← Beranda
Lama Tertunda, Jembatan Penghubung Tiongkok-Korut segera Dibuka 
Rian Alfianto• Kamis, 15 Oktober 2026 | 19.25 WIB
New Yalu River Bridge, dirancang untuk menghubungkan Dandong New Zone Tiongkok dan Sinuiju Korea Utara, seperti yang terlihat dari Tiongkok pada 5 Oktober 2026. (Mandy Leong/Reuters)  

 


JawaPos.com - Jembatan Sungai Yalu Baru yang menghubungkan Tiongkok dan Korea Utara akhirnya akan dibuka untuk lalu lintas, setelah tertunda selama bertahun-tahun. Infrastruktur yang rampung di sisi Tiongkok sejak 2014 itu diharapkan memperlancar perdagangan lintas perbatasan, sekaligus menandai upaya kedua negara memperkuat kembali hubungan ekonomi.

Kantor berita pemerintah Tiongkok, Xinhua, melaporkan pembukaan jembatan tersebut setelah proses pembangunannya terkatung-katung akibat memburuknya hubungan Beijing dan Pyongyang. Meski Tiongkok telah menyelesaikan bagian jembatannya lebih dari satu dekade lalu, Korea Utara membiarkan pembangunan di sisi wilayahnya tidak rampung selama bertahun-tahun.

Penundaan itu tidak lepas dari ketegangan diplomatik kedua negara. Hubungan Tiongkok dan Korea Utara memburuk setelah Beijing mendukung sanksi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terhadap Pyongyang menyusul uji coba nuklir yang dilakukan negara tersebut.

Kini, pembukaan jembatan itu berpotensi memperkuat konektivitas perdagangan kedua negara di tengah meningkatnya aktivitas ekonomi dan perubahan peta hubungan diplomatik di Asia Timur.

 

Perdagangan Tiongkok-Korea Utara Terus Meningkat

Rencana pembukaan Jembatan Sungai Yalu Baru berlangsung ketika hubungan perdagangan Tiongkok dan Korea Utara menunjukkan perkembangan positif.

Ekspor Tiongkok ke Korea Utara mencapai USD 2,3 miliar pada 2025. Nilai tersebut menjadi yang tertinggi dalam enam tahun terakhir, sekaligus meningkat 25 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Angka itu memperlihatkan pentingnya Tiongkok bagi perekonomian Korea Utara. Dengan beroperasinya jembatan baru, distribusi barang lintas perbatasan berpotensi menjadi lebih mudah, meskipun besarnya dampak terhadap perdagangan masih bergantung pada aktivitas ekonomi dan kebijakan kedua negara.

Hubungan politik keduanya juga menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Presiden Tiongkok Xi Jinping mengunjungi Pyongyang pada Juni 2026, untuk pertama kalinya sejak 2019.

Sejak 2018, Beijing telah berupaya memperbaiki hubungan dengan Pyongyang. Kedua negara memiliki kepentingan untuk menjaga hubungan bilateral, meskipun sebelumnya sempat berselisih mengenai program senjata nuklir Korea Utara.

 

Rampung Sejak 2014, Mengapa Baru Dibuka Sekarang?

Pembangunan jembatan tersebut sejak awal ditujukan untuk meningkatkan hubungan perdagangan Tiongkok dan Korea Utara. Namun, penyelesaian konstruksi di sisi Tiongkok pada 2014 tidak langsung membuat jalur itu bisa digunakan.

Korea Utara tidak menyelesaikan bagian jembatan di wilayahnya selama bertahun-tahun. Situasi tersebut berlangsung ketika hubungan diplomatik kedua negara mengalami ketegangan, terutama setelah Beijing mendukung pengetatan sanksi internasional terhadap program nuklir Pyongyang pada 2017.

Tiongkok selama puluhan tahun menjadi mitra diplomatik dan ekonomi utama Korea Utara. Kedekatan itu berakar dari Perang Korea dan diperkuat melalui Perjanjian Persahabatan, Kerja Sama, dan Bantuan Timbal Balik yang ditandatangani kedua negara pada 1961.

Perjanjian tersebut masih menjadi satu-satunya aliansi militer formal Tiongkok dan memuat klausul pertahanan bersama jika salah satu pihak mengalami serangan bersenjata.

Meski demikian, kepentingan keamanan dan perbedaan sikap terhadap program nuklir Korea Utara sempat menguji hubungan keduanya.

Pembukaan jembatan dengan Tiongkok juga berlangsung ketika hubungan Korea Utara dan Rusia semakin erat.

Kedua negara menandatangani perjanjian kemitraan strategis komprehensif pada 2024, yang mencakup ketentuan pertahanan bersama. Hubungan militer dan politik mereka kemudian menguat, termasuk melalui pengerahan ribuan personel Korea Utara untuk mendukung Rusia dalam perang melawan Ukraina.

Sejumlah analis menilai kedekatan tersebut berpotensi mengubah keseimbangan hubungan luar negeri Pyongyang dan mengurangi ketergantungannya terhadap Beijing.

Namun, hubungan ekonomi dengan kedua negara memiliki karakter berbeda. Kerja sama Korea Utara dengan Rusia banyak berkaitan dengan kebutuhan militer, sedangkan perdagangan dengan Tiongkok berpotensi membantu memenuhi kebutuhan barang bagi perekonomian sipil.

Karena itu, pengoperasian Jembatan Sungai Yalu Baru dapat menjadi jalur penting bagi Korea Utara untuk menjaga pasokan barang dan aktivitas perdagangan dengan tetangga terbesarnya.

 

Jembatan Rusia-Korea Utara Juga Baru Dibuka

Selain memperkuat konektivitas dengan Tiongkok, Korea Utara juga baru membuka jembatan penghubung dengan Rusia pada awal Oktober 2026.

Kehadiran dua jalur penghubung tersebut memperlihatkan semakin pentingnya infrastruktur lintas perbatasan bagi hubungan ekonomi dan strategis Pyongyang dengan negara-negara tetangganya.

Bagi Tiongkok, jembatan baru itu dapat membantu mempertahankan posisinya sebagai mitra perdagangan utama Korea Utara. Sementara bagi Pyongyang, akses lintas perbatasan yang lebih baik berpotensi memperluas pilihan dalam memenuhi kebutuhan ekonomi.

Meski demikian, pemulihan hubungan belum sepenuhnya tercermin dalam seluruh sektor. Korea Utara, misalnya, belum kembali menerbitkan visa wisata bagi warga Tiongkok, yang sebelumnya merupakan kelompok terbesar wisatawan asing di negara tersebut.

Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada September 2026 kembali menyampaikan ketertarikan untuk memperbaiki hubungan dengan Korea Utara. 

Trump pernah bertemu dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, tetapi pembicaraan mereka berakhir mendadak pada 2019 tanpa menghasilkan kesepakatan.

Trump kembali membuka kemungkinan pertemuan dengan Kim pada masa jabatan keduanya, meskipun belum ada jadwal resmi yang ditetapkan.

Dengan demikian, pembukaan Jembatan Sungai Yalu Baru bukan sekadar penyelesaian proyek infrastruktur yang lama tertunda. 

Baca Juga: Tiongkok Kirim Liaoning ke Pasifik untuk Latihan, Sebelumnya Catat 170 Aktivitas Penerbangan

Jalur tersebut juga berpotensi memperkuat hubungan ekonomi Tiongkok dan Korea Utara ketika Pyongyang semakin dekat dengan Moskow dan kembali menghadapi peluang diplomasi dengan Washington. (*)

 

EDITOR: Dinarsa Kurniawan