← Beranda
Perempuan yang Tidak Dididik Tentang Self Love oleh Orang Tuanya, Sering Menumbuhkan 7 Kebiasaan People Pleaser Ini
M Shofyan Dwi Kurniawan• Jumat, 20 Juni 2025 | 02.17 WIB
7 Kebiasaan People Pleaser

JawaPos.com - Perempuan yang tumbuh tanpa diajarkan mencintai diri sendiri sering kali belajar untuk mencari cahaya dari orang lain. Sampai suatu hari, ia sadar bahwa dirinya pun bisa menjadi sumber cahaya bagi dirinya sendiri.

Bayangkan sebuah tanaman hias yang selama bertahun-tahun diletakkan di sudut ruangan. Ia mendapat cukup cahaya untuk bertahan hidup, tapi tidak pernah cukup untuk benar-benar tumbuh.

Tanaman itu bisa saja meliuk ke arah jendela, daunnya mengecil, bahkan warnanya kusam. Tapi bayangkan jika tanaman itu akhirnya dipindah ke tempat yang lebih terang. Ia tak akan langsung mekar.

Mungkin beberapa daun tua rontok dulu. Mungkin ragu-ragu tumbuh. Tapi dengan cahaya yang cukup, air yang cukup, dan perawatan yang konsisten, akhirnya tanaman itu akan berkembang sesuai bentuk alaminya.

Begitulah kira-kira proses mencintai diri sendiri terutama bagi perempuan yang tak pernah ditunjukkan bagaimana caranya merawat diri secara emosional sejak kecil.

Kalau dulu kamu tidak diajarkan bahwa perasaanmu penting, bahwa suara dan keinginanmu layak dihargai, itu bukan salahmu. Tapi luka itu bisa tetap hidup dalam bentuk kebiasaan-kebiasaan dewasa yang diam-diam menyabotase dirimu sendiri.

Berikut tujuh kebiasaan people pleaser yang sering tumbuh dari ketidakhadiran cinta diri. Karena pertumbuhan itu mungkin. Tapi pertama-tama, kamu perlu tahu apa yang selama ini membatasinya.

1. Terlalu sering minta maaf bahkan saat itu bukan salahmu

Menabrak kursi? “Maaf.” Disalip antrean? “Oh, maaf, silakan.”

Saat cinta diri tak pernah dicontohkan, banyak perempuan belajar bahwa tugas mereka adalah menjaga ketenangan, bahkan kalau itu artinya mengorbankan harga diri sendiri.

Sayangnya, terlalu sering minta maaf bisa menanamkan keyakinan bawah sadar bahwa kamu adalah masalah. Sedikit demi sedikit, kamu mulai mengecil setiap kali mengucapkan “maaf” padahal yang kamu maksud mungkin sebenarnya “permisi” atau “aku juga pantas di sini.”

Coba ini: Ganti “maaf” dengan “terima kasih.” Misalnya: “Terima kasih sudah menunggu,” bukan “Maaf saya terlambat.”

2. Menolak pujian seperti memegang kentang panas

Saat seseorang memujimu, kamu buru-buru menepisnya. “Oh, bajunya udah lama banget.” “Kamu cuma baik aja.”

Kalau kamu tumbuh tanpa afirmasi, wajar saja pujian terasa asing, bahkan mencurigakan. Otakmu sudah terbiasa bertahan hidup dengan cahaya yang minim, jadi saat cahaya terang datang, kamu secara refleks menolaknya.

Coba ini: Katakan, “Terima kasih. Itu sangat berarti.” Walaupun awalnya terasa canggung, tapi itu akan membawa dampak positif.

3. Memberi terlalu banyak pada orang lain, tapi lupa menyirami diri sendiri

Kamu ingat ulang tahun semua orang. Sering datang lebih awal, pulang paling akhir. Tapi ketika kamu butuh dukungan? Kamu diam. Takut mengganggu. Atau merasa tak pantas memintanya.

Memberi bisa terasa lebih aman daripada meminta. Kalau sejak kecil kamu merasa harus berbuat sesuatu agar layak dicintai, kamu tumbuh menjadi penyiram tanaman lain. Sementara akarmu sendiri mengering.

Coba ini: Setiap minggu, tanyakan: Apa satu hal kecil yang bisa aku lakukan untuk diriku hari ini? Jalan santai. Tidur siang. Menolak ajakan yang tak ingin diikuti. Mulailah dari yang sederhana.

4. Mengecilkan mimpi sendiri sebelum orang lain sempat melakukannya

“Konyol sih idenya.” “Kayaknya aku nggak sanggup.” “Mungkin udah telat.” Kalimat-kalimat seperti itu terdengar akrab?

Kebiasaan ini seperti mencabut daun sendiri sebelum orang lain sempat mengomentarinya. Bentuk perlindungan diri yang diam-diam menyabotase pertumbuhan.

Coba ini: Latih diri menyebut mimpimu dengan tegas. Bukan “mungkin suatu saat,” tapi “aku sedang berusaha untuk…” Berikan impianmu oksigen yang layak.

5. Mengira mengabaikan diri sendiri adalah bentuk kekuatan

Kamu mandiri. Kamu kuat. Kamu tidak minta bantuan. Dan kamu bangga dengan itu.

Tapi ada perbedaan antara kuat dan tidak didukung. Kalau sejak kecil kamu diajari bahwa emosi itu lemah, kamu mungkin tumbuh jadi tanaman yang tampak “tangguh”—padahal akar emosinya mulai mengering.

Coba ini: Kekuatan sejati adalah tahu kapan harus istirahat. Kapan harus bersandar. Perlakukan perasaanmu sebagai sinyal, bukan ancaman.

6. Takut menetapkan batas karena khawatir akan konflik

Kamu bilang “iya” meskipun ingin bilang “tidak.” Membalas pesan meski sudah lelah. Membiarkan hal-hal berlalu walau kamu terganggu.

Kamu tahu batasan itu penting, tapi rasa takut akan konflik lebih besar. Apalagi jika dulu kamu merasa kebutuhanmu selalu dianggap terlalu banyak.

Coba ini: Mulailah dari satu batas kecil. Tolak rencana yang tidak kamu inginkan. Matikan ponsel jam 9 malam. Lihat apa yang berubah.

7. Meragukan diri sendiri dalam hampir setiap keputusan

Sebelum membuat keputusan, kamu tanya lima orang. Membaca ulang teks tiga kali. Memutar ulang percakapan, takut salah bicara.

Ini bukan sekadar bimbang. Ini adalah hasil dari lingkungan yang membuat pilihanmu terasa tidak aman sejak dini.

Coba ini: Saat ragu, lempar koin. Bukan untuk memutuskan, tapi untuk melihat reaksi hatimu terhadap hasilnya. Di situlah intuisi berbicara.

Kesimpulan

Tanaman yang lama terabaikan tidak akan langsung mekar. Ia bisa saja gugur dulu. Mungkin ia terlihat lebih buruk sebelum akhirnya tumbuh lebih baik.

Kalau kamu mengenali dirimu dalam salah satu kebiasaan ini, jangan merasa malu. Anggap saja sebagai sinyal bahwa kamu siap bertumbuh. Siap mendekat ke cahaya.

Self-love bukan tujuan akhir. Ia adalah keputusan sehari-hari. Satu kata baik. Satu batasan kecil. Satu tarikan napas dalam.

Dan saat kamu akhirnya tumbuh dalam kondisi yang tepat, kamu akan terkejut: ternyata kamu memang bisa bersinar sejak awal.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho