← Beranda
Orang yang Mendambakan Kasih Sayang di Masa Kecil Namun Tidak Pernah Mendapatkannya Seringkali Menunjukkan 8 Perilaku Ini Saat Dewasa
M Shofyan Dwi Kurniawan• Jumat, 1 Agustus 2025 | 01.42 WIB
Orang yang Mendambakan Kasih Sayang di Masa Kecil Namun Tidak Pernah Mendapatkannya Seringkali Menunjukkan 8 Perilaku Ini Saat Dewasa

JawaPos.com - Orang dewasa yang tumbuh tanpa cukup kasih sayang seringkali membawa "bekal tak terlihat" ke masa kini. Bukan luka terbuka melainkan pola-pola halus yang menyamar sebagai kebiasaan, pencapaian, bahkan kepribadian.

Mereka mungkin terlihat sukses, mandiri, dan bisa diandalkan. Tapi jauh di dalam, ada suara kecil yang bertanya, “Apakah aku cukup layak untuk dicintai?”

Berita baiknya: pola yang dulu melindungi bisa diperbarui. Tidak harus drastis. Pelan-pelan saja. 

Berikut ini delapan perilaku umum yang sering muncul, beserta cara-cara lembut dan realistis untuk mulai mengubahnya, seperti dilansir dari VegOut.

Baca Juga: 6 Perilaku Umum Orang yang Menarik Diri dari Dunia Seiring Bertambah Usia

1. Terlalu Bekerja Keras untuk Menjadi “Cukup Baik”

Jika dulu kasih sayang datang hanya saat kamu berprestasi—nilai sempurna, sikap sempurna, kamu mungkin jadi terbiasa menyamakan cinta dengan kinerja.

Jadinya kamu selalu siap lebih, memberi lebih, dan memaksakan diri lebih. Promosi terasa seperti kelegaan, bukan kebanggaan. Pujian? Hanya terasa seperti bukti bahwa kamu akhirnya “membayar” untuk bisa diterima.

Coba ini: sebelum bilang "ya" pada proyek baru atau permintaan bantuan, tanyakan: "Kalau aku tahu aku sudah cukup, apakah aku masih akan melakukan ini?" 

Jika tidak, coba jawab dengan sopan, “Aku sudah penuh untuk sekarang, tapi bisa aku pertimbangkan bulan depan.”

Latih juga menerima tanpa harus “membayar”. Catat satu hal per hari yang kamu terima—bantuan, senyuman, kebaikan—tanpa perlu membuktikan diri. Sistem sarafmu sedang belajar ulang cara merasa aman.

Baca Juga: Ternyata Orang yang Berupaya Mengecilkan Perut Saat Foto Bukan Sekadar Gaya, Perilaku Ini Bisa Ungkap 10 Sifat Tersembunyi Ini

2. Membaca Pikiran Orang Lain Alih-Alih Mengungkapkan Isi Hatimu

Anak-anak yang kurang kasih sayang biasanya jago membaca ruangan. Bisa menangkap ekspresi mikro, perubahan nada suara, sampai sinyal stres sekecil apa pun.

Di masa dewasa, skill ini bisa berubah jadi kebiasaan menyenangkan semua orang, minta maaf terus-menerus, dan sikap "Apakah semua orang baik-baik saja?" yang melelahkan.

Coba ini: alih-alih menebak, langsung tanya. Misalnya, “Kamu kelihatan diam, lagi kepikiran sesuatu atau butuh waktu sendiri?” Simpel, tapi menyelamatkanmu dari overthinking.

Latih juga jeda sebelum menjawab. Ketika seseorang meminta sesuatu, beri jeda tiga ketukan. Rasakan tubuhmu. Baru beri respons. Banyak "ya" otomatis ternyata berubah jadi "mungkin" setelah diproses sebentar.

3. Curiga Terhadap Kebaikan

Ini yang licik: kamu sangat mendambakan kehangatan, tapi malah canggung saat benar-benar menerimanya. Dipuji? Langsung mengecilkan diri. Ditraktir? Langsung mikir: “Apa maunya?”

Padahal bukan ada niat buruk, itu cuma otakmu yang belum terbiasa menerima kebaikan tanpa syarat.

Coba ini: ketika seseorang memuji, cukup jawab, “Terima kasih, aku menghargainya.” Titik. Tidak perlu dibumbui. 

Kalau ditraktir, nikmati saja. Kalau masih tidak enak hati, ajak mereka ketemuan minggu depan karena senang, bukan karena merasa berutang.

Perhatikan juga bagaimana tubuhmu merespons. Dada hangat? Perut geli? Labeli sensasinya. Ini namanya “menerima.” Dan itu adalah bentuk kekuatan baru.

4. Cemas dan Terpaku Pada Hubungan

Kalau dulu kasih sayang sering datang dan pergi, kamu mungkin tumbuh jadi pribadi yang selalu waspada—berusaha keras menjaga hubungan agar tidak hilang.

Maka muncullah kebiasaan mengirim banyak pesan teks, mengulang percakapan, dan merasa panik saat balasan sedikit terlambat.

Coba ini: buat kesepakatan bersama soal waktu respons. Misalnya, “Biasanya aku balas dalam 24 jam. Kalau darurat, telepon ya.” Harapan yang jelas bisa bikin tenang.

Siapkan juga "kotak P3K emosi"—playlist menenangkan, catatan pengingat bahwa kamu berharga, dan rute jalan kaki favorit. Dan ingat: “Aku menyukaimu, aku ada, dan aku tetap baik-baik saja meski kita sedang tidak bersama.”

5. Menyembunyikan Diri di Balik "Aku Baik-Baik Saja Sendirian"

Beberapa orang tidak sekadar mandiri, mereka terlalu mandiri karena pernah belajar bahwa butuh orang lain = kecewa.

Jadi mereka menjaga jarak, menghindari kedekatan emosional, dan keluar sebelum hubungan terasa terlalu dekat.

Coba ini: mulai dari hal kecil. Alih-alih "Akhir pekan santai," ceritakan sesuatu yang lebih pribadi seperti, “Aku ke pasar petani dan akhirnya tahu nama anjing penjual buah persik.”

Jika ada yang menawarkan bantuan—terimalah. Biarkan orang menjemputmu, membantu pindahan, atau membawakan kopi. Menerima bantuan bukan berarti lemah, itu latihan keterhubungan.

6. Menguji Cinta Daripada Memintanya

Alih-alih berkata, “Aku butuh ini darimu,” kamu mungkin memilih menguji: pura-pura cuek, memberi kode, atau menjauh duluan.

Alasannya? Kalau ujian gagal, kamu bisa bilang pada diri sendiri, “Toh aku tidak benar-benar berharap apa-apa.”

Coba ini: ubah ujian menjadi permintaan konkret. Misalnya, “Kalau pesanku tidak dibalas berhari-hari, aku merasa tidak penting. Bisa bantu beri kabar meski singkat?”

Kalau kamu tergelincir dan sadar sedang menguji, tidak apa-apa. Tarik napas dan perbaiki: “Aku sadar aku sengaja menjaga jarak untuk melihat reaksimu. Sejujurnya, yang aku butuhkan sebenarnya adalah…”

7. Punya Batasan yang Terlalu Longgar—Atau Terlalu Kaku

Beberapa orang bilang "ya" terus agar tetap disukai. Yang lain bilang "tidak" pada segalanya supaya tetap aman. Keduanya membuat koneksi terasa mahal dan melelahkan.

Coba ini: tentukan dua hal yang selalu kamu setujui (misalnya, masukan dari mentor, pelukan dari anak), dan dua hal yang kamu tolak dengan tenang (misalnya, kunjungan mendadak, pertanyaan pribadi).

Latih kalimat seperti, “Aku tidak bisa bantu sekarang, tapi aku bisa minggu depan,” atau, “Aku tidak bisa datang, tapi aku harap kamu bersenang-senang.” Itu bukan dingin, itu perlindungan energi.

8. Menjaga Kritik Diri yang Sangat Keras

Kritik batinmu mungkin terdengar seperti pelatih militer. Tujuannya? Melindungimu dari rasa sakit. Tapi kenyataannya? Justru menambah luka.

Coba ini: beri nama kritikus batinmu. Akui niatnya yang ingin melindungi, lalu perkenalkan pelatih baru—yang lembut, suportif, dan tidak kasar.

Misalnya, “Kamu sedang belajar,” “Satu kesalahan bukan akhir dunia,” atau “Kamu berhak istirahat.”

Gunakan trio kebaikan-diri: Self-kindness, common humanity, dan mindfulness. Bukan berarti kamu manja, itu berarti kamu akhirnya bersikap seperti sahabat terbaik untuk diri sendiri.

Kekurangan kasih sayang di masa kecil memang membentuk cara kamu bertahan hidup. Tapi bertahan hidup bukan satu-satunya pilihan sekarang. 

Kamu bisa belajar mencintai, merespons, dan terhubung dengan cara yang lebih hangat dan penuh makna. Pelan-pelan saja. Kamu sudah memulainya dan itu luar biasa.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho