JawaPos.com - TransJakarta belakangan sedang cukup ramai dibicarakan karena mengalami kecelakaan dalam dua hari terakhir. Mulai dari menabrak pembatas jalur di Jalan Ciledug Raya, menabrak seorang wanita pengendara sepeda motor hingga tewas di Jalan MH Thamrin Jakarta Selatan, hingga Bertabrakan dengan mobil Mercedes-Benz di jalan layang Simprug Jakarta Selatan.
Mengomentari hal tersebut, Analis Kebijakan Transportasi Azas Tigor Nainggolan memandang, hal tersebut butuh perhatian dari semua stakeholder termasuk Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta karena berkaitan dengan pelayanan masyarakat. Apalagi, Pemprov sedang gencar untuk mengubah paradigma warga Jakarta dari menggunakan transportasi pribadi ke angkutan umum untuk mengurangi kemacetan.
“Bagaimana warga mau pindah ke layanan transportasi publik sementara TransJakarta kerap mengalami kecelakaan lalu lintas dan selalu menimbulkan korban meninggal dunia atau kerusakan serius?” ujarnya, Senin (14/3).
Azas Tigor menyebut, sepanjang 2021 lalu, terdapat setidaknya 520 kasus kecelakaan bus TransJakarta. Meskipun Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) telah melakukan evaluasi, namun tetap saja kecelakaan lalu lintas TransJakarta terus terjadi.
Menurutnya, manajemen perusahaan pun juga perlu melakukan evaluasi. Sebab, hal tersebut merupakan kinerja perseroan dalam memberikan layanan yang aman dan nyaman bagi opersional TransJakarta.
“Artinya ada masalah struktural di dalam tubuh Transjakarta saat ini dan harus segera diperbaiki,” ucapnya.
Selain itu, lanjutnya, juga perlu merubah kebijakan layanan dan personal manajemen kerja di tubuh Trans-Jakarta. “Perubahan seluruh jajaran direksi ini harus dilakukan oleh gubernur TransJakarta sebagai pemegang saham mayoritas BUMD PT Transjakarta,” imbuhnya.