan berencana untuk secara bertahap, menghapus ketentuan khusus wajib militer (wamil) bagi atlet dan seniman.
Selain itu, kepala Military Manpower Administration (MMA) akan memperketat kriteria kelayakan untuk kompetisi seni internasional, pada hari Senin (12/10).
Komisioner MMA Hong So Young menyampaikan kepada para anggota parlemen, dalam sidang audit Majelis Nasional bahwa ia mendukung rencana Kementerian Pertahanan Nasional, untuk mengurangi cakupan program pengecualian sebelum akhirnya menghapusnya.
"Posisi kami sama dengan posisi Kementerian Pertahanan," ujar Hong So Young seperti yang dikutip dari Korea Times.
Seraya menambahkan, bahwa usulan tersebut sedang menjalani tinjauan akhir sebagai bagian dari rencana reformasi pertahanan pemerintah, dan akan segera diumumkan.
Berdasarkan langkah-langkah yang dipresentasikan kepada Komite Pertahanan Nasional Majelis Nasional, MMA berencana membatasi kelayakan hanya bagi pemenang juara pertama dalam kompetisi seni internasional, alih-alih memberikan pengecualian kepada pemenang juara pertama maupun juara kedua.
Langkah ini juga bertujuan, untuk memangkas jumlah pemenang yang memenuhi syarat dalam kompetisi seni tradisional tingkat domestik, dari dua atau tiga orang per ajang menjadi satu orang saja.
Pihak lembaga menyatakan bahwa 86,6 persen seniman yang diterima dalam program tersebut, selama lima tahun terakhir berhasil lolos melalui kompetisi domestik.
Aturan kelayakan bagi atlet juga akan ditinjau, dengan mempertimbangkan penerimaan publik terhadap sistem tersebut.
So Young memperingatkan, bahwa perombakan tersebut akan memakan waktu. Sebuah studi yang ditugaskan diperkirakan akan rampung pada akhir November; setelah itu, badan tersebut akan berkonsultasi dengan kementerian terkait dan kelompok-kelompok yang terdampak.
"Kita tidak bisa menghapuskan sistem ini dalam semalam. Saya akan bertanggung jawab, merumuskan perubahan yang wajar terhadap kriteria kelayakan tahun depan, namun akan sulit untuk merampungkan rencana tersebut sebelum akhir tahun ini," ujarnya.
Perdebatan ini semakin memanas, setelah sejumlah pemain sepak bola merayakan perolehan fasilitas keringanan wajib militer, usai tim sepak bola Korea Selatan memenangkan medali emas di Asian Games, yang memicu kritik dari para pria yang diwajibkan menjalani dinas militer.
"Saya sangat menyesali apa yang telah terjadi. Saya menanggapi dengan serius rasa kehilangan yang dirasakan oleh para pemuda, yang sedang menjalani wajib militer serta desakan publik untuk mengubah sistem tersebut," ujar So Young.
Menteri Pertahanan Kang Shin Chul mengatakan dalam sebuah pemeriksaan pekan lalu, bahwa kementeriannya pada akhirnya bertujuan untuk menghapuskan pengaturan khusus tersebut.
Program ini tidak menghapuskan kewajiban militer sepenuhnya. Atlet dan seniman yang memenuhi syarat, menjalani pelatihan dasar militer dan bertugas di bidang masing-masing selama 34 bulan, termasuk kewajiban pelayanan publik sebagai pengganti tugas militer aktif.
Terkait pertanyaan terpisah mengenai wajib militer bagi perempuan, So Young menyatakan bahwa baik MMA maupun Kementerian Pertahanan, tidak sedang mempertimbangkan gagasan tersebut.
"Ini adalah masalah dengan implikasi sosial yang luas," ujarnya, seraya menambahkan bahwa pemerintah akan terlebih dahulu menggalang dukungan publik yang lebih luas, sembari secara bertahap meningkatkan proporsi perwira militer perempuan.
***