JawaPos.com - Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta mengidentifikasi sebanyak 50 ruas jalan utama di Ibu Kota masuk dalam kategori heavy traffic atau berlalu lintas sangat padat sepanjang Triwulan III Tahun 2026.
Dari puluhan jalan tersebut, mayoritas titik kepadatan kendaraan menumpuk di wilayah Jakarta Selatan dan Jakarta Pusat.
Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Budi Awaluddin menjelaskan, titik kemacetan utama di Jakarta sebenarnya bersifat dinamis mengikuti fluktuasi arus kendaraan harian.
Baca Juga: Prediksi Skor Bosnia dan Herzegovina vs Swedia di Liga Nations UEFA: Blågult Pesta Gol
Namun, observasi pada jam-jam sibuk mengonfirmasi tingginya beban jalan di sejumlah koridor vital.
"Telah teridentifikasi terdapat 50 ruas jalan heavy traffic pada Triwulan III Tahun 2026 dengan total volume rata-rata sebesar 425.741 smp/jam dan rata-rata Volume/Capacity Ratio (VCR) sebesar 0,84, yang mayoritas kepadatan lalu lintas berada di Jakarta Selatan dan Jakarta Pusat," ujar Budi kepada JawaPos.com, beberapa waktu lalu.
Deretan Koridor Padat dan Penyebab Utama Kemacetan
Baca Juga: Usut TPPU Wali Kota Madiun, KPK Geledah Kantor Dinas Perdagangan dan BPKAD
Beberapa koridor jalan utama yang tercatat mengalami kepadatan tinggi antara lain ruas jalan Pintu Besar Selatan sampai dengan jalan Fatmawati Raya, Jalan Ahmad Yani hingga Jalan D.I. Panjaitan, Jalan T.B. Simatupang hingga jalan Kalimalang, dan Koridor Jalan S.Parman hingga Jalan MT Haryono.
Selain pertumbuhan jumlah kendaraan yang mencapai kisaran 4 persen per tahun dan memicu pergerakan hingga 16,31 juta perjalanan per hari, pemicu utama kemacetan jaringan jalan adalah adanya proyek konstruksi.
Pada Triwulan III 2026, tercatat sekitar 269,4 km ruas jalan terdampak okupansi pekerjaan konstruksi. Meski begitu, angka ini menunjukkan penurunan ketimbang tahun 2025 yang sempat menyentuh 283,8 km, sehingga diharapkan dapat memberikan ruang perbaikan arus lalu lintas.
Tren Indeks Kemacetan dan Efektivitas Ganjil-Genap
Mengenai tren tingkat kemacetan, Dishub DKI mencatat angka Volume Capacity Ratio (VCR) relatif stagnan di level 0,85 selama tiga tahun terakhir, sebelum akhirnya berkurang tipis menjadi 0,84 pada TW III 2026.
Sementara itu, data pembanding TomTom Traffic Index memperlihatkan fluktuasi kemacetan seluruh jaringan Jakarta pada periode 2023–2025, dengan level terendah 43,0 persen (2024) dan tertinggi 59,8 persen (2025).
Untuk mengendalikan beban jalan, skema Transport Demand Management (TDM) seperti sistem Ganjil-Genap di 25 ruas jalan yang terbukti cukup menekan kepadatan lalu lintas.
Baca Juga: Ramalan Zodiak Aries dan Taurus 2 Oktober 2026: Mulai dari Cinta, Karir, Kesehatan dan Keuangan
"Berdasarkan analisis Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta periode Januari–Agustus 2026, penerapan Sistem Ganjil-Genap pada 25 ruas tersebut mampu menekan volume lalu lintas jam puncak dari potensi 204.997 smp/jam (VCR 1,00) menjadi aktual 158.262 smp/jam (VCR 0,78)," jelas Budi.
Meski demikian, Budi menegaskan akan tetap melakukan evaluasi menyeluruh terhadap regulasi Ganjil-Genap saat ini guna menyesuaikan dinamika kebutuhan mobilitas warga.
"Tetapi Sistem Ganjil-Genap juga harus dilihat berdasarkan implikasi terhadap pengaruh jumlah kunjungan/aktivitas tenant/parkir/investasi/penerimaan daerah pada catchment area yang berhimpitan dengan lokasi penerapan Sistem Ganjil-Genap," ungkapnya.
Strategi Jangka Panjang dan Teknologi AI Pengurai Macet
Baca Juga: Polri Tetapkan 4 Korporasi Jadi Tersangka Kasus Karhutla
Guna mengatasi persoalan transportasi secara berkelanjutan, Pemprov DKI Jakarta menargetkan peningkatan penggunaan angkutan umum (mode share) menjadi 27,06 persen pada akhir 2029, naik dari posisi 2025 yang berada di angka 23,62 persen.
Dalam jangka panjang hingga tahun 2045, target mode share transportasi publik diproyeksikan mencapai 55 persen.
Langkah ini ditempuh melalui perluasan cakupan angkutan umum, integrasi moda transportasi lintas wilayah bersama Pemda Bodetabek dan Kementerian Perhubungan, serta pengembangan Kawasan Berorientasi Transit (TOD).
Di samping perbaikan layanan fisik, Dishub DKI Jakarta juga memanfaatkan teknologi modern Intelligent Traffic Control System (ITCS) dan Traffic Light berbasis kecerdasan buatan (AI) yang kini sudah terpasang di 115 persimpangan utama.
Sistem adaptif ini secara otomatis mengatur durasi lampu lalu lintas sesuai kepadatan kendaraan secara real-time untuk meminimalkan antrean.
Harus Meninggalkan Kendaraan Pribadi
Baca Juga: Cita Rasa Creamy Gelato Matcha, Bubuk Hijau dari Uji Kyoto Berpadu Susu Segar
Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta M. Taufik Zoelkifli menegaskan, strategi penanganan kemacetan Jakarta tidak bisa dinilai berhasil hanya dari bertambahnya armada atau perluasan infrastruktur.
"Ukuran akhirnya adalah berapa banyak warga yang benar-benar meninggalkan kendaraan pribadi dan beralih secara permanen ke angkutan umum," ujar Taufik kepada JawaPos.com.
Di sisi lain, Ketua Fraksi PKS DPRD DKI Jakarta ini menilai ada persoalan struktural mendasar yang belum diselesaikan secara tuntas oleh pemerintah daerah. Pada akhirnya, permasalahan ini membuat kemacetan di Jakarta terus meningkat.
Banyak Galian Penyebab Macet
Baca Juga: IHSG Diproyeksi Melemah, MNC Sekuritas Ungkap 4 Saham Pilihan
Ketua Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) Sugihardjo mengatakan salah satu pemicu utama kepadatan di lapangan saat ini adalah maraknya pengerjaan galian pipa air minum dan kabel di badan jalan.
Pekerjaan fisik tersebut mengambil porsi ruang jalan sehingga menimbulkan hambatan lalu lintas (bottleneck). Proyek pemasangan pipa oleh PAM Jaya yang sedang dikejar di berbagai titik menjadi salah satu pemicu kemacetan temporer di kawasan perkotaan.
Selain faktor galian, tingginya mobilitas masyarakat dari wilayah penyangga Bodetabek menuju Jakarta juga menjaga volume kendaraan tetap tinggi di jam-jam sibuk.