← Beranda
Kenali 4 Fakta Penting Sleep Paralysis atau Tindihan yang Sering Menimbulkan Ketakutan Saat Tidur
Risma Azzah Fatin• Sabtu, 16 Mei 2026 | 08.28 WIB
Ilustrasi wanita mengalami Sleep Paralysis (Freepik)

JawaPos.com – Sleep paralysis atau kelumpuhan tidur, yang di Indonesia sering disebut tindihan, merupakan kondisi yang kerap memunculkan rasa takut bagi sebagian orang.

Kondisi ini biasanya terjadi ketika seseorang terbangun atau hendak tertidur, tetapi tubuh tidak dapat bergerak maupun berbicara.

Para ahli menyebut kondisi ini umumnya tidak berbahaya dan hanya dialami satu atau dua kali sepanjang hidup seseorang.

Berikut 4 fakta penting mengenai sleep paralysis yang perlu diketahui, seperti dilansir dari laman NHS pada Kamis (14/5).

1.     Sleep Paralysis Membuat Seseorang Sadar, Tetapi Tubuh Tidak Dapat Bergerak

Sleep paralysis terjadi ketika seseorang terbangun atau mulai tertidur, tetapi tidak mampu menggerakkan tubuhnya. Dalam kondisi ini, seseorang biasanya tetap sadar terhadap lingkungan sekitar, meskipun tubuh terasa lumpuh sementara. Beberapa orang juga mengalami kesulitan berbicara atau bahkan membuka mata selama beberapa detik hingga menit.

Tidak sedikit penderita yang merasa seolah ada sosok lain di dalam kamar atau merasakan tekanan berat pada tubuh. Sensasi tersebut sering kali memicu rasa takut meskipun sebenarnya kondisi ini tidak membahayakan secara fisik.

2.     Kelumpuhan Tidur Berkaitan dengan Gangguan Pola dan Kualitas Tidur

Secara medis, sleep paralysis terjadi ketika tubuh masih berada dalam fase tidur, sementara otak mulai terbangun. Kondisi ini membuat otot belum kembali aktif sehingga seseorang tidak dapat bergerak untuk sementara waktu. Sejumlah faktor diketahui berkaitan dengan meningkatnya risiko sleep paralysis, seperti insomnia, pola tidur tidak teratur, kerja shift, atau jet lag.

Gangguan kesehatan mental, seperti gangguan kecemasan, gangguan panik, hingga gangguan stres pascatrauma juga dapat menjadi pemicu. Selain itu, riwayat keluarga dengan kondisi serupa disebut dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalaminya.

3.     Kebiasaan Tidur Sehat Dapat Membantu Mencegah Sleep Paralysis

Para ahli menyarankan menjaga pola tidur yang teratur untuk membantu mengurangi risiko kelumpuhan tidur. Orang dewasa dianjurkan tidur sekitar tujuh hingga sembilan jam setiap hari dengan waktu tidur dan bangun yang konsisten. Aktivitas olahraga secara rutin juga dinilai bermanfaat, meskipun sebaiknya tidak dilakukan terlalu dekat dengan jam tidur.

Menghindari makanan berat, rokok, alkohol, serta minuman berkafein menjelang tidur juga dapat membantu meningkatkan kualitas istirahat. Selain itu, tidur terlentang disebut dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya sleep paralysis pada sebagian orang.

4.     Sleep Paralysis Berulang Sebaiknya Mendapatkan Penanganan Medis

Seseorang disarankan berkonsultasi dengan tenaga medis apabila sleep paralysis terjadi terlalu sering. Kondisi tersebut perlu diperhatikan terutama jika menimbulkan kecemasan berlebihan, rasa takut tidur, atau kelelahan akibat kualitas istirahat yang terganggu. Dokter biasanya akan memeriksa kemungkinan adanya gangguan lain yang mendasari, seperti insomnia atau gangguan stres pascatrauma.

Dalam beberapa kasus, pasien dapat dirujuk ke dokter spesialis gangguan tidur untuk mendapatkan pemeriksaan lanjutan. Penanganan tertentu, termasuk pemberian obat dengan dosis rendah, dapat dipertimbangkan guna membantu mengurangi frekuensi kelumpuhan tidur.

EDITOR: Hanny Suwindari